Perlawanan warga Wonogiri dalam menolak wacana pembangunan pabrik semen di Pracimantoro memasuki babak baru. Kini, mereka mengadukan ancaman kerusakan karst Gunungsewu itu langsung ke markas UNESCO.
***
Perjuangan masyarakat untuk menyelamatkan kelestarian Karst Gunungsewu di Wonogiri kini menembus batas negara. Ketika suara penolakan di tingkat daerah dan nasional dirasa lambat mendapat tanggapan, Koalisi Selamatkan Karst Gunungsewu (KSKG) yang didukung penuh oleh Paguyuban Tali Jiwa, mengambil langkah taktis.
Mereka resmi membawa aduan ancaman kerusakan lingkungan ini ke markas besar UNESCO. Surat resmi dari perwakilan warga tersebut dinyatakan telah diterima pada 24 Mei 2026 lalu.
Langkah diplomasi ini menjadi babak baru dari rentetan panjang perlawanan warga terhadap rencana pembangunan pabrik semen di kawasan resapan air tersebut.
Dalam suratnya, KSKG mendesak UNESCO untuk mengirimkan tim peninjau independen langsung ke lokasi. Tujuannya, agar perwakilan dunia internasional bisa melihat sendiri ancaman nyata di lapangan.
Mereka juga meminta lembaga PBB itu untuk segera mengingatkan pemerintah Indonesia terkait komitmen konservasi, mengingat kawasan Gunungsewu menyandang status bergengsi sebagai UNESCO Global Geopark.
Bahkan, warga secara tegas mendorong evaluasi pencabutan status tersebut jika pemerintah tetap membiarkan alat berat merusak lingkungan di sana. Langkah ini membuahkan hasil. UNESCO memberikan respons positif dengan merencanakan audiensi bersama perwakilan warga di Jakarta.
Perwakilan Paguyuban Tali Jiwa, Suryanto Permen, menegaskan bahwa langkah pelaporan ini sama sekali tidak berarti warga anti terhadap kemajuan daerah.
“Perjuangan ini bukan untuk menghambat pembangunan,” ujar Suryanto dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu (30/5/2026) lalu.
“Kami ingin memastikan bahwa pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, kajian ilmiah, dan keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Apa yang rusak hari ini belum tentu bisa dipulihkan oleh generasi berikutnya,” imbuhnya.
Kehadiran pabrik semen berpotensi merusak karst Gunugsewu
Lantas, ancaman seperti apa yang membuat warga harus jauh-jauh meminta pertolongan lembaga dunia?
Pangkal masalahnya bermula saat pemerintah mengeluarkan izin operasi pertambangan pada 5 Juli 2024. Ada dua perusahaan besar yang mendapat lampu hijau untuk mengeksploitasi kawasan bukit kapur di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri.
Izin pertama diberikan kepada PT Anugerah Andalan Asia untuk membangun sebuah pabrik semen berkapasitas 4,5 juta ton per tahun. Pabrik raksasa ini akan mencaplok lahan seluas 123,32 hektar yang membentang di wilayah Desa Watangrejo, Suci, dan Sambiroto.
Di saat bersamaan, ancaman kedua datang dari PT Sewu Surya Sejati. Perusahaan ini mengantongi izin untuk menambang batu gamping sebanyak 4,2 juta ton setiap tahunnya. Area pengerukannya jauh lebih luas, yakni 186,13 hektar, yang akan menelan wilayah lima desa sekaligus: Watangrejo, Suci, Gambirmanis, Joho, dan Petirsari.
Keputusan pemerintah mengeluarkan izin di kawasan ekologis ini dinilai sangat janggal oleh para pakar. Ketua Umum Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI), Petrasa Wacana, menilai proyek tersebut merupakan ancaman langsung bagi bentang alam karst yang masih sangat asri.
“Saat ini, pindah ke Kecamatan Pracimantoro, di selatan Desa Watangrejo, banyak sekali gua, ponor dan mata air. Kehadiran pabrik semen di Karst Gunungsewu jadi ancaman kawasan karst,” tegas Petrasa.
Lebih dari itu, Petrasa juga membeberkan sebuah ironi besar dari sisi bisnis. Merujuk pada data resmi dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), produksi semen nasional saat ini nyatanya sedang dalam kondisi kelebihan pasokan (surplus). Sepanjang tahun 2020 hingga 2023, produksi semen berada di angka 62 hingga 65 juta ton per tahun. Angka tersebut bahkan melonjak tajam menjadi 85 juta ton pada tahun 2024.
Anehnya, kenaikan produksi besar-besaran itu berbanding terbalik dengan jumlah permintaan pasar yang justru anjlok ke angka 2,1 juta ton di tahun yang sama.
“Kalau melihat data produksi sudah selesai, kita tidak butuh pabrik semen baru itu. Dengan kondisi kelebihan pasokan seperti ini, apa urgensinya menambah pabrik semen baru? Justru dampak lingkungannya yang lebih besar daripada keuntungan ekonominya,” beber Petrasa.
Ia pun menyangsikan janji kesejahteraan yang kerap ditawarkan pihak perusahaan tambang kepada warga lokal.
“Belum pernah menemukan masyarakat di sekitar industri pertambangan jadi sejahtera,” imbuhnya.
Daya rusak dahsyat pada sumber mata air
Kekhawatiran warga dan para pakar ini sangat masuk akal jika kita melihat fungsi ekologis kawasan Pracimantoro. Karst Gunungsewu bukan sekadar tumpukan batu kapur mati. Di bawah permukaannya terdapat waduk alami raksasa. Rongga-rongga bukit karst ini bekerja layaknya spons yang menyerap air hujan, menyimpannya di jaringan gua bawah tanah, lalu mengalirkannya ke berbagai mata air.
Siklus inilah yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup jutaan warga di Wonogiri, Gunungkidul, dan Pacitan, baik untuk kebutuhan minum sehari-hari maupun mengairi lahan pertanian.
Perwakilan lembaga Lingkar Keadilan Ruang, Himawan Kurniadi, mengingatkan bahwa fungsi karst yang telanjur rusak akibat pengerukan tidak akan pernah bisa dipulihkan kembali. Kerusakan permanen ini dipastikan memicu krisis air bersih, hilangnya lahan tani, hingga matinya potensi pariwisata daerah.
“Ketersediaan semen surplus ya, daya rusak akibat itu baik sekarang atau ke depan (lebih besar), mending dibatalkan,” tegas Himawan.
Himawan juga turut menyoroti ingatan kolektif masyarakat Wonogiri. Pada tahun 2009 silam, warga di daerah Giriwoyo sudah membuktikan perlawanan mereka dengan menolak keras rencana pembangunan pabrik semen di wilayahnya.
“Pemberian izin ini seperti mengulang kesalahan masa lalu. Jika dulu masyarakat menolak, mengapa sekarang izin malah diberikan lagi di lokasi yang tak jauh dari sana?” tanyanya heran.
Kini, warga Pracimantoro menaruh harapan baru pada tekanan dari ranah internasional. Surat aduan yang telah berlabuh di meja UNESCO membuktikan bahwa perjuangan ini tidak main-main. Masyarakat sipil ingin pemerintah tersadar bahwa kawasan karst memiliki fungsi penyangga kehidupan yang tidak bisa ditukar dengan sekadar angka produksi semen tahunan.
Suryanto Permen kembali menegaskan optimisme dan napas panjang perjuangan warga Gunungsewu. Menurutnya, perjalanan memang masih panjang. Namun, dengan diterimanya surat oleh UNESCO dan adanya rencana audiensi merupakan langkah maju yang menunjukkan bahwa suara masyarakat didengar.
“Kami percaya bahwa perjuangan menjaga Karst Gunungsewu adalah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: ‘Tanpa Uang pun Kami Masih Bisa Makan dari Alam, tapi Pabrik Semen Bakal Menghancurkannya’ – Suara Warga Pracimantoro Wonogiri Tolak Pendirian Pabrik Semen atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














