Ketika sedang bercerita tentang nasib (sambat) pada orang lain (misalnya teman di tongkrongan), “Kamu masih mending” menjadi kalimat yang berhasil tiba-tiba merusak mood. Begitu kira-kira pengakuan sejumlah teman kepada saya.
Namun, sudut pandang berbeda justru diberikan oleh Rizqan (27). Baginya, pura-pura menjadi tolol saat teman tongkrongan sudah mulai bilang “Kamu masih mending” ternyata sangat menyenangkan, bukannya menyebalkan seperti yang dirasakan teman-teman saya yang lain.
Dari jengkel jadi pura-pura tolol di hadapan orang NPD, ternyata menyenangkan
Rizqan mengakui, semula ia amat jengkel ketika sedang bercerita tentang hal buruk yang baru ia alami, lalu si teman tongkrongan akan menyambar dengan kalimat “Kamu masih mending.”
Pasalnya, tujuan Rizqan bercerita sebenarnya ingin meluapkan keresahan, menunjukkan bahwa hal buruk yang ia alami itu valid. Kalau dapat nasihat-nasihat yang menenangkan ya bonus lah.
Namun, Rizqan merasa keresahan atau kesedihannya kemudian didiskreditkan saat si teman tongkrongan berbalik sambat terkesan tidak mau kalah. Seolah-olah apa yang Rizqan alami tidak seberapa, tidak lebih buruk dari hal buruk yang si teman tongkrongan alami.
“Saat itu, dalam perspektifku, apa yang kualami itu valid. Nggak ada urusannya sama mending atau nggak mending. Karena setiap orang punya struggle-nya masing-masing,” ungkap pemuda yang bekerja di Malang tersebut, Rabu (5/8/2026).
Namun, semakin bertambahnya usia, Rizqan kemudian mencoba menata kematangan emosionalnya. Dan akhirnya ketemulah formula “pura-pura tolol”.
“Jadi kalau udah keluar kalimat ‘Kamu masih mending’, ya sudah kesimpulanku nih orang memang NPD. Apa-apa harus dirinya yang kelihatan ‘lebih’, bahkan untuk sekadar nasib buruk saja dia penginnya kelihatan lebih buruk,” kata Rizqan.
Setelah si teman tongkrongan bilang “Kamu masih mending”, maka yang Rizqan lakukan akan terus memberi makan egonya: menyimak dan terus melempar “bahan bakar” (pertanyaan atau pernyataan yang seolah memvalidasi sambatan si teman). Kalau dirasa-rasakan, ternyata menyenangkan.
Pasalnya, setelah si teman berbalik sambat, maka seterusnya ia akan nerocos sambat. Tidak memberi ruang bagi Rizqan untuk melanjutkan ceritanya, hanya memberi Rizqan ruang untuk memvalidasi si teman.
Dan itu pun tidak hanya dalam konteks sambat. Saat Rizqan mencoba menceritakan pencapaian tertentu, si teman pun tidak mau kalah. Pokoknya harus dia yang pencapaiannya lebih bagus.
“Cara merespons orang NPD itu kalau kita bawa serius, jengkel. Nggak sehat buat kejiwaan. Jadi dibawa santai aja, pura-pura tolol aja. Lihat si NPD terus termakan bahan bakar yang kita kasih itu kayak lucu gitu,” ucap Rizqan disertai gelak tawa.
Teman tongkrongan bilang “Kamu masih mending” itu pengingat syukur, kenapa harus jengkel?
Selain itu, ketika niat sambat direspons menjadi ajang adu nasib, setelah Rizqan pikir-pikir ternyata bisa menjadi pengingat syukur.
Jika ternyata hal buruk yang Rizqan alami ternyata tidak lebih buruk dari yang si tongkrongan alami, berarti kan nasib Rizqan sebenarnya tidak buru-buruk amat. Benar-benar masih mending.
Maka dari itu, kenapa harus jengkel jika kalimat “Kamu masih mending” itu keluar. Justru saat kalimat itu keluar, Rizqan malah diingatkan kembali untuk bersyukur kepada Tuhan.
“Ya harus bersyukur lah. Karena melihat, ternyata ada loh yang ngakunya nasibnya nggak lebih baik dariku,” tutur Rizqan.
Anggap saja sebagai doa
Rizqan pun kemudian menganggapnya sebagai bentuk doa. Kalau disebut masih mending, secara tidak langsung kan mendoakan Rizqan agar nasibnya tidak lebih buruk.
Dengan cara pandang itu, Rizqan akhirnya tidak jengkel-jengkel amat ketika sedang cerita ke teman dan direspons dengan kalimat “Kamu masih mending.”
Dan kenyataannya memang demikian. Sering kali ketika sedang motoran di jalanan Malang, atau sekadar melihat konten-konten bertema sosial di media sosial, ia mendapati bahwa di luar sana ternyata masih banyak orang yang kondisinya jauh lebih buruk dari Rizqan.
“Artinya kata ‘mending’ itu memang riil. Jadi aku merasa diingatkan juga kalau aku ini masih beruntung, masih lebih baik. Dan itu harus jadi alasan buat bersyukur,” tutur Rizqan.
Bisa loh sekadar saling cerita tanpa membandingkan (adu nasib)
Meski begitu, bagi Rizqan, memang ada cara yang lebih enak jika sedang ingin saling sambat dengan sesama teman.
Di Malang, Rizqan punya seorang teman dekat dari masa kuliahnya dulu. Mereka memang bekerja di tempat berbeda. Tapi masih sesekali bertemu untuk nongkrong bareng.
Karena sudah menjalani kesibukan dan urusan hidup masing-masing, momen ketemu di tongkrongan (entah di kedai kopi atau sekadar di kursi Indomaret Point Coffee), tidak terelakkan menjadi momen saling sambat satu sama lain perihal struggle masing-masing.
“Tapi kami bisa sama-sama nyaman karena kami nggak saling membandingkan. Aku cerita soal kekesalanku pada target kerja, dia pun bercerita tentang kondisinya di kantor. Lalu kami saling bertukar insight. Obrolannya dua arah, nggak didominasi satu pihak. Kalau seperti itu tentu jauh lebih menyenangkan,” tutup Rizqan.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














