Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Mei 2026
A A
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Ilustrasi - Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mulanya hanya jalan random mencari angkringan di sudut-sudut kampung di Sleman, Jogja. Lalu di sebuah angkringan yang penjualnya ibu-ibu berusia 55 tahun, empat orang pemuda justru mendapat nasihat spiritual perihal rezeki dan keuangan. 

***

Iklan

Selepas Magrib pada Minggu (10/5/2026), saya dan tiga teman dari Akademi Bahagia menyisir jalanan Ngaglik untuk mencari angkringan. Sudah lama kami tidak “nangkring” bersama karena terseret arus budaya nongkrong di coffee shop. 

Sejak sebelum berangkat, kami sudah membayangkan bakal menemukan angkringan dengan gorengan melimpah: jenis makanan yang selalu menggoda bagi kami. 

Sialnya, banyak titik angkringan yang tutup. Membuat motor kami melaju tanpa arah hingga melipir agak jauh ke Gejayan. 

Setelah nyaris putus asa dan putar balik, kami justru menemukan sebuah tenda biru dengan nyala lampu redup di sebuah jalanan kampung. Tanpa menunggu kesepakatan satu sama lain, kami langsung parkir untuk lekas memesan es teh dan menyantap beberapa potong gorengan yang tersisa. 

Ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang rindu Tanah Suci

Angkringan tersebut dijaga oleh ibu-ibu berusia 55 tahun. Usai berkenalan, kami memanggilnya Budhe Waluyo. 

Budhe Waluyo sebenarnya asli Bantul. Namun, sudah sejak tahun 95 ia pindah ke Sleman. Pada waktu itu, ia bekerja ikut orang, dari penjaga angkringan hingga warung bakso. 

“Tahun berapa ya saya lupa, saya dan suami kemudian membuat angkringan sendiri,” ujar Budhe Waluyo diiringi gemericik selokan kecil di bawah angkringannya. 

Budhe Waluyo (55), ibu-ibu penjual angkringan di salah satu sudut Jogja MOJOK.CO
Budhe Waluyo (55), ibu-ibu penjual angkringan di salah satu sudut Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Sang suami sudah meninggal. Alhasil, kini sehari-hari Budhe Waluyo menjaga angkringannya sendiri. Memasak dan menyiapkan menu angkringannya pun sendiri karena dua anaknya sudah tinggal terpisah dengan Budhe Waluyo. 

“Alhamdulillah, uangnya dikumpulkan, buat haji,” ucap Budhe Waluyo. 

Ternyata ibu-ibu penjual angkringan di Jogja tersebut sudah pernah sekali berangkat ke Tanah Suci. Seingatnya, kalau tidak di tahun 2018 ya di tahun 2019. Pokoknya, tidak lama setelah pulang dari Tanah Suci, dunia kemudian diterjang pandemi Covid-19. 

Pengalaman menunaikan haji tersebut ternyata memberi kesan membekas di batin Budhe Waluyo. Sepulang haji pada waktu itu hingga sekarang, ia merasa sangat merindukan Tanah Suci. Rasanya selalu ada dorongan agar ia kembali ke sana. 

Tidak pernah berpikir tabungan cukup/tidak cukup, nasihat halus dari penjual angkringan di Jogja

“Dulu nabungnya berapa lama, Budhe, sampai bisa berangkat haji?” Tanya salah satu dari kami.

Alih-alih membeberkan soal strategi mengelola pemasukan dari angkringan, jawaban ibu-ibu penjual angkringan di Jogja itu justru menyentil kami yang sama-sama tengah dalam anxiety menghadapi situasi ekonomi saat ini. 

Budhe Waluyo mengaku tidak memiliki sistem pengelolaan keuangan secara khusus. Pokoknya yang penting ada uang yang disisihkan. Dan uang tabungan tersebut nyaris tidak pernah ia hitung. 

“Dulu itu tiba-tiba muncul keinginan kuat untuk haji. Pas uang yang saya kumpulkan saya bawa buat daftar, ternyata cukup buat berangkat,” ujar Budhe Waluyo. 

“Prinsip hidup saya itu, Mas, kita ini manusia, lemah, nggak bisa bergantung pada diri sendiri. Bergantungnya kepada Allah Swt. Jadi saya nggak pernah ngitung uang: cukup atau tidak buat hidup, cukup atau tidak buat haji? Saya bisanya jualan angkringan, ya sudah urusan hidup saya cukup atau tidak, saya serahkan ke Allah,” sambungnya. 

Iklan

Cara Budhe Waluyo memandang pemasukannya bukan perkara sedikit atau banyak. Berapa pun akan ia syukuri sebagai rezeki dari Allah Swt. Dan rezeki Allah Swt itu tidak terbatas oleh hitungan angka manusia. Itu lah yang membuat Budhe Waluyo bisa berangkat haji. 

“Saya baru saja daftar haji lagi. Alhamdulillah uang yang saya kumpulkan cukup,” ujarnya. 

Jangan habiskan uang untuk diri sendiri

Kami tidak mendapat strategi pengelolaan keuangan secara pragmatis. Budhe Waluyo justru mengingatkan kami agar tidak menghabiskan uang yang kami miliki untuk diri sendiri. 

Dari dulu sampai sekarang, Budhe Waluyo punya kebiasaan menyisihkan uang untuk sedekah. Sering kali ke panti asuhan (anak-anak yatim-piatu), panti jompo, dan masjid. 

“Rezeki yang saya dapat itu kan ada hak kaum duafa juga di dalamnya. Jadi saya tidak pernah berhenti sedekah ke mereka,” ujar ibu-ibu penjual angkringan di Jogja itu. 

Selain itu, Budhe Waluyo percaya bahwa rezeki yang ia bagikan ke orang-orang membutuhkan justru akan kembali lagi ke dirinya sebagai rezeki-rezeki yang datang tanpa disangka. 

Allah Swt pun, dalam ajaran yang Budhe Waluyo yakini, sudah menegaskan bahwa orang-orang yang selalu bersyukur pasti akan diberi tambahan nikmat oleh Allah Swt. 

Dengan keyakinan-keyakinan itulah Budhe Waluyo hidup hingga saat ini. Dan ia justru tidak pernah merasa kekurangan. Justru mendapat limpahan rezeki tidak terduga yang membawanya akan berangkat haji untuk kedua kalinya. 

Melawan kemalasan ibadah malam

Kami berempat hanya bisa terdiam menyimak pitutur Budhe Waluyo. Satu dari kami hanya bisa nyeletuk, “Kita lupa kalau kita punya Tuhan. Kita termakan ego rasionalitas hingga meninggalkan kepasrahan.”

Beberapa saat sebelum kami pamit usai totalan harga, Budhe Waluyo kembali memberi wejangan: mumpung kami masih muda, harus melawan kemalasan untuk bangun ibadah malam. 

“Dari dulu sampai sekarang saya berusaha istikamah salat sunnah Tahajud di sepertiga malam,” tutur Budhe Waluyo. 

Dalam keyakinan ibu-ibu penjual angkringan di Jogja itu, salat sunnah Tahajud adalah momen di mana seorang hamba bisa sangat dekat dengan Allah Swt.

Bangun di sepertiga malam memang berat: ngantuk dan dingin. Namun, jika berhasil melawan kemalasan tersebut, kata Budhe Waluyo, insyaallah jalan rezeki akan terbuka. Dan rezeki itu bukan melulu soal uang dalam nominal besar, instan, dan nyata-nyata ada dalam tabungan. Tapi ada dan nyata dalam momen-momen yang dibutuhkan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Angkringan Penuh Cerita di Parangtritis Jogja: Tertipu, Kemalingan Gorengan, hingga Menolong LC Kelaparan dan Kucing-kucing Liar atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2026 oleh

Tags: angkringanangkringan jogjaangkringan slemanJogjanasihat keuanganpilihan redaksistrategi kelola uang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X memimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 RI di Gedung Agung.(MOJOK.CO)

Pesan Kemerdekaan Sri Sultan: Jogja Dibangun Tanpa Tergesa, tapi Juga Tidak Berhenti Melangkah

17 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.