Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja

Muhamad Sofi Mubarok oleh Muhamad Sofi Mubarok
5 Agustus 2026
A A
Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja MOJOK.CO

Ilustrasi Ngenesnya Jadi Dosen di Rezim Formalistik: Ikut Menyusun Regulasi Negara, Malah Dianggap Tak Bekerja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dosen ternyata tidak cukup hanya mengajar, meneliti, mengabdi, atau ikut menyusun regulasi negara. Ia juga harus menguasai ilmu yang tidak diajarkan di bangku kuliah: mencocokkan pekerjaan dengan kolom-kolom sakti di aplikasi BKD

“Pak, tugas Bapak sebagai tim penyusun naskah akademik nggak bisa diklaim sebagai bukti kinerja dosen. Mau di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian, sampai Penunjang, tetap nggak bisa. Soalnya Bapak posisinya penyusun yang dibayar pakai dana kontraktual skema Penunjukan Langsung (PL),” ujar salah satu catatan tim asesor pada laman pelaporan BKD kampus dengan narasi tanpa dosa.

Iklan

Kalimat sakti itu bukan sekali dua kali mampir di beranda akun saya. Sebagai dosen yang sesekali nyambi jadi konsultan program bareng tim rongsok—sebutan untuk kami, kawan satu tongkrongan bareng, mendengar vonis macam begitu rasanya mirip diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya: getir dan miris.

Tiap akhir semester, ritual kolosal itu sudah seperti ritual sakral yang sarat prosedur. Kami, para dosen, wajib menyetor Laporan Beban Kinerja Dosen (BKD). Hukumnya fardu ain: minimal 12 SKS di seluruh aspek Tridharma Perguruan Tinggi; Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian. Kurang dari itu? Siap-siap dianggap gabut, walau nyatanya napas saja sudah hampir putus saking sibuknya.

Masalahnya, urusan memenuhi 12 SKS ini sering kali berubah jadi arena Hunger Games antadosen. Di kampus, jam mengajar itu ibarat arena Coliseum Romawi: menjadi lahan pertarungan sengit antardosen. 

Apalagi kalau jumlah mahasiswa baru lagi melorot, kelas berkurang, maka SKS mengajar pun makin langka. Dosen-dosen terpaksa ”adu otot” dan mendadak jadi pakar lobi-tentu dengan cara yang tetap elegan dan berpendidikan-demi memenuhi jatah minimal 9 SKS di bidang Pendidikan dan Penelitian.

Di tengah kelangkaan SKS itulah, niat saya menyumbang kepakaran untuk menyusun peraturan perundang-undangan di kementerian malah dianggap “angin lalu” oleh sistem BKD. Kontribusi nyata buat negara kalah telak sama aturan administratif penataan kertas.

Penyakit kronis yang harus dihadapi dosen bernama formalisme birokratis

Saya curiga, sebagian besar asesor, jika tidak menyebut lembaga perguruan tinggi, sedang mengidap alergi logika akibat terlalu lama terpapar penyakit bernama formalisme kronis. Aturan yang sebenarnya sederhana, kalau sudah masuk ke mesin penerjemah birokrasi kampus, mendadak berubah jadi monster yang membingungkan.

Coba deh agan-agan tengok Buku Panduan BKD. Di sana tertulis terang benderang, pakai cetak tebal kalau perlu, bahwa tugas menguji skripsi, membimbing tesis, sampai menguji komprehensif itu adalah bagian sah dari kinerja Pendidikan.

Faktanya, di lapangan, logika itu mendadak menguap. Alasannya loetjoe: karena kegiatan-kegiatan itu ada honorarium tambahannya (sesuai Standar Biaya Masukan/SBM Permenkeu), maka kegiatan tersebut ditolak masuk klaim BKD! 

Asesor ketakutan setengah mati. Katanya, kalau dilaporkan, nanti bisa jadi temuan.

Logika ajaib dong, ya ‘kan? Hanya karena seorang dosen dapat honor sah dari negara atas kerja kerasnya membimbing mahasiswa, lalu substansi kerja pendidikannya dianggap tidak ada?

Lucunya lagi, standar ganda ini dipelihara dengan apik. Ketika dosen diundang jadi narasumber seminar di kementerian—yang jelas-jelas ada uang transport dan honornya—kegiatan itu ajaibnya boleh diklaim sebagai Pengabdian Masyarakat. 

Bisa juga Penunjang, bergantung agan-agan asesor menafsirkan posisinya di mana. Lha, yang satu dianggap “haram” dan teranulir, yang satu lagi malah “halal”? Konsistensinya di mana, wak?

Kontribusi ke negara bisa kalah dengan khutbah Jumat

Bayangkan, kontribusi nyata menyusun regulasi negara bisa kalah sakti dibanding mengisi khutbah Jumat, hanya gara-gara yang kedua punya lembaran SK berstempel resmi!

Belum lagi soal tragedi “kemarau SKS” yang saya yakin juga bikin cenat-cenut kepala sebagian besar dosen di Indonesia. Kami ini sering kekurangan SKS mengajar, dan ironisnya, kampus seperti adem ayem mendiamkan masalah ini bertahun-tahun. 

Mosok bikin sistem terintegrasi antarprodi atau fakultas saja ndak kepikiran? Harusnya ’kan bisa dengan mudah memetakan: dosen mana yang masih “lapar” SKS dan mana yang sudah mulai mual-mual akibat overdosis SKS.

Karena sistem ideal itu cuma ada di halusinasi, dosen seperti kami, tim rongsok yang masih seneng nongkrong dan wara-wiri di tempat lain sih masih mending. Lha, prihatin betul sama dosen yang murni cuma mengajar: kagak punya jabatan di kampus, bukan elit ormas, apalagi punya koneksi lintas lembaga. 

Iklan

Mau gerilya cari tambahan SKS ke mana coba? Sudah SKS-nya kurang di bidang Pendidikan, masih dipaksa gerilya nguplek-nguplek jurusan lain demi mengemis tambahan kelas. Kalau soal mengajar mata kuliah yang bukan bidang sih sudah bukan lagi jadi mitos. 

Baca halaman selanjutnya

Maklumi saja kalau ada dosen mengoleksi sertifikat, itu adalah bentuk pertahanan diri

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 5 Agustus 2026 oleh

Tags: DosenKampusnegaraPendidikan
Muhamad Sofi Mubarok

Muhamad Sofi Mubarok

Artikel Terkait

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru MOJOK.CO

Disuruh Pindah Negara, Saya Googling Cara Jadi Warga Selandia Baru

29 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.