Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
10 Agustus 2026
A A
buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Ilustrasi siswa sekolah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) memberikan peringatan tegas kepada pemerintah terkait wacana perombakan dan penetapan ulang buku pelajaran dari jenjang SD hingga SMA. 

JPPI mewanti-wanti agar kebijakan ini tidak sekadar menjadi ajang pergantian buku besar-besaran yang selalu berulang setiap kali terjadi pergantian kekuasaan, sementara mutu pendidikan nasional dibiarkan jalan di tempat.

Iklan

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa akar permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini bukanlah ketiadaan buku cetak yang baru, melainkan kualitas pembelajaran yang masih sangat rendah. Ia mengkritik keras siklus berulang di mana pergantian kepemimpinan selalu diikuti dengan perombakan instrumen pendidikan.

“Kita seperti terjebak dalam tradisi: ganti menteri, ganti kurikulum; ganti presiden, ganti buku. Tetapi setelah berbagai buku baru dicetak dan anggaran besar dikeluarkan, kualitas pendidikan kita tetap menghadapi persoalan yang sama. Jangan sampai kita hanya sibuk mengganti buku, tetapi gagal memperbaiki pendidikan,” ungkap Ubaid dalam keterangan tertulisnya kepada Mojok, Senin (10/8/2026).

Bukan solusi utama pembenahan pendidikan

JPPI pada prinsipnya menyetujui bahwa buku ajar memang harus dievaluasi secara berkala. Evaluasi tersebut sangat penting untuk memastikan materi yang diajarkan tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, mudah dicerna peserta didik, inklusif, tidak bias, serta mampu memantik nalar kritis.

Kendati demikian, pemerintah diminta tidak membangun narasi seolah-olah persoalan kualitas pendidikan akan tuntas hanya dengan mendistribusikan buku pelajaran baru ke sekolah-sekolah.

“Buku baru tidak otomatis membuat pendidikan menjadi bermutu. Ia hanyalah salah satu instrumen pembelajaran,” paparnya. 

“Kalau kesejahteraan dan kualitas guru, budaya membaca, kemampuan literasi dan numerasi, ketimpangan fasilitas, serta proses belajar di kelas tidak diperbaiki, mengganti buku hanya akan mengganti benda, bukan mengubah kualitas pendidikan.”

Cegah pemborosan anggaran lewat audit

Lebih lanjut, JPPI menyoroti tingginya risiko pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jika evaluasi pemerintah langsung diterjemahkan menjadi pencetakan ulang jutaan eksemplar di seluruh Indonesia.

Sebelum mengambil keputusan final, Ubaid mendesak pemerintah untuk melakukan audit komprehensif terhadap banyak buku yang masih beredar saat ini. Audit ini bertujuan untuk memetakan secara presisi buku mana yang sudah tidak layak pakai, mana yang sekadar butuh direvisi sebagian kecilnya, dan mana yang masih sangat layak digunakan.

“Jangan semua persoalan buku dijawab dengan pengadaan buku baru. Kalau yang bermasalah hanya beberapa bagian, revisi bagian itu saja. Jangan kemudian seluruh buku diganti hanya karena pemerintahan berganti. Hal itu berpotensi menjadi pemborosan anggaran, bahkan bisa menggeser agenda luhur pendidikan menjadi sekadar proyek pengadaan semata,” tegasnya.

Tolak titipan politik dan bisnis di balik pengadaan buku pelajaran

JPPI juga mendesak agar kesinambungan kebijakan lintas pemerintahan tetap dijaga. Presiden dan menteri dipersilakan berganti, tetapi sistem dasar pendidikan tidak boleh selalu direset ulang dari angka nol demi mengejar sebuah legacy atau warisan politik.

Proses penyusunan materi harus dikembalikan pada esensinya: berbasis pada kebutuhan peserta didik dan bukti ilmiah. Perumusan ini mutlak harus melibatkan guru, ahli pedagogi, pakar perkembangan anak, kelompok pendidikan inklusif, hingga masyarakat sipil. 

Selain itu, buku baru harus melewati fase uji coba kelayakan di berbagai daerah untuk menguji efektivitasnya dalam meningkatkan literasi siswa, bukan sekadar melihat kecocokannya dengan kurikulum.

Iklan

Sebagai penutup, Ubaid menuntut transparansi penuh dari pemerintah terkait anggaran, penyusun, dan pihak percetakan yang akan dilibatkan.

“Kalau setiap lima tahun kita mengganti buku, tetapi kemampuan membaca, berhitung, dan bernalar anak tetap rendah, berarti yang bermasalah bukan sekadar bukunya, tetapi sistem pendidikannya. Jangan sampai pendidikan Indonesia kaya proyek, tetapi miskin prestasi,” pungkas Ubaid.

Penulis: Ahma Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2026 oleh

Tags: buku pelajaranbuku sekolahEvaluasi buku ajarGanti buku pelajaranjppiKualitas pendidikan Indonesiapendidikan indonesiaProyek buku sekolah
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak.MOJOK.CO
Kabar

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak

3 Juli 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Ragam

Overqualified tapi Underutilized, Generasi yang Disiapkan untuk Pekerjaan yang Tidak Ada

5 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

4 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.