Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 Agustus 2026
A A
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Ilustrasi - Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di balik puluhan ribu apem yang disebar setiap tahun dalam puncak perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten, ada tangan-tangan perempuan yang terus berupaya menjaga agar warisan kuliner ini tidak lekang oleh waktu. 

Lebaran apem ala warga Jatinom Klaten

Beberapa hari sebelum puncak Sedekah Apem Ya Qowiyyu, dapur di rumah-rumah warga Jatinom, Klaten, sudah mulai sibuk membuat adonan apem. Ada yang memang untuk jualan, ada yang khusus disetorkan ke Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribig (P3KAG) untuk dijadikan sebagai gunungan. 

Iklan

Pada hari puncak, jalanan antara rumah-rumah warga Jatinom kemudian menjelma menjadi surga apem. Mayoritas ibu-ibu membuka stand-stand untuk jualan salah satu kuliner khas Klaten itu. Karena memang yang datang mengikuti Sedekah Apem Ya Qowiyyu tidak sedikit berasal dari Klaten: selain mengharap berkah dari prosesi sebaran apem ya qowiyyu, pengunjung juga ingin membeli apem khas Jatinom tersebut. 

Gunungan apem dalam Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten MOJOK.CO
Gunungan apem dalam Sedekah Apem Ya Qowiyyu di Jatinom, Klaten. (Aly Reza/Mojok.co)

Kata Suti, salah seorang penjual apem ya qowiyyu, pemandangan semacam itu selalu bisa dijumpai di Jatinom di setiap bulan Safar: bulan perayaan sedekah apem bagi warga setempat. 

“Istilahnya sedekahan apem ya qowiyyu. Bagi warga sini sudah seperti lebaran,” tutur perempuan menjelang kepala enam tersebut saat berbincang di warungnya, Jumat (31/7/2026) siang. 

Warga Jatinom Klaten kurang afdal kalau tidak bisa membuat apem

Suti sebenarnya bukan asli Jatinom, Klaten, melainkan dari Boyolali. Ia mulai banyak tinggal di Klaten sejak 1980-an untuk bekerja. Ia kemudian menikah dan menghabiskan masa hidupnya di Jatinom. 

Awalnya Suti tidak bisa membuat apem. Namun, karena mayoritas warga—terutama perempuan—punya keterampilan tersebut, lambat-laun Suti pun mencoba mempelajarinya. 

“Dulu belajarnya dari orang-orang tua. Bagi warga sini, rasanya kurang afdal kalau tidak bisa membuat apem,” ucap Suti. 

Karena memang, warga setempat menganggap apem bukan sekadar makanan. Tapi menjadi warisan bernilai tradisi dan spiritual. 

Suti (50), ibu-ibu di Jatinom, Klaten, yang masih membuat kue apem ya qowiyyu hingga sekarang MOJOK.CO
Suti (50), ibu-ibu di Jatinom, Klaten, yang masih membuat kue apem ya qowiyyu sebagai salah satu kuliner khas Klaten hingga sekarang. (Aly Reza/Mojok.co)

Sebab, jika ditilik dari sejarah tutur yang berkembang di tengah masyarakat Jatinom, apem ya qowiyyu berhubungan erat dengan dakwah Kiai Ageng Gribig yang dikenal sebagai sosok penyebar Islam di daerah tersebut. 

Dulu Kiai Ageng Gribig menggunakan apem sebagai medium untuk mengajarkan ibadah sosial: sedekah/berbagi kepada sesama. Adapun nama “ya qowiyyu” merujuk doa yang konon diucapkan Kiai Ageng Gribig saat membagi-bagikan apem kepada masyarakat di masa itu.

Kurang lebih: Yaa qowiyyu yaa aziz qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin. Yang artinya: Wahai Yang Maha Kuat dan Mulia berilah kekuatan kepada kami dan segenap umat Islam, wahai Yang Maha Kuat berilah rezeki kepada kami dan segenap orang Islam.

“Jadi membuat apem itu diwariskan turun-temurun karena niatnya nguri-uri tradisi. Berharap keberkahan juga karena kita terus membuat makanan yang dulu dibuat oleh ulama, berharap selalu diberi kekuatan hidup dan rezeki sama Gusti Allah,” beber Suti. 

Berkah spiritual, sosial, dan ekonomi

Suti sendiri pada akhirnya mulai ikut jualan apem sejak 2015. Bedanya dengan kebanyakan warga yang sudah mulai jualan untuk sehari-hari, Suti masih hanya jualan di bulan Safar saja. 

“Kalau dulu, orang itu baru membuat dan jualan apem waktu perayaan sedekah ya qowiyyu. Yang jualan untuk sehari-hari masih jarang. Sekarang justru yang jualan buat sehari-hari semakin banyak. di pinggir-pinggir jalan banyak,” kata Suti.

Hal itu, lanjut Suti, menunjukkan bahwa apem ya qowiyyu khas Jatinom, selain dipercaya memberi berkah secara spiritual juga memberi berkah ekonomi bagi warga. Karena dari jualan itu bisa menjadi nafkah keluarga. 

Sementara Suti memilih jualan hanya saat bulan Safar memang dengan tujuan merasakan vibes “lebaran apem” sebagaimana masa-masa dulu. Toh sehari-hari ekonomi keluarganya sudah ditopang dari hasil membuka warung bakso. 

Pembeli datang silih berganti di warung Suti MOJOK.CO
Pembeli datang silih berganti di warung Suti. (Aly Reza/Mojok.co)

“Jadi berkah sosial karena kalau menuju puncak perayaan seperti ini saya kasih pekerjaan ke kerabat buat ikut membuat apem, karena yang beli alhamdulillah masih banyak. Nanti dikasih upah,” imbuh Suti. 

Iklan

Sebelum berbincang dengan Suti, saya sempat berbincang dengan ibu-ibu pembuat apem di warung Bu Suti. Sepengakuannya, dalam dua hari terakhir menuju puncak acara, ibu-ibu pembuat apem itu bisa dibilang hampir 24 jam tidak berhenti. 

“Karena permintaan pasti banyak, Mas. Jadi ya seneng,” tuturnya. Sejak pagi, warung apem Bu Suti memang jadi jujukan banyak pembeli. Ada sekitar tiga perempuan yang bertugas membuat apem. Lalu dua orang perempuan bertugas melayani pembeli. 

Menjaga cita rasa asli agar tidak lekang oleh waktu

Dari tahun ke tahun, setiap perayaan Sedekah Apem Ya Qowiyyu, Suti mengaku bisa menjual 3-5 kuintal apem, saking larisnya. “Ada yang memang sudah langganan. Kalau menjelang puncak acara sudah tanya, ‘Sudah bikin apem belum?’,” akunya. 

Ada alasan kenapa apem milik Suti cukup membekas di pelanggan. Yang paling utama, Suti memang menjaga betul komposisi dasarnya sebagaimana dibuat oleh orang-orang tua zaman dulu. 

Apem ya qowiyyu di warung Suti MOJOK.CO
Kuliner khas Klaten apem ya qowiyyu di warung Suti. (Aly Reza/Mojok.co)

“Kalau cara orang dulu buat pengembang apem itu pakai tape. Tepungnya juga pakai tepung asli. Kalau sekarang kan ada yang pakai baking powder,” jelas Suti. 

Suti hati-hati betul dengan adonan apem buatannya. Sebab, ia ingin menjaga cita rasa asli apem sebagaimana buatan orang-orang tua zaman dulu. Ia berusaha menjaga teksturnya agar tidak terlalu padat atau bantat tapi juga tidak terlalu lembek. Pokoknya dibuat serba pas. 

Selain itu, Suti juga mencoba mengembangkan varian lain selain original, terutama varian yang diminati anak muda zaman sekarang seperti cokelat hingga pandan. 

Apem ya qowiyyu di warung Suti MOJOK.CO
Apem ya qowiyyu di warung Suti. (Aly Reza/Mojok.co)

“Apem itu warisan leluhur Jatinom, jadi harus terus diwariskan ke anak-anak. Anak saya juga tetap saya ajari, setidaknya bisa membuat apem, jadi masih ada penerus yang bisa membuat apem di Jatinom,” tutup Suti. Semakin siang, warungnya semakin ramai diserbu pembeli. 

Untuk varian rasa sendiri, banyak penjual apem di Jatinom yang memang menyadari pentingnya tetap kontekstual dengan perkembangan zaman. Saat saya menyusuri gang-gang di Jatinom, saya mendapati banyak warung menjual varian rasa-rasa: seperti keju, nangka, dan lain-lain. Tangan-tangan para pembuat apem di Jatinom itu memang berupaya menjaga warisan kuliner tradisional tersebut terus eksis sampai sekarang. ***(Adv)

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: apem jatinomapem klatenapem terenak klatenapem ya qowiyyujatinom klatenklatenkuliner khas klatenpilihan redaksiresep apem ya qowiyyuresep membuat apemsejarah apem ya qowiyyu
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.