Maklumi saja kalau ada dosen mengoleksi sertifikat, itu adalah bentuk pertahanan diri
Belum lagi kalau “hari penghakiman” BKD tiba, kami harus menjelma jadi arkeolog yang membongkar arsip-arsip lama cuma buat menyelamatkan muka di hadapan sistem.
Cerita lucu juga datang dari kawan doktor muda ciamik yang ketemunya sesekali mirip reuni SMA Angkatan 2000-an karena aktivitas di luar yang bejibun. Waktu tulisan ini saya mintakan komentar, blio bercerita semester lalu diundang jadi penguji disertasi di almamater lamanya, layanannya jempolan: dua hari pascaujian honor sudah masuk, laporan BKD pun diterima mirip jalan tol bebas hambatan.
Giliran tugas menguji di kampus sendiri? Cairnya bak nunggu hilal, dan pas dilaporkan ke BKD malah kena penggal. Menyerahkan kepakaran ke luar dihargai tinggi, mengabdi di rumah sendiri malah kena apes beruntun.
Makanya, kalau menjelang “musim panen” BKD tiba-tiba beredar melimpah sertifikat seminar atau kegiatan yang terkesan “maksa”, ya harap dimaklumi saja. Itu bukan karena para dosen mendadak hobi mengoleksi kertas berstempel, melainkan cuma bentuk pertahanan diri agar selamat dari hakim digital yang cuma butuh stempel.
Kerja dosen ibarat beban unta, penghargaan beban kapas
Yang bikin geleng-geleng kepala, sistem ini tak berhenti di situ. Bagi dosen-dosen “spesialis” yang harus mengajar melebihi batas kepatutan (misalnya lebih dari 16 SKS karena kampusnya krisis pengajar di bidang tersebut), jangan harap SKS lebihnya itu dikonversi jadi rupiah.
Honor kelebihannya amblas, alias dianggap bakti sosial. Memang sih, tidak semua kampus begitu.
Sistem BKD mengunci batas maksimal kinerja Pendidikan di angka 12 SKS. Jadi, mau kamu ngos-ngosan mengajar sampai suara habis di 20 SKS karena kampus kekurangan orang, yang diakui dan dihargai tetap cuma 12.
Sisanya? Anggap saja amal jariyah untuk kelangsungan hidup kampus.
Tapi saya bukan tipikal abege labil yang begitu diputusin pacar lantas majang status WhatsApp dan bilang ke semesta kalo semua cewek sama.
Banyak kok kampus yang memberikan remunerasi atas tugas-tugas dosen yang melebihi beban kinerja selama masih dalam angka kepatutan. Fakta lho ya, dan ini patut diacungi dua jempol!
Energi mencerdaskan bangsa yang ludes karena mengurus berkas
Pada akhirnya, dosen hari ini tidak betul-betul dituntut untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kami lebih mirip juru ketik yang dituntut lihai mengumpulkan bukti fisik, stempel, dan kuitansi.
Sudah menjadi rahasia umum pula jika energi kami habis untuk mengunduh data dari satu sistem untuk kemudian kami unggah kembali ke dalam sistem yang lain, serta terjebak dalam siklus prosedural yang tiada akhir. Semakin pandai kamu mencocok-cocokkan kertas dengan sistem aplikasi, semakin kamu dianggap “berkinerja”.
Kalau sudah begini, jangan kaget kalau ilmu pengetahuan kita jalan di tempat. Wong energi dosennya sudah habis duluan buat bertarung melawan sistem administrasi yang makin hari makin bikin mengelus dada.
Husht, tapi jangan berpikiran buruk dulu. Niat di balik LBKD ini mungkin tak sejahanam itu. Ini cuma wujud kegagapan berkeadaban kita dalam menerjemahkan sebuah peraturan. Sebuah kegagapan massal yang bikin energi untuk mencerdaskan bangsa malah ludes diecer untuk mengurus berkas.
Fal-yata’ammal!
Penulis: Muhammad Sofi Mubarok
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.
















