Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai memproyeksikan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL di kawasan Bantul yang berdekatan dengan TPA Piyungan. Groundbreaking proyek tersebut ditargetkan berlangsung pada Desember 2026, sementara pengolahan sampahnya dimulai pada 2028.
Dalam program tersebut, Pemda DIY menargetkan pengolahan sampah hingga 1.000 ton sampah per hari menjadi listrik. Investasinya tak tanggung-tanggung, setidaknya butuh sekitar Rp3 triliun untuk merealisasikan rencana itu.
Sulap seribu ton sampah di DIY jadi energi listrik
Investasi pembangunan PSEL merupakan bagian dari program Danantara. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo mengatakan PSEL menjadi salah satu bagian dari strategi penanganan sampah DIY.
Kusno mencatat potensi timbulan sampah di DIY kini telah mendekati 2.000 ton per hari. Namun, tidak semua sampah bakal dikelola di PSEL. Dia menegaskan pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah tetap diperlukan untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke fasilitas akhir meski PSEL berjalan.
“Setelah dikelola melalui Tempat Pembuangan Sampah (TPS), bank sampah, dan lainnya, masih ada kurang lebih 1.000 ton per hari yang kemudian dikelola melalui PSEL,” jelas Kusno dikutip dari laman resmi Pemda DIY pada Selasa (11/8/2026).
Hasil pengolahan sampah tersebut nantinya diperkirakan menghasilkan listrik sekitar 18 hingga 20 megawatt untuk memasok kebutuhan sekitar 15 ribu rumah. Angka itu bergantung pada desain akhir.
Lebih dari itu, pembangunan PSEL, kata Kusno, dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja. Pada tahap konstruksi, proyek diperkirakan menyerap sekitar 500 sampai 1.000 orang dengan prioritas tenaga kerja lokal.
Sedangkan saat pengoperasian, fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 100 sampai 150 tenaga kerja.
Tiga daerah di DIY dukung PSEL
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan pasokan sampah menjadi kunci keberlanjutan operasional PSEL. Saat ini, Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul menjadi tiga daerah yang telah berkomitmen memasok sampah untuk fasilitas tersebut.
Dia berharap tiga daerah di atas dapat memproyeksikan total sekitar 1.099 ton per hari. Sementara itu, menurut Sri Sultan, Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunungkidul masih mampu menanggulangi pengolahan sampah secara mandiri.
“Jadi, tiga ini yang memerlukan partisipasi pihak lain untuk investasi,” ujar Sri Sultan di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta pada Selasa (11/8/2026).
“Untuk listrik, nanti investor bekerja sama dengan PLN,” lanjutnya.
Meski begitu, pemerintah daerah tak menutup peluang keterlibatan Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunungkidul. Mereka dapat berkontribusi sesuai kebutuhan pengelolaan sampah masing-masing.
PSEL dan manfaatnya untuk masyarakat sekitar
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan pembangunan PSEL tidak memerlukan pemindahan penduduk. Pemerintah Kabupaten Bantul juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, serta mendorong agar manfaat tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dapat diarahkan ke wilayah yang paling terdampak.
“Harapan kita tentu sebagai masyarakat Yogyakarta masalah sampah ini segera selesai. Tidak hanya selesai saja, bahkan menghasilkan output berupa listrik yang bermanfaat,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sleman Harda Koswara mengatakan, pemerintah daerah akan terus mengoptimalkan pengelolaan sampah yang masih dapat ditangani secara mandiri. Sedangkan sampah yang membutuhkan pengolahan lebih lanjut dapat diarahkan ke skema PSEL sesuai komitmen pasokan.
Punya komitmen yang sama, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan sistem pengelolaan sampah dari sumber tetap akan dipertahankan meski PSEL nantinya beroperasi.
Hasto mengungkapkan, saat ini, Kota Yogyakarta mengelola sekitar 300 ton sampah per hari. Sekitar 50 ton di antaranya telah dikurangi dari sumber, sisanya ditangani melalui berbagai unit pengolahan.
Hasto juga menekankan pentingnya menjaga mata pencaharian masyarakat yang selama ini terlibat dalam rantai pengelolaan sampah, termasuk sekitar 1.200 transporter yang mengangkut sampah dari rumah tangga menuju depo.
“Transporter ini harus terlibat nanti pada saat PSEL sudah jadi, transporter tidak hilang pekerjaan,” katanya.
Target pembangunan PSEL DIY: 2028 rampung
Sebagai langkah awal, Pemda DIY telah menyiapkan lahan seluas 5,7 hektare di Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul untuk mendukung PSEL dari Danantara. Lokasi itu berdekatan dengan TPA Piyungan yang telah berhenti beroperasi dan kini bakal disulap menjadi lahan baru yang berbeda dari area TPA Piyungan.
Director of Investments Danantara Investment Management (DIM), Fadli Rahman, memastikan pembangunan PSEL DIY tidak mengalami penundaan. Fadli yang juga Chief Executive Officer (CEO) Denera berujar, saat ini prosesnya memasuki tahap persiapan konstruksi, yakni kajian lingkungan, desain teknik, dan pematangan lahan.
Setelah persiapan matang, pembangunan fisik bakal direncanakan sejak Januari 2027 dan ditargetkan selesai pada akhir 2028.
“Target kita peletakan batu pertama (groundbreaking) di akhir tahun ini, yaitu Desember 2026. Sehingga pada kuartal III atau kuartal IV 2028 nanti sudah bisa mengolah sampah untuk kawasan Yogyakarta,” jelasnya.
Sementara itu, pemerintah daerah bakal memastikan komitmen pasokan, membangun infrastruktur pendukung sesuai kewenangan, mengoordinasikan perizinan, serta mendukung pengangkutan sampah dari kabupaten/kota menuju fasilitas pengolahan.
Melalui Kesepakatan Bersama yang telah ditandatangani, PSEL di kawasan Piyungan diharapkan menjadi salah satu titik penting dalam pembenahan tata kelola sampah DIY.
Dengan begitu, sampah tidak sekadar dipandang sebagai persoalan yang harus dipindahkan, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi energi, membuka lapangan kerja, dan menghadirkan manfaat kembali bagi masyarakat.
Sumber: Humas Pemda DIY
BACA JUGA: Geliat TPA Troketon: Berpacu dengan Waktu Menjinakkan Bau Sampah dan Air Lindi Jadi Tempat yang Ramah Lingkungan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














