Sudah jadi pandangan umum bahwa orang yang hidup tanpa utang dianggap punya kehidupan ideal. Bahkan, nggak jarang juga orang menyamakan antara orang yang nggak punya utang dengan financial freedom.
Tapi, apakah orang yang pendapatan dan pengeluaran hariannya sama-sama Rp10 ribu, tapi nggak punya utang bisa disebut financial freedom? Nggak juga.
Di sisi lain, apakah seorang seperti Raditya Dika yang jadi role model soal ketercapaian financial freedom nggak punya utang? Belum tentu, kan? Sebab, financial freedom adalah soal kendali penuh atas keuangan pribadinya.
Yang salah dari pandangan soal utang
Saya sebenarnya sepakat bahwa hidup tanpa utang itu kelihatannya menyenangkan. Tidak punya cicilan motor, rumah, atau perabotan. Rasanya melegakan, pendapatan tidak hilang begitu saja setiap akhir bulan karena bayar cicilan.
Tapi, ada yang salah ketika gagasan hidup tanpa utang bergeser dari perkara bertahan hidup, menjadi pelabelan secara moral. Misalnya orang yang tidak punya utang pasti mahir mengatur keuangan. Sementara itu orang yang punya banyak pinjaman pasti boros dan memaksakan gaya hidup.
Padahal, tidak semua dari mereka mahir mengatur keuangan. Bisa jadi dia hanya ingin hidup tanpa tantangan. Sebaliknya, mereka yang punya utang, karena punya urgensi yang mendesak. Untuk bayar obat, modal usaha, atau membayar cicilan motor untuk bekerja.
Poinnya, tidak semua orang punya kemewahan terhindar dari utang. Dan ada orang-orang punya pinjaman karena ingin mendapatkan kesempatan lebih besar.
Sebuah alat yang netral
Sebagai orang yang belajar ekonomi, saya mendapat pelajaran bahwa utang adalah alat yang netral. Ia bisa menjadi sarana memindahkan kemampuan ekonomi dari masa depan untuk kondisi sekarang yang sedang mendesak. Ia bisa bekerja sesuai orang yang menggunakannya.
Teori siklus hidup atau Life-Cycle Hypothesis dari ekonom Modigliani dan Richard Brumberg ngasih tahu bahwa sepanjang hidup, manusia selalu berusaha mengatur pengeluarannya.
Ada fase ketika penghasilan masih terbatas, padahal kebutuhannya banyak. Maka, pilihan untuk utang menjadi rasional. Pilihan ini adalah tindakan sadar karena mengetahui bahwa seseorang bisa lepas dari keterpurukan. Atau, bisa jadi membuka peluang pendapatan yang lebih besar di masa depan.
Gambaran itu terlihat dari pekerja yang mencicil kendaraan untuk bekerja. Terlihat juga dari pedagang yang mencari modal usaha. Sampai sini kita perlu sepakat bahwa tidak semua utang itu buruk.
Pertanyaannya, utang seperti apa yang baik dan tidak membebani?
Sebagai panduan, Hyman Minsky, seorang ekonom asal USA ngasih penjelasan soal perbedaan utang sehat dan yang buruk. Ia membaginya menjadi tiga level, yaitu hedge finance, speculative finance, dan Ponzi finance.
Dalam kondisi hedge, pendapatan rutinan masih cukup untuk membayar kebutuhan pokok dan membayar pinjaman. Seseorang bisa saja punya cicilan kendaraan, tapi gaji atau sumber pendapatan lainnya masih bisa memenuhi kehidupannya.
Dia juga bisa menyisihkan untuk dana darurat. Intinya, keuangan orang ini masih di bawah kendalinya.
Saat kondisi speculative, pendapatan seseorang cuma bisa untuk memenuhi kebutuhan harian. Dia terpaksa memangkas banyak kebutuhan untuk membayar utang. Bahkan dalam kondisi ini, seseorang bisa jadi sudah kesulitan membayar sehingga harus memperpanjang tenor, menjadwalkan ulang, atau membuka keran utang baru untuk menutupi yang lama.
Terakhir, saat kondisi ponzi. Pendapatan tidak cukup membayar utang, kesulitan memenuhi kebutuhan harian, lalu menjual aset. Bahkan bisa saja terjebak keran utang baru dengan nominal yang lebih besar.
Cara mendeteksi
Jadi, untuk mendeteksi utang itu berbahaya atau tidak, Minksy bilang seseorang bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri. Misalnya:
“Akan membayar cicilan dari pendapatan yang mana?”
Kalau kamu belum mampu menjawab, atau dalam pikiran berbunyi “pikir nanti”, utang tersebut akan memicu ledakan keuangan yang memperburuk keadaan.
Lalu, bagaimana caranya supaya nggak berakhir menjadi ledakan keuangan yang membuat seseorang dikejar-kejar debt collector?
Pertama, harus punya tujuan konkret. Buat aturan dengan cara memetakan, mana yang untuk kebutuhan mendesak, modal usaha demi naik kelas, atau membeli sesuatu yang manfaatnya bertahan lama?
Kedua, sumber pembayarannya harus jelas. Intinya kamu sudah punya perkiraan. Utang Rp100 juta dengan cicilan per bulan Rp5 juta, uangnya ngambil dari mana? Gaji pokok? Hasil usaha? Insentif freelance? Atau return investasi?
Ketiga, menghitung seluruh pengeluaran untuk hidup sebelum menentukan nominal pinjaman. Jadi, gajimu setiap bulan tetap bisa untuk kebutuhan sehari-hari, nggak numpak lewat aja karena habis buat cicilan.
Keempat, memahami struktur utang. Jangan hanya terpaku soal cicilannya yang kecil. Perhatikan juga soal lama tenor dan total yang akan kamu bayar setelah ditambah bunga.
Kelima, jangan pernah menggunakan utang baru apalagi layanan pinjol untuk menutup pinjaman lama. Perilaku seperti ini sama saja cuma memindahkan masalah ke situasi yang lebih sulit. Bisa jadi beban bunga yang kamu tanggung jauh lebih besar.
Utang itu harusnya membantu, bukan jadi masalah baru
Kehidupan tanpa pinjaman memang harus kita usahakan. Semakin sedikit kewajiban membayar pinjaman, semakin sedikit juga tekanan untuk diri sendiri.
Kita jadi punya ruang yang lebih luas untuk memetakan pemanfaatan dari pendapatan. Namun, bebas utang juga bukan indikator kesehatan keuangan.
Seperti yang saya bilang. Orang bisa jadi nggak punya pinjaman tapi tidak punya tabungan, tanpa dana darurat, dan bahkan terjebak pada ketakutan untuk meraih kesempatan.
Sebaliknya, orang bisa saja punya banyak cicilan tapi tetap dalam kondisi finansial yang stabil. Sebab, ia sudah membuat kalkulasi, punya urgensi, dan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Satu pesan penting dari bapak saya. Utang seharusnya membantu kita menghadapi masalah, bukan malah menjadi masalah baru yang menghantui kita setiap bulannya.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh dan analisis keuangan lainnya di rubrik CUAN.














