Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Mei 2026
A A
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

ilustrasi - in this economy. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

In this economy, logika ekonomi orang desa yang selama ini jarang dilirik, ternyata malah bisa menyelamatkan anak muda dari masalah finansial. Apa saja?

***

Belakangan ini, masalah keuangan seolah menjadi teman akrab bagi anak-anak muda di kota. Gaji yang cuma sekadar numpang lewat, tagihan paylater yang menumpuk, hingga stres karena ikut-ikutan investasi tapi berujung rugi.

Kita sering mengira bahwa melek finansial berarti harus pandai membaca grafik saham, atau paham istilah-istilah rumit di aplikasi keuangan. Akibatnya, kita melupakan satu fakta: orang-orang di desa sebenarnya sudah lama mempraktikkan ilmu ekonomi yang lebih tangguh dan masuk akal untuk menyelamatkan masa depan mereka.

FOMO investasi berujung rungkad

Mari kita lihat fenomena yang banyak dialami anak muda kota hari ini, salah satunya Dito (25). Ia adalah seorang pekerja di Jogja dengan gaji yang pas-pasan, mentok di UMR. Di tengah tekanan gaya hidup, Dito merasa FOMO melihat teman-temannya pamer keuntungan dari bermain koin kripto dan saham.

Niat Dito sebenarnya baik, ia ingin menyiapkan masa depan. Namun, ia “melanggar” rumus paling dasar dalam berinvestasi. Dalam ilmu perencanaan keuangan, investasi wajib menggunakan “uang dingin”, yaitu uang sisa yang benar-benar menganggur setelah kebutuhan pokok dan dana darurat terpenuhi. 

Minimal kalau investasi gagal, seseorang tak akan mengalami kerugian.

Selain itu, ada hukum pasti: keuntungan yang tinggi selalu berbarengan dengan risiko rugi yang tinggi pula.

“Jujur saja, melihat orang-orang di tongkrongan main saham, rasanya kepengen juga. Keren, dan kelihatannya aman-aman saja,” ujarnya, Senin (18/5/2026). 

Sialnya, Dito mengabaikan teori dasar itu. Didorong ego agar cepat kaya, ia nekat memakai “uang panas” alias uang untuk kebutuhan sehari-hari. Ia memasukkan semua uangnya ke sebuah koin yang sedang “viral” tanpa paham cara kerja pasarnya. 

Begitu harga koin itu anjlok, uang Dito menguap tak berbekas. Niatnya berinvestasi malah berubah menjadi judi yang menyengsarakan.

“Baru paham, investasi pakai uang panas itu sama dengan judi. Kalau gagal, ya rungkad.”

Orang desa berinvestasi pada hal-hal yang bisa “dikendalikan” dan nyata

Di sinilah logika ekonomi orang desa hadir sebagai antitesis. Hal ini, salah satunya, dibuktikan oleh Rega (26), seorang perantau yang gajinya kebetulan sama pas-pasannya dengan Dito. 

Bedanya, Rega tidak mau ikut-ikutan tren yang tidak ia pahami. Ia memilih meniru cara orang tuanya di desa.

Iklan

Setiap kali ada sisa uang gaji, Rega tidak menyetorkannya ke bursa saham. Uang itu ia kirim ke kampung untuk dibelikan anak kambing atau membiayai penanaman bibit pohon jati di kebun keluarganya.

“Prinsipku, kalau aku belum begitu memahami, aku belum mau nyebur. Teman-teman pada bilang, ‘sambil jalan nggak apa-apa’. Masalahnya kan ini soal uang, kalau gagal, ya repot,” jelasnya.

Apakah cara Rega tanpa risiko? Tentu tetap ada. Kambing bisa saja sakit. Cuaca tak menentu juga bisa bikin bibit jatinya mati. Namun, risiko ini sifatnya sangat minim dan bisa dikontrol secara fisik lewat perawatan. 

Berbeda dengan grafik kripto yang bisa hancur kapan saja karena cuitan satu orang miliarder di luar negeri. Harga hewan ternak atau kayu jati nyaris tidak pernah merosot tajam. Kebutuhannya selalu ada, dan harganya pasti naik perlahan, apalagi saat menjelang Idul Adha.

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, saya bisa mengafirmasi bahwa apa yang dilakukan Rega adalah hal yang sangat lumrah. Orang desa memang lebih suka berinvestasi pada sesuatu yang bisa dipegang, dilihat, dan dirawat secara nyata.

Mengubah uang tunai jadi sesuatu yang susah “dicairkan”

Selain urusan investasi, keunggulan logika orang desa juga terlihat jelas dari cara mereka menabung. Jika anak kota menabung uang tunai di rekening bank yang gampang terpakai untuk jajan karena tinggal gesek–atau via e-banking, orang desa punya cara yang unik. Mereka “mengunci” uang mereka.

Ketika musim panen tiba dan ada sisa uang, misalnya, orang desa jarang langsung menyimpannya. Uang itu langsung dibelikan pasir, batu bata, kayu, atau perhiasan emas. 

Material itu lalu ditumpuk begitu saja di pekarangan rumah selama bertahun-tahun sebagai “cicilan” untuk membangun rumah. 

Tanpa perlu kuliah ekonomi tinggi-tinggi, kebiasaan orang desa ini mengingatkan saya dengan gagasan Richard Thaler, seorang pemenang Nobel Ekonomi. Thaler punya konsep yang disebut mental accounting.

Menurut teori ini, otak manusia cenderung mengelompokkan uang berdasarkan wujudnya. Misalnya, saat uang masih berwujud lembaran seratus ribuan, otak kita menganggapnya sebagai uang bebas yang gampang dipakai untuk beli barang. Namun, begitu uang itu diubah menjadi tumpukan batu bata, seperti dilakukan orang desa, otak kita otomatis “menguncinya”.

Selain itu, mengubah uang menjadi material lain yang susah diuangkan secara langsung menciptakan hambatan psikologis. Karena disugesti dengan pikiran “saya sedang tak memegang uang”, ia sukses mengerem sifat boros manusia.

Belajar dari orang desa, melakukan produksi dasar secara mandiri

Hebatnya lagi, strategi bertahan hidup orang desa tidak berhenti di situ. Dari yang saya lihat sendiri di kampung halaman, terlihat betapa pintarnya mereka menekan pengeluaran uang tunai. 

Mislanya, mereka menanam sayur dan memelihara ayam sendiri, sehingga urusan perut selesai di pekarangan. Uang tunai benar-benar dijaga dan hanya dikeluarkan untuk kebutuhan krusial, seperti bayar listrik, biaya sekolah, atau aneka kebutuhan tersier.

Rega sendiri mengaku sudah menerapkan prinsip ini. Tentu saja bukan diterapkan mentah-mentah. Sangat tidak mungkin menyuruh anak muda yang hidup ngekos di kamar ukuran 3×3 meter untuk menanam cabai, apalagi beternak ayam. 

Namun, yang Rega contek adalah prinsip kemandiriannya.

“Yang aku lihat, anak muda di kota seringkali kehabisan uang karena terlalu bergantung pada jasa instan, pihak ketiga. Kayak lapar sedikit, pesan makanan lewat aplikasi. Pakaian kotor, laundry. Gaji mereka yang nggak seberapa, menguap begitu saja,” ujarnya.

Bagi dia, menerapkan logika orang desa di kota berarti mulai memangkas ketergantungan tersebut. Wujudnya, bisa mulai dengan memasak nasi sendiri, belanja bahan lauk ke tukang sayur atau pasar, menyeduh kopi sendiri, atau menyempatkan diri mencuci baju saat akhir pekan. 

Dengan melakukan “produksi dasar” secara mandiri ini, uang tunai bisa benar-benar diselamatkan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2026 oleh

Tags: cara selamat dari krisis ekonomiDesaEkonomiekonomi orang desagaya hidup orang desakriris finansialkrisis ekonomilogika ekonomi orang desaorang desapilihan redaksitips ekonomitips keuangan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Logika Ekonomi Orang Desa yang Bisa Menyelamatkan Anak Muda dari Masalah Finansial, Tapi Kerap Terlupakan

20 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.