Perkembangan teknologi yang semakin pesat seharusnya memberikan kemudahan bagi manusia, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa orang lanjut usia (lansia) tak semua siap digital. Boro-boro bisa cashless seperti QRIS, punya smartphone saja bagi mereka adalah kemewahan.
Tidak bisa beli roti karena QRIS di Stasiun Tugu Yogyakarta
Langkah Ade Kumala terhenti saat melewati deretan tenant makanan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Aroma harum dari sebuah roti langsung menguar saat dia lewat, bikin dia tergoda untuk membeli. Toh tidak ada salahnya menunggu untuk mengisi perut yang sedang keroncongan sebelum keberangkatan kereta.
Ade kemudian antre di belakang seorang bapak tua yang sedang menggandeng tangan seorang anak perempuan. Namun, belum lama sejak Ade mengantre, bapak tua itu tampak urung membeli roti untuk anak perempuan tersebut hingga berlalu melewati Ade.
Sementara Ade pun tak peduli dan melanjutkan pesanannya hingga rotinya jadi. Setelah berhasil membayar di kasir dan membalikkan badan, Ade agak kaget karena bapak tua dan anak perempuan tadi masih berdiri tak jauh dari toko roti.
Mereka tampak memperdebatkan sesuatu, yang bikin Ade terenyuh.
“Raiso mbayar Nduk, aku ki mung ndeso, ra nduwe QRIS opo kertu (nggak bisa bayarnya, Nak. Aku ini hanya orang desa. Nggak punya QRIS atau kartu pembayaran),” tutur Ade menirukan ucapan si bapak di depan toko roti.
Mendengar akhir penjelasan dari bapak tua tersebut, sang anak tampak kecewa tanpa berani membantah lagi. Ade yang tidak sengaja mendengar percakapan tersebut akhirnya menawarkan bantuan.
“Jadi aku tawarkan ke beliau, bagaimana kalau dia bayar aku cash. Sebagai gantinya, aku pakai QRIS milikku untuk membelikan roti mereka,” ujar Ade kepada Mojok, Selasa (4/8/2026).
Si bapak dan sang anak pun sepakat. Keduanya menerima tawaran Ade dengan sumringah bahkan tak henti-hentinya berterima kasih.
“Walaupun cuma aksi kecil, tapi bapaknya berterima kasih berkali-kali dan doain aku panjang banget,” ucap Ade.
Tidak bisa beli roti karena QRIS di Stasiun Solo
Tak hanya Ade, Zakki juga sempat melihat seorang bapak tua yang lagi mengantre di depan toko roti yang ada di Stasiun Solo Balapan, tapi tidak jadi beli karena kesulitan membayar.
“Di depan antrean saya ada bapak-bapak tua lagi kebingungan mau bayar, karena tokonya nggak bisa menerima cash,” ucap Zakki.
Melihat kesulitan bapak tersebut, Zakki memakluminya. Dia sendiri bahkan sengaja melarang ibunya untuk membuat M-Banking, E-Money, bahkan ATM. Bukan apa-apa, dia takut kalau ibunya menjadi korban penipuan mengingat usianya sudah lansia.
“Saya larang justru karena tahu saldo rekening beliau bisa sampai ratusan juta dan saya yakin banyak orang tua yang seperti ibu saya. Bukan karena mereka nggak bisa beli atau nggak mampu bayar, cuma memang gagap teknologi,” jelas Zakki.
Nggak paham QRIS karena gagap teknologi
Kejadian lansia tidak bisa membayar menggunakan QRIS tidak hanya dialami di stasiun. Ruwan pernah menjumpai sepasang suami istri yang sudah berumur dan tidak bisa membayar transportasi Suroboyo Bus, karena tidak memiliki smartphone.
“Jadi mereka nggak tahu kalau bayarnya harus cashless karena menurut pengalaman mereka kalau pakai damri masih bisa cash, sedangkan waktu dia naik Suroboyo Bus dan mau bayar pakai cash ke petugas kondektur, petugasnya nggak mau nerima. Dia cuma kasih penjelasan kalau nggak bisa bayar cash, tanpa memberikan solusi ke suami istri tersebut,” kata Ruwan.
Mendengar perdebatan tersebut, para penumpang justru pura-pura tidak melihat. Tak tega melihat lansia tersebut jika harus diturunkan di tengah jalan, Ruwan akhirnya menawarkan QRIS miliknya.
“Aku tawarkan, bayarnya pakai QRIS punyaku saja. Mereka sampai berkali-kali mengucapkan terima kasih, mulai dari di dalam bus sampai turun di Terminal Bungurasih Surabaya. Mereka doakan aku yang baik-baik, lama banget,” kata Ruwan.
Bank Indonesia: Pedagang tidak boleh menolak pembayaran tunai
Kasus penolakan pembayaran tunai pada lansia yang kerap terjadi membuat Bank Indonesia (BI) angkat suara. BI melarang penjual merchant atau toko menolak pembayaran tunai, termasuk bagi lansia atau kelompok yang belum terbiasa dengan pembayaran digital seperti QRIS.
Hal ini juga sudah diatur dalam Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, setiap orang dilarang menolak menerima rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.
“Kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah tersebut. Dengan ini, maka yang diatur adalah penggunaan mata uang Rupiah dalam transaksi di Indonesia,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dikutip dari Detik.com, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, cashless seperti QRIS dapat dipakai karena menawarkan kepraktisan dan menghindarkan masyarakat dari risiko uang palsu. Namun, dia mengingatkan bahwa Indonesia masih mengalami tantangan mengingat keragaman demografi serta geografisnya.
Oleh karena itu, uang tunai masih sangat diperlukan untuk dipakai dalam transaksi di berbagai wilayah. Bukan justru menyulitkan masyarakat.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














