Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Agustus 2026
A A
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

ilustrasi - Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena Nggak Tahu Cara Pakai QRIS. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perkembangan teknologi yang semakin pesat seharusnya memberikan kemudahan bagi manusia, tapi kita tidak bisa menutup mata bahwa tak semua lansia melek digital. Boro-boro bayar cashless dengan QRIS, punya smartphone saja bagi mereka adalah kemewahan. 

Tidak bisa beli roti karena QRIS di Stasiun Tugu Yogyakarta

Langkah Ade Kumala terhenti saat melewati deretan tenant makanan di Stasiun Tugu Yogyakarta. Aroma harum dari sebuah roti langsung menguar saat dia lewat, bikin dia tergoda untuk membeli. Toh tidak ada salahnya menunggu untuk mengisi perut yang sedang keroncongan sebelum keberangkatan kereta.

Iklan

Ade kemudian antre di belakang seorang bapak tua yang sedang menggandeng tangan seorang anak perempuan. Namun, belum lama sejak Ade mengantre, bapak tua itu tampak urung membeli roti untuk anak perempuan tersebut hingga berlalu melewati Ade.

Sementara Ade pun tak peduli dan melanjutkan pesanannya hingga rotinya jadi. Setelah berhasil membayar di kasir dan membalikkan badan, Ade agak kaget karena bapak tua dan anak perempuan tadi masih berdiri tak jauh dari toko roti.

Mereka tampak memperdebatkan sesuatu, yang bikin Ade terenyuh.

“Raiso mbayar Nduk, aku ki mung ndeso, ra nduwe QRIS opo kertu (nggak bisa bayarnya, Nak. Aku ini hanya orang desa. Nggak punya QRIS atau kartu pembayaran),” tutur Ade menirukan ucapan si bapak di depan toko roti.

Mendengar akhir penjelasan dari bapak tua tersebut, sang anak tampak kecewa tanpa berani membantah lagi. Ade yang tidak sengaja mendengar percakapan tersebut akhirnya menawarkan bantuan.

“Jadi aku tawarkan ke beliau, bagaimana kalau dia bayar aku cash. Sebagai gantinya, aku pakai QRIS milikku untuk membelikan roti mereka,” ujar Ade kepada Mojok, Selasa (4/8/2026).

Si bapak dan sang anak pun sepakat. Keduanya menerima tawaran Ade dengan sumringah bahkan tak henti-hentinya berterima kasih.

“Walaupun cuma aksi kecil, tapi bapaknya berterima kasih berkali-kali dan doain aku panjang banget,” ucap Ade.

Tidak bisa beli roti karena QRIS di Stasiun Solo 

Tak hanya Ade, Zakki juga sempat melihat seorang bapak tua yang lagi mengantre di depan toko roti yang ada di Stasiun Solo Balapan, tapi tidak jadi beli karena kesulitan membayar.
“Di depan antrean saya ada bapak-bapak tua lagi kebingungan mau bayar, karena tokonya nggak bisa menerima cash,” ucap Zakki.

Melihat kesulitan bapak tersebut, Zakki memakluminya. Dia sendiri bahkan sengaja melarang ibunya untuk membuat M-Banking, E-Money, bahkan ATM. Bukan apa-apa, dia takut kalau ibunya menjadi korban penipuan mengingat usianya sudah lansia.

“Saya larang justru karena tahu saldo rekening beliau bisa sampai ratusan juta dan saya yakin banyak orang tua yang seperti ibu saya. Bukan karena mereka nggak bisa beli atau nggak mampu bayar, cuma memang gagap teknologi,” jelas Zakki. 

Nggak paham QRIS karena gagap teknologi

Kejadian lansia tidak bisa membayar menggunakan QRIS tidak hanya terjadi di stasiun. Ruwan pernah menjumpai sepasang suami istri yang sudah berumur dan tidak bisa membayar transportasi Suroboyo Bus, karena tidak memiliki smartphone.

“Jadi mereka nggak tahu kalau bayarnya harus cashless karena menurut pengalaman mereka kalau pakai damri masih bisa cash, sedangkan waktu dia naik Suroboyo Bus dan mau bayar pakai cash ke petugas kondektur, petugasnya nggak mau nerima. Dia cuma kasih penjelasan kalau nggak bisa bayar cash, tanpa memberikan solusi ke suami istri tersebut,” kata Ruwan.

Mendengar perdebatan tersebut, para penumpang justru pura-pura tidak melihat. Tak tega melihat lansia tersebut jika harus diturunkan di tengah jalan, Ruwan akhirnya menawarkan QRIS miliknya.

“Aku tawarkan, bayarnya pakai QRIS punyaku saja. Mereka sampai berkali-kali mengucapkan terima kasih, mulai dari di dalam bus sampai turun di Terminal Bungurasih Surabaya. Mereka doakan aku yang baik-baik, lama banget,” kata Ruwan.

Bank Indonesia: Pedagang tidak boleh menolak pembayaran tunai

Kasus penolakan pembayaran tunai pada lansia yang kerap terjadi membuat Bank Indonesia (BI) angkat suara. BI melarang penjual merchant atau toko menolak pembayaran tunai, termasuk bagi lansia atau kelompok yang belum terbiasa dengan pembayaran digital seperti QRIS.

Iklan

Hal ini juga sudah diatur dalam Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, setiap orang dilarang menolak menerima rupiah sebagai alat pembayaran yang sah.

“Kecuali karena terdapat keraguan atas keaslian Rupiah tersebut. Dengan ini, maka yang diatur adalah penggunaan mata uang Rupiah dalam transaksi di Indonesia,” ucap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dikutip dari Detik.com, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, cashless seperti QRIS dapat dipakai karena menawarkan kepraktisan dan menghindarkan masyarakat dari risiko uang palsu. Namun, dia mengingatkan bahwa Indonesia masih mengalami tantangan mengingat keragaman demografi serta geografisnya.

Oleh karena itu, uang tunai masih sangat diperlukan untuk dipakai dalam transaksi di berbagai wilayah. Bukan justru menyulitkan masyarakat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: cashlessgaptekkelemahan QRISlansiapembayaran non-tunaiQRIStolak bayar cashtolak bayar tunai
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026
Usaha les komputer di Bogor. MOJOK.CO

Tak Hasilkan Banyak Cuan dari Buka Usaha Les Komputer, tapi Merasa Bermakna Bisa Ajarkan Gen Alpha yang Masih Gaptek

30 Juni 2026
AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
Era transaksi non-tunai/pembayaran digital seperti QRIS: uang tunai ditolak, bisa ciptakan kesenjangan sosial, hingga sanksi pidana ke pelaku usaha MOJOK.CO

Drama QRIS: Bayar Uang Tunai Masih Sah tapi Ditolak, Bisa bikin Kesenjangan Sosial hingga Sanksi Pidana ke Pelaku Usaha

26 Desember 2025
Derita Pakai QRIS: Minimal Order Gak Ngotak Bikin Sengsara MOJOK.CO

Pengalaman Buruk ketika Memakai QRIS: Jadi Boros karena Minimal Order yang Nggak Masuk Akal dari Pemilik Minimarket

11 November 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Merdeka ala Puskestan dan para petani Sukoharjo: perjuangan sejahtera dari sektor pertanian MOJOK.CO

Merdeka Ala Puskestan dan Petani Sukoharjo: Perjuangan Panjang agar Sejahtera dari Pertanian

18 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.