Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Mei 2026
A A
Punya teman kos NPD alias narsistik menguras energi dan memuakkan MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya teman kos NPD alias narsistik menguras energi dan memuakkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tinggal di kos bareng teman dengan kecenderungan NPD—atau gampangnya narsistik—benar-benar menguras energi karena ulahnya sangat mengganggu. Masalahnya, orang dengan kecenderungan tersebut sering kali tidak menyadari kalau ia adalah pusat masalah, karena sudah terlanjur merasa menjadi pusat semesta. 

***

Dalam Psikologi, Narcissistic Personality Disorder (NPD) masuk dalam kategori gangguan kepribadian. Yakni ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang berlebihan.

Ia merasa menjadi pusat semesta. Alhasil, apapun yang ia lakukan berorientasi pada keinginan untuk dipuji (haus pujian), kelewat sombong, merasa benar sendiri dan suka menyalahkan orang lain, serta sering kali mengabaikan peran orang lain. 

Sial betul bagi Alvita (26), perempuan asli Jawa Timur, karena terlambat menyadari bahwa teman kos saat masa kuliah dulu adalah orang dengan kecenderungan narsistik akut. Sudah terlanjur satu kos dan pada akhirnya hidupnya benar-benar sangat terganggu. 

Teman kos NPD alias narsistik, awalnya bikin respek tapi lama-lama bikin muak 

Pertemanan Alvita dengan seorang teman NDP terjadi sejak awal kuliah di Surabaya 2017 lalu. Karena merasa tidak ada yang aneh dari si teman, Alvita welcome saja saat si teman mengajak tinggal di kos bareng. Pikir Alvita, lumayan lah buat berhemat biaya sewa kos, karena bisa dibagi dua. 

Awalnya Alvita tidak punya kesan buruk dengan si teman. Ia mengenalnya sebagai mahasiswa pintar dan aktif. Selain itu, si teman juga merupakan orang yang gampang akrab dengan siapapun. Kepada sejumlah dosen pun ia akrab. 

“Awalnya memang seperti mahasiswa dengan karakter ambis aja. Tapi aku respek karena dia tipikal orang yang nggak peduli omongan orang lain. Pokoknya dia melakukan apa yang dia anggap benar dan dia suka,” ujar Alvita berbagi cerita, Selasa (5/5/2026). 

Lebih-lebih, tiap di kos maupun di warung kopi, temannya selalu punya banyak stok cerita. Terutama tentang kehebatan dan kelebihan dirinya. Misalnya, dalam konteks mata kuliah dan organisasi yang ia ikuti, amat sering teman kos NPD itu bilang:

“Kalau nggak ada aku, program ini/itu nggak akan jalan.”

“Nggak ada yang bisa mikir kreatif. Semua yang dipakai di organisasi itu berasal dari ideku.”

“Kelas nggak akan hidup kalau bukan aku yang mulai diskusi.”

“Tugasku paling bagus di mata dosen dibanding yang lain.” Dan sejenisnya.

Hal itu semakin membuat Alvita respek dan bahkan terinspirasi. Alvita sampai merasa “tertinggal”, sehingga membuatnya ingin berteman dekat dengannya agar bisa terus upgrade. Tetapi, lama-lama Alvita justru merasa muak. 

Iklan

Semua hanya tentang “aku”, enggan mendengar orang lain

Sebenarnya Alvita sempat merasa ganjil dengan temannya tersebut. Tapi ia menampik: jangan-jangan ia saja yang terlalu iri.  Namun, ia akhirnya sadar kalau teman kos itu sangat memenuhi kriteria NPD alias narsistik akut. 

“Semua yang keluar dari mulutnya hanya tentang dirinya, hanya tentang ‘aku’, ‘aku’, dan ‘aku’. Ia minta selalu didengar dan diapresiasi, tapi sukar begitu ke orang lain,” beber Alvita. 

Misalnya, kerap kali si teman kos NPD tersebut bercerita dengan mengagungkan dirinya sendiri. Harapannya adalah agar diapresiasi. Alvita tentu saja menunjukkan antusiasme dan sesekali melempar pujian. 

Lemparan pujian itu jelas membuat si teman kos dengan narsistik akut itu semakin berapi-api dalam bercerita. Masalahnya, si teman tidak pernah bisa menunjukkan sebaliknya. 

Ketika giliran Alvita yang bercerita tentang diri sendiri, si teman justru ogah-ogahan menyimak. Bahkan disambi main ponsel. Setelah Alvita merampungkan cerita, bukannya merespons cerita Alvita, si teman kos tersebut malah kembali nyerocos “keakuan” lagi. 

“Misalnya aku cerita membanggakan diriku. Responsnya, dia menunjukkan kalau dia lebih hebat. Kalau aku cerita sedih, dia merespons dengan seolah dirinya lah orang paling sedih, nggak ada yang boleh lebih sedih darinya,” beber Alvita.  Alhasil, obrolan selalu berlangsung satu arah, dan itu melelahkan sekaligus memuakkan.

Playing victim: tidak pernah merasa salah dan introspeksi

Puncak kemuakan Alvita tinggal satu kos dengan teman narsistik tersebut adalah ketika menyadari kalau temannya tersebut terlalu banyak drama. 

Gara-gara kecenderungan NPD, si teman kos Alvita memang punya banyak musuh di kelas. Terutama karena sering kali Alvita sering melempar kritik pedas terhadap teman sekelas di setiap momen presentasi. 

Di organisasi pun sama halnya. Teman kos Alvita itu punya kecenderungan menjelek-jelekkan teman satu organisasi di belakang. Lama-lama teman organisasinya, yang juga merupakan teman Alvita, merasa ada yang salah dengan orang itu. 

“Karena dia suka drama, selalu playing victim. Suka menyalahkan orang lain, tapi kalau dia disalahkan nggak terima. Merasa seolah-olah dia selalu dijelek-jelekkan. Dia itu nggak mau introspeksi,” kata Alvita. 

Termasuk dalam kehidupan di kos. Beberapa kali Alvita terlibat adu mulut dengan temannya tersebut. Misalnya gara-gara si teman tidak mau gantian merusakkan barang Alvita. 

Kegeraman Alvita malah membuat si teman merasa dizalimi alih-alih introspeksi. Narasi yang dibangun si teman: Alvita adalah teman yang perhitungan dengan teman sendiri. Alvita adalah orang yang suka membesar-besarkan masalah. “Bukan masalah besar gimana? Sepatu gunungku dipinjam, terus rusak. Siapa yang nggak marah?” Gerutu Alvita. 

Dan itu benar-benar menguras energi bagi Alvita. Sangat memuakkan juga. Kemuakan yang akhirnya membuat Alvita memutuskan untuk pindah kos dan berhenti berteman dengan orang tersebut. 

Kebusukan teman kos NPD alias narsistik: suka pamer agar ditanya, sengaja bikin orang lain insecure

Masih di Surabaya, cerita berbeda dituturkan oleh Didin (26), seorang pemuda yang saat ini menjadi pekerja swasta. Di Surabaya ia tinggal di sebuah kos yang salah satu penghuninya adalah temannya kuliah. Beda kamar, tapi tetanggaan. 

“Sejak kuliah sebenarnya udah banyak yang nggak suka karena dia narsistik. Aku pindah kos pas kerja itu nggak sengaja aja ternyata dia juga ngekos di situ,” ungkap Didin. 

Bertemu dalam kondisi masing-masing sudah bekerja, ternyata membuat si teman kos tersebut bertingkah lebih busuk—kalau kata Didin. 

Sejak awal tinggal di kos tersebut, Didin sudah “dikorek-korek” oleh si teman. Di antaranya dengan pertanyaan: kerja apa dan di mana hingga gaji yang Didin dapat perbulan. Didin menjawab apa adanya: kerja tidak sesuai passion, gaji pun hanya separuh UMR Surabaya. 

“Kalau aku sih alhamdulillah, kerjaku full WFK (work from kos). Gaji ikut Jakarta,” begitu tanggapan si teman kos, padahal Didin tidak bertanya balik. 

Tidak hanya itu, saking NPD-nya, si teman kos tersebut punya kebiasaan: kalau mengangkat telepon dari klien atau atasan, pasti persis di depan kamar Didin. Padahal bisa loh di dalam kamar sendiri. Itu pun dengan suara kenceng dan suara ponsel disetel loudspeaker. 

Jika Didin sedang di kamar, risih lah ia mendengarnya. Kalau Didin sedang duduk-duduk di kursi luar kamarnya, selepas si teman kos tersebut mengangkat telepon, ia pasti akan langsung bercerita tanpa diminta. 

“Wah, orang-orang di kantor Jakarta ini selalu butuh aku untuk ngurus projek. Pekan depan aku dikirim ke Lombok, meeting di sana,” misalnya seperti itu. 

“Yang paling menyebalkan adalah, ada satu momen dia bilang gini: ‘Kamu mau begini-begini aja ta? Kayaknya kamu harus keluar dari zona nyaman kalau mau gaji besar’. Jancok, udah ngerasa paling sukses aja orang narsis itu,” gerutu Didin. “Memang sengaja, dari zaman kuliah emang suka merendahkan dan bikin insecure orang lain.”

Tak suka ada yang lebih pintar atau sukses

Busuknya lagi, lanjut Didin, orang dengan tipikal NPD seperti teman kosnya tersebut tidak suka jika ada orang yang lebih pintar atau lebih sukses darinya. 

Misalnya, di kos Didin sering mendengar podcast berbasis intelektual dari beberapa tokoh. Didin menikmati karena mendapat insight baru. 

Ketika si teman kos NPD itu melihat, tiba-tiba saja berkomentar: mengajukan argumen yang berlawanan dengan tokoh yang Didin dengar. Bukan hanya argumen pembanding, tapi juga menyalah-nyalahkan argumen si tokoh dan terkesan memaksakan bahwa pandangannya lah yang benar. 

“Begitu juga waktu aku cerita, salah satu teman kuliah dulu ada yang kuliah S2 di Belanda dan dapat kerjaan di sana. Respons dia, ‘Halah, S2 Belanda nggak menjamin apapun secara intelektual. Kalau diadu denganku, berani aku.’ Jancok tenan, orang narsistik itu mikirnya sampai begitu ya,” tutup Didin. 

Sialnya, kos yang Didin tempati memang kos termurah yang ia dapat. Alhasil, hingga sekarang, ia harus betah-betahan tetanggaan dengan orang NPD akut tersebut. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: 4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa” hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: ciri orang npdgangguan kepribadiankoskos mahasiswanarsistiknpdteman kostipe teman kos
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa
Sehari-hari

4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok

6 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO
Urban

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa
Sekolahan

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ciri orang toxic yang harus di cut off. MOJOK.CO

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

29 April 2026
Muhammad Rizky Perwira Zain, lulusan termuda S2 UGM kantongi gelar S2 Kesehatan Masyarakat dan S1 Kedokteran sebelum usia 25 tahun

Cerita Lulusan Termuda S2 UGM, Berhasil Kantongi Gelar Sarjana Kedokteran dan Kesmas sebelum Usia 25 Tahun

1 Mei 2026
pekerja perempuan.MOJOK.CO

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Merintis Usaha Rumahan Tanpa Utang, Raup Omzet Puluhan Juta MOJOK.CO

Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

5 Mei 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.