Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

Redaksi oleh Redaksi
2 Februari 2026
A A
FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO

Ilustrasi FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

RAYUAN untuk berinvestasi datang pada orang-orang yang bahkan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan di akhir bulan saja ngos-ngosan. Jebakan melakukan investasi agar cepat kaya membuat banyak orang justru terjerat masalah keuangan.

Anjuran atau ajakan untuk berinvestasi sejak muda sebenarnya tidak sepenuhnya salah, tapi memungkinkan orang bertindak salah. Sebabnya, masih banyak orang yang tidak tahu cara mengatur keuangan. Ada posisi tangga yang harus dilalui seseorang sebelum memutuskan untuk menggunakan uangnya berinvestasi.

Ada ironi yang jarang disadari dalam hidup finansial banyak orang. Kita merasa sudah bekerja terlalu keras, padahal secara struktur hidup kita masih berada di fase paling dasar. Bukan karena bodoh. Bukan karena malas. Tapi karena sejak awal kita tidak pernah diajari membaca posisi.

Dalam berbagai diskusi soal keuangan, perjalanan finansial sering digambarkan sebagai tangga. Tangga pertama adalah hidup yang masih bergantung. Pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Gaji datang dan langsung habis. Akhir bulan selalu jadi momen cemas. Utang dipakai untuk menutup lubang yang dibuat utang sebelumnya. Di fase ini, tujuan hidup finansial bukan kaya, tapi gimana caranya akhir bulan bisa makan.

Namun, justru di titik ini, godaan berisi ajakan berinvestasi berseliweran di dunia digital. Datang membawa mimpi, modal kecil, pendapatan banyak. Data OJK hingga awal 2026 menunjukkan bahwa Gen Z kini mendominasi pasar aset berisiko dengan porsi investor kripto mencapai 51,8% di kelompok usia 18-24 tahun. Mereka masuk ke pasar bukan dengan “uang dingin”, melainkan dengan harapan instan untuk menambal lubang ekonomi.

Tangga berikutnya, di mana sebagian besar orang Indonesia mengalaminya, adalah hidup yang terlihat baik-baik saja. Kebutuhan hidup tercukupi dari penghasilan bulanan, tidak punya pinjaman, tetapi tidak punya jaring pengaman bernama dana darurat. Ibaratnya, hidup dijalani dari gaji ke gaji.

Di fase ini pula, bujukan agar berinvestasi kembali dijual sebagai solusi cepat. Bukan sebagai pilihan sadar, melainkan sebagai standar baru. Seolah hidup tanpa punya portofolio investasi adalah hidup yang kurang berani mengambil risiko. Padahal, dana darurat saja tidak punya. 

FOMO finansial dorong Gen Z nekat investasi modal pinjol

Riset akademis terbaru dalam Jurnal EKUITAS (2025) menyebutkan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) secara signifikan mendorong Gen Z untuk nekat menggunakan pinjol demi modal investasi. Mereka lebih takut dianggap tidak gaul secara finansial daripada takut pada bunga pinjaman yang mencekik.

Mereka hidup dalam kerentanan. Misalnya, tiba-tiba sakit, motor rusak, atau kehilangan pekerjaan tanpa pesangon. Kehidupan yang semula tampak baik-baik saja bisa kembali ke nol karena ketiadaan dana cadangan. 

Tidak adanya tabungan atau dana yang bisa digunakan cepat, maka pilihannya jatuh pada pinjaman online (pinjol). Data menunjukkan bahwa per Desember 2025, Gen Z menyumbang 42,3% dari total peminjam aktif di platform fintech lending. Investasi yang diharapkan menjadi sekoci penyelamat justru berubah menjadi jangkar yang menenggelamkan karena modalnya bersumber dari utang.

Masalahnya bukan pada konsep perencanaan keuangan itu sendiri. Masalahnya adalah pemaksaan narasi, seolah semua orang bisa menaiki tangga yang sama dalam waktu yang sama. 

Saat literasi keuangan hanya dipahami sebagai cara memilih saham atau kripto, bukan cara bagaimana agar di akhir bulan tidak cemas karena tabungan kosong, maka investasi tak lebih dari sekadar perjudian yang dilegalkan.

Untuk kita yang masih berjuang di tangga terbawah, ingatlah satu hal: investasi bukan digunakan sebagai dana darurat. Investasi adalah tangga berikutnya setelah kita punya jaring pengaman bernama dana darurat. 

Jangan biarkan FOMO finansial dalam bentuk rasa iri melihat tangkapan layar keuntungan orang lain di media sosial merusak logika finansial Anda. Menabung satu atau dua persen dari gaji sebagai dana cadangan jauh lebih heroik daripada pamer portofolio kripto atau saham, tapi dikejar-kejar penagih utang di akhir bulan. 

Iklan

Sadarilah bahwa investasi membutuhkan “uang dingin”. Uang yang jika hilang tidak membuat kita mikir, besok mau makan apa. 

Pemerintah jangan menjadikan kurangnya literasi keuangan masyarakat sebagai kambing hitam, ketika korban pinjol atau investasi bodong terus bertambah setiap harinya. 

Literasi sebanyak apa pun tidak akan berdaya kalau akses pinjaman ilegal begitu mudah menyusup ke gadget masyarakat. 

Pemerintah melalui OJK dan kementerian terkait harus lebih galak. Perlu ada regulasi yang memaksa platform investasi dan fintech untuk memiliki penyaring profil risiko yang lebih ketat, bukan sekadar mempermudah syarat pendaftaran demi mengejar kuota pengguna. 

Selain itu, penegakan hukum terhadap iklan-iklan investasi menyesatkan yang menjanjikan kaya instan harus dilakukan secara masif. Pemerintah punya tanggung jawab untuk memastikan bahwa sistem keuangan kita melindungi warga dari predator digital, bukan justru membiarkan warga bertarung sendirian.

Redaksi

BACA JUGA: Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Februari 2026 oleh

Tags: finansialfomoInvestasiinvestasi bodongtajuk
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pelari kalcer, fenomena olahraga lari
Urban

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO
Tajuk

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO
Kilas

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.