MOJOK.CO – Ide usaha minyak jelantah ini saya dapat dari tante saya. Jika telaten dan konsisten, ternyata bisa menghadirkan untung jutaan per bulan.
Saya pertama kali tahu kalau minyak jelantah bisa menjadi ide usaha dari tante saya yang ada di Kendal. Tante saya memang bukan pengepulnya langsung. Dia hanya berkeliling, mengambil jatah dari rumah tangga, warung makan, dan rumah sakit, lalu membawa hasilnya untuk disetorkan lewat pengepul resmi yang dia kenal.
Pada dasarnya, usaha tante saya adalah menerima sedekah jelantah. Lalu, dia mengubah minyak jelantah tersebut menjadi uang. Setelah itu, tante saya memberikan uang tersebut kepada yayasan amal.
Dari ide usaha itu, saya akhirnya tahu, bahwa minyak jelantah ada pengepulnya. Bisnis ini juga punya ekosistem yang cukup menarik dan cukup cuan untuk saya observasi lebih lanjut.
Limbah yang punya nilai ekonomi
Minyak jelantah menyimpan citra sebagai limbah. Namun, ternyata, ia membawa nilai ekonomi. Tahukah kamu, minyak jelantah sudah menjelma jadi bagian dari ekonomi sirkular, yang mana limbahnya punya nilai tambah untuk diolah kembali oleh industri tertentu.
Sebagaimana logika ekonomi bahwa segala sesuatu yang punya permintaan akan melahirkan rantai pasok. Sehingga, menstimulasi sebuah sirkulasi ekonomi baru yang bisa dioptimalkan.
Mengapa bisnis pengepul minyak jelantah ini bisa menjadi ide usaha kamu? Mungkin ada dua alasan mendasar. Pertama karena ada kebutuhan untuk mengelola limbahnya. Kita semua tahu, jelantah yang dibuang sembarangan dapat menimbulkan risiko lingkungan.
Kedua, karena ada nilai ekonominya di hilir. Dalam kasus jelantah, nilai ekonominya semakin nyata karena ada pihak-pihak yang memanfaatkan used cooking oil (UCO) sebagai bahan baku dalam rantai industri tertentu. Sebut saja industri biodiesel (FAME), Renewable diesel/HVO (Hydrotreated Vegetable Oil), atau Industri oleokimia seperti sabun dan detergen.
Memahami bisnis minyak jelantah sebagai ide usaha
Untuk memahami gambaran dari ide usaha ini, saya kemudian mencari tahu alur distribusinya. Yaitu:
Lapisan pertama dari sisi hulu atau sumber jelantah. Sumbernya datang dari beberapa kalangan. Kalau melihat tante saya, dia mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga, warung makan, rumah sakit, dan industri besar lainnya. Rumah tangga punya volume yang lebih kecil, tapi jumlah pemberinya lebih banyak.
Warung makan lebih stabil karena punya jadwal setor. Sementara rumah sakit, biasanya punya cara mendekati yang lebih formal, kecuali kalau punya kenalan “orang dalam”.
Lapisan kedua, dari sisi pengepul lapangan atau collector. Pada lapisan ini, bisnis ini mulai kelihatan. Pengepul lapangan akan jadi penghubung antara sumber jelantah dengan pasarnya, mulai dari menjemput, menerima, mengumpulkan, mengemas, lalu memastikan volumenya sebelum disetorkan.
Pada tahap ini, tantangan ide usaha ini ada tiga. Yaitu, konsisten menjaga rute pengambilan, menjaga kepercayaan sumber, dan memastikan jelantah tidak terkontaminasi yang bisa merusak kualitasnya.
Lapisan ketiga ada aggregator atau mitra yang menerima. Pada tingkatan ini, setoran biasanya masuk melalui mitra dengan mekanisme yang lebih tertata.
Contohnya kita lihat pada Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga yang menerima setoran minyak jelantah dari masyarakat di beberapa titik dengan harga tertentu. Waktu itu, harganya kisaran Rp6.000/liter. Saat ini bisa jadi naik.
Lapisan keempat, hilirasasi jelantahnya. Pada tahap ini, jelantah masuk ke industri tertentu yang disesuaikan dengan pemanfaatannya.
Baca halaman selanjutnya: Dianggap limbah, tapi untungnya lumayan.














