Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras

Redaksi oleh Redaksi
10 Agustus 2026
A A
Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras MOJOK.CO

Ilustrasi Ibu Kimpul Mengingatkan Kita bahwa Ketahanan Pangan Bukan Hanya Urusan Beras. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Hari ini saya buat Dubai chewy cookie. Biasanya pakai marshmallow, tapi karena saya tidak punya, saya ganti kimpul. Jadi, kimpul chewy cookie.” 

Melalui akun @black.sheep8208 konten kreator asal Bantul ini selalu menyebut bahwa bahan baku utamanya tidak ada sehingga ia menggantinya dengan kimpul. 

Iklan

Di konten-kontennya, ia mengolah kimpul menjadi berbagai makanan. Ada dumpling, perkedel, camilan, sampai kimpul yang diperlakukan seperti mashed potato.

Kimpul sendiri meurpakan jenis tanaman umbi-umbian lokal dari keluarga talas-talasan (Araceae) yang sering disebut juga sebagai talas belitung. Umbi ini kaya akan karbohidrat kompleks, serat, dan bebas gluten, sehingga sering dijadikan sebagai alternatif pengganti nasi atau sumber pangan lokal.

Kreasinya membuat banyak orang penasaran. Sebagian bahkan baru mengetahui bahwa umbi bernama kimpul benar-benar ada dan dapat dimakan. Warganet kemudian menjulukinya dengan berbagai julukan, mulai dari Ibu Kimpul hingga “Duta Ketahanan Pangan”. Julukan itu mungkin terdengar berlebihan. 

Namun, ada sesuatu yang layak dipikirkan dari fenomena tersebut. Tanpa seminar, spanduk, maupun jargon program pemerintah, seorang kreator dari Bantul bernama asli Ibu Tin ini berhasil membuka mata masyarakat bahwa sumber pangan bukan hanya beras. 

Ibu Kimpul menyadarkan kembali tentang pentingnya ketahanan dan keragaman pangan lokal

Kampanye soal keragaman bahan pangan mungkin sudah banyak dilakukan, tapi kemunculan Ibu Kimpul ini jadi fenomena sendiri. Masyarakat seperti disadarkan kembali pangan altertnatif selain beras.

Tentu saja, kemunculan kimpul tidak lantas berarti kita semua harus berhenti makan nasi. Tidak semua orang memiliki akses terhadap kimpul. Tidak semua daerah cocok untuk menanamnya. Selera dan kebutuhan gizi setiap orang pun berbeda.

Menjadikan kimpul sebagai satu-satunya jawaban justru akan mengulang kesalahan yang sama ketika negara menjadikan beras sebagai ukuran utama ketahanan pangan.

Pesan terpenting dari fenomena tersebut bukanlah ajakan agar seluruh masyarakat Indonesia makan kimpul. Pesannya jauh lebih sederhana: makanlah apa yang tersedia dan dapat tumbuh dengan baik di sekitar kita.

Di satu wilayah, makanan itu mungkin kimpul. Di wilayah lain, masyarakat mempunyai jagung, singkong, sagu, sorgum, ubi jalar, pisang, atau sukun. Indonesia memiliki keragaman geografis, iklim, dan kebudayaan pangan. Karena itu, agak aneh apabila ketahanan pangan untuk seluruh wilayah selalu diukur menggunakan satu bahan makanan yang sama.

Ketahanan pangan terlalu lama disamakan dengan beras

Selama ini, pembicaraan tentang pangan hampir selalu berakhir pada beras. Pemerintah membicarakan luas sawah, jumlah produksi padi, harga gabah, cadangan beras, bantuan beras, dan perlu atau tidaknya membuka keran impor.

Beras memang penting. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengonsumsinya setiap hari. Akan tetapi, ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu komoditas membuat sistem pangan kita rapuh.

Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024 yang dikutip Badan Pangan Nasional, konsumsi beras di Indonesia mencapai sekitar 92 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut jauh meninggalkan singkong yang hanya 8,5 kilogram, ubi jalar 3,1 kilogram, kentang 2,5 kilogram, dan sagu 0,6 kilogram per kapita per tahun.

Iklan

Ketimpangan tersebut tidak muncul begitu saja. Selama puluhan tahun, beras bukan hanya dijadikan makanan pokok, tetapi juga ukuran kesejahteraan. Orang dianggap belum makan apabila belum menyentuh nasi. 

Sementara itu, jagung, singkong, sagu, dan umbi-umbian ditempatkan sebagai makanan darurat, makanan orang miskin, atau sekadar camilan pengganjal perut.

Cara pandang seperti itulah yang perlahan menyingkirkan pangan lokal dari meja makan. Bersamaan dengan itu, hilang pula pengetahuan tentang cara menanam, memilih, menyimpan, dan mengolahnya.

Kimpul dan pangan lokal bisa diolah jadi menu kekinian

Bu Tin melaliu akun TikTok dan Instagramnya tersebut melakukan satu hal yang sering gagal dilakukan kampanye pemerintah: membuat pangan lokal terlihat menarik.

Ia tidak meminta orang memakan kimpul hanya karena umbi tersebut merupakan warisan leluhur. Ia menunjukkan bahwa kimpul dapat diolah mengikuti selera masa kini. 

Pangan lokal tidak harus selalu disajikan dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu. Ia dapat bertemu dengan resep baru tanpa kehilangan identitas maupun manfaatnya.

Namun, popularitas di media sosial tidak otomatis membuat kimpul menjadi bagian dari sistem pangan yang kuat. Hari ini kimpul viral, tetapi beberapa minggu lagi perhatian publik dapat berpindah kepada bahan makanan lain.

Karena itu, pemerintah tidak cukup sekadar ikut mengunggah konten, memberikan penghargaan, atau menjadikan kimpul sebagai menu seremonial dalam acara resmi. Diversifikasi pangan membutuhkan dukungan yang jauh lebih serius.

Masyarakat memerlukan bibit, lahan, pengetahuan budidaya, panduan pengolahan yang aman, kepastian pasar, dan harga yang menguntungkan petani. Pelaku usaha juga membutuhkan dukungan agar pangan lokal dapat diolah, dikemas, dan dipasarkan tanpa membuat harganya justru lebih mahal daripada bahan pangan impor.

Jangan sampai masyarakat diminta mencintai pangan lokal, sementara petani yang menanamnya dibiarkan menghadapi pasar sendirian.

Pemerintah tak perlu mencetak sampah dan membuka hutan

Ketahanan pangan bukan sekadar kemampuan negara memenuhi gudang dengan beras. Ketahanan pangan adalah kemampuan masyarakat memperoleh makanan yang cukup, bergizi, terjangkau, dan sesuai dengan lingkungan tempat mereka hidup.

Karena itu, pelajaran dari kimpul sesungguhnya bukan tentang mengganti satu makanan pokok dengan makanan pokok lainnya. Kimpul mengajarkan bahwa setiap daerah perlu kembali mengenali kekayaan pangannya sendiri.

Kita tidak harus makan kimpul. Namun, kita perlu berhenti menganggap bahwa semua orang harus makan bahan pangan yang sama.

Sebab, ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari proyek raksasa, pencetakan sawah, atau pidato tentang swasembada. Kadang-kadang, ia bermula dari seseorang di Bantul yang masuk ke dapur, mengolah umbi yang tumbuh di sekitarnya, lalu mengingatkan kita bahwa makanan sebenarnya tidak pernah jauh dari rumah.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2026 oleh

Tags: kimpulpangan lokaltajuk
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO
Tajuk

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO
Tajuk

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO
Tajuk

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Tajuk

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

5 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.