Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
23 April 2026
A A
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

ilustrasi - eks guru CLC di Malaysia menyesal pulang ke Indonesia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jadi guru di Indonesia rasanya menyakitkan, begitu kata Vhyta, seorang WNI sekaligus eks guru Community Learning Center (CLC) yang pernah mengajar anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di wilayah perkebunan sawit Sabah dan Sarawak, Malaysia. Khususnya mereka yang duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

***

Setelah lulus Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar tahun 2015, Vhyta punya motivasi besar untuk mendidik murid Indonesia di luar negeri lewat program CLC yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Sambil mempersiapkan pendaftaran, Vhyta tetap mengabdi untuk mengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang juga merupakan program dari Kemendikbud. Menurutnya, jadi guru bakti kala itu adalah prestasi mewah walaupun gajinya hanya sekitar Rp2 juta.

“Ketika lulus program Pendidikan Profesi Guru (PPG), rasanya hadiah itu sangat ‘wah’ pada era itu. Akhirnya aku bisa ikut Guru Garis Depan (GGD) alias ‘PNS-nya eks program 3T’ tapi sayangnya program ini sudah dihapus,” kata Vhyta.

Vhyta yang ingin melanjutkan mimpinya tapi tetap realistis dengan mencari gaji yang lebih tinggi, akhirnya mantap mendaftar sebagai guru CLC dengan batas waktu tinggal di Malaysia. Namun, setelah menyelesaikan tugasnya dan pulang ke Indonesia, Vhyta harus menerima realita pahit.

Realita pahit eks guru CLC pulang ke tanah air

Setibanya di tanah air, Vhyta baru menyadari bahwa eks guru CLC tidak bisa menuntut haknya sebagai guru PNS atau PPPK. Semuanya harus mulai dari 0. Ia pun kesulitan mencari kerja sebagai guru. Vhyta mengaku sudah melamar sana-sini, tapi tak ada yang mau menerima.

“Setahuku, kalau eks guru CLC yang pernah ditempatkan di daerah bagus (minimal sinyal kuat), pulang ke Indonesia mereka masih bisa daftar jadi PNS di Kementerian Agama atau sejenisnya. Nah yang daerahnya susah sinyal seperti aku, itu tadi, harus mulai lagi dari 0. Dan itu bikin aku nyesek parah,” tutur Vhyta.

Hal itu juga dikonfirmasi oleh Ainul selaku guru CLC di Malaysia. Oleh karena itu, guna menghindari kesialan serupa, Ainul memutuskan lanjut kuliah sampai S3. Dengan begitu, Ainul berharap kemampuannya bisa dihargai jika waktu kepulangannya ke tanah air tiba.

“Aku harap gelarku nanti bisa memperbesar peluangku untuk antisipasi ketika balik ke Indonesia,” kata Ainul.

Gaji 2 digit tapi kondisi sekolah miris

Ainul mengaku, walaupun gajinya terbilang besar saat menjadi guru CLC di Malaysia tapi kondisi sekolah di sana tetap mengkhawatirkan. Saat pertama kali ditempatkan di salah satu daerah terpencil pada tahun 2019, sinyal internet di sana hampir tidak ada. Jumlah pengajarnya pun terbatas.

“Jadi ada 1 kelas TK, 6 kelas untuk siswa SD, dan 3 kelas untuk SMP sedangkan gurunya cuma 3 orang. Jadi semacam nggak ada waktu untuk istirahat. Bahkan kami bisa mengajar banyak kelas di waktu yang bersamaan,” kata Ainul.

Dari segi fasilitas, sarana prasarana di CLC, kata Ainul, juga kurang. Serta, ruang belajarnya sempit karena memang sekolah darurat yang baru dirintis untuk anak-anak PMI. 

Ainul juga harus menguasai banyak materi. Apalagi, untuk siswa SMP yang mata pelajarannya lebih dalam. Sebagai guru CLC yang punya dasar keilmuan soal sejarah, Ainul harus mengajar Matematika, Bahasa Inggris, praktik tari, pramuka, sampai berkebun.

Iklan

“Rasanya kaget sekali dengan rutinitas tersebut. Pagi sampai sore kita mengajar, malamnya kami juga harus belajar,” ucap Ainul.

Tapi dari itu semua, ada satu hal yang paling menantang menurut Ainul. Yakni ketika sekolahnya kedatangan siswa inklusi sementara belum ada guru yang berpengalaman soal itu. Namun, para guru CLC tak mungkin menolaknya mengingat anak tersebut punya semangat belajar yang tinggi. 

“Alhasil, aku juga harus belajar tentang psikologis anak terutama mereka yang hiperaktif. Terus harus sabar mengajari mereka supaya mengenal huruf,” ujar Ainul.

Meski menjumpai banyak tantangan, Ainul tak pernah ada keinginan untuk mundur. Ia memilih lanjut sebagai guru CLC. Ia pun mengembangkan diri dengan kuliah S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Lalu, lanjut S3 di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

“Memang sulit awal-awalnya. Susah betul tapi lama-kelamaan juga bisa,” ucapnya.

Intinya, kata Ainul, guru CLC harus multifungsi, multiguna, multibisa, serta tenaga yang tak terbatas. Namun, Ainul tetap merasa bersyukur.

“Kami jadi tahu banyak hal dan setelah dipikir-pikir, ‘oh ternyata aku sanggup ya, aku bisa saya’,” kata Ainul. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: gaji guruguru CLCguru luar negerikerja di luar negerimalaysiasabah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO
Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO
Urban

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO
Sehari-hari

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.