Jadi guru di Indonesia rasanya menyakitkan, begitu kata Vhyta, seorang WNI sekaligus eks guru Community Learning Center (CLC) yang pernah mengajar anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di wilayah perkebunan sawit Sabah dan Sarawak, Malaysia. Khususnya mereka yang duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
***
Setelah lulus Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar tahun 2015, Vhyta punya motivasi besar untuk mendidik murid Indonesia di luar negeri lewat program CLC yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Sambil mempersiapkan pendaftaran, Vhyta tetap mengabdi untuk mengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang juga merupakan program dari Kemendikbud. Menurutnya, jadi guru bakti kala itu adalah prestasi mewah walaupun gajinya hanya sekitar Rp2 juta.
“Ketika lulus program Pendidikan Profesi Guru (PPG), rasanya hadiah itu sangat ‘wah’ pada era itu. Akhirnya aku bisa ikut Guru Garis Depan (GGD) alias ‘PNS-nya eks program 3T’ tapi sayangnya program ini sudah dihapus,” kata Vhyta.
Vhyta yang ingin melanjutkan mimpinya tapi tetap realistis dengan mencari gaji yang lebih tinggi, akhirnya mantap mendaftar sebagai guru CLC dengan batas waktu tinggal di Malaysia. Namun, setelah menyelesaikan tugasnya dan pulang ke Indonesia, Vhyta harus menerima realita pahit.
Realita pahit eks guru CLC pulang ke tanah air
Setibanya di tanah air, Vhyta baru menyadari bahwa eks guru CLC tidak bisa menuntut haknya sebagai guru PNS atau PPPK. Semuanya harus mulai dari 0. Ia pun kesulitan mencari kerja sebagai guru. Vhyta mengaku sudah melamar sana-sini, tapi tak ada yang mau menerima.
“Setahuku, kalau eks guru CLC yang pernah ditempatkan di daerah bagus (minimal sinyal kuat), pulang ke Indonesia mereka masih bisa daftar jadi PNS di Kementerian Agama atau sejenisnya. Nah yang daerahnya susah sinyal seperti aku, itu tadi, harus mulai lagi dari 0. Dan itu bikin aku nyesek parah,” tutur Vhyta.
Hal itu juga dikonfirmasi oleh Ainul selaku guru CLC di Malaysia. Oleh karena itu, guna menghindari kesialan serupa, Ainul memutuskan lanjut kuliah sampai S3. Dengan begitu, Ainul berharap kemampuannya bisa dihargai jika waktu kepulangannya ke tanah air tiba.
“Aku harap gelarku nanti bisa memperbesar peluangku untuk antisipasi ketika balik ke Indonesia,” kata Ainul.
Gaji 2 digit tapi kondisi sekolah miris
Ainul mengaku, walaupun gajinya terbilang besar saat menjadi guru CLC di Malaysia tapi kondisi sekolah di sana tetap mengkhawatirkan. Saat pertama kali ditempatkan di salah satu daerah terpencil pada tahun 2019, sinyal internet di sana hampir tidak ada. Jumlah pengajarnya pun terbatas.
“Jadi ada 1 kelas TK, 6 kelas untuk siswa SD, dan 3 kelas untuk SMP sedangkan gurunya cuma 3 orang. Jadi semacam nggak ada waktu untuk istirahat. Bahkan kami bisa mengajar banyak kelas di waktu yang bersamaan,” kata Ainul.
Dari segi fasilitas, sarana prasarana di CLC, kata Ainul, juga kurang. Serta, ruang belajarnya sempit karena memang sekolah darurat yang baru dirintis untuk anak-anak PMI.
Ainul juga harus menguasai banyak materi. Apalagi, untuk siswa SMP yang mata pelajarannya lebih dalam. Sebagai guru CLC yang punya dasar keilmuan soal sejarah, Ainul harus mengajar Matematika, Bahasa Inggris, praktik tari, pramuka, sampai berkebun.
“Rasanya kaget sekali dengan rutinitas tersebut. Pagi sampai sore kita mengajar, malamnya kami juga harus belajar,” ucap Ainul.
Tapi dari itu semua, ada satu hal yang paling menantang menurut Ainul. Yakni ketika sekolahnya kedatangan siswa inklusi sementara belum ada guru yang berpengalaman soal itu. Namun, para guru CLC tak mungkin menolaknya mengingat anak tersebut punya semangat belajar yang tinggi.
“Alhasil, aku juga harus belajar tentang psikologis anak terutama mereka yang hiperaktif. Terus harus sabar mengajari mereka supaya mengenal huruf,” ujar Ainul.
Meski menjumpai banyak tantangan, Ainul tak pernah ada keinginan untuk mundur. Ia memilih lanjut sebagai guru CLC. Ia pun mengembangkan diri dengan kuliah S2 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Lalu, lanjut S3 di Universitas Negeri Semarang (UNNES).
“Memang sulit awal-awalnya. Susah betul tapi lama-kelamaan juga bisa,” ucapnya.
Intinya, kata Ainul, guru CLC harus multifungsi, multiguna, multibisa, serta tenaga yang tak terbatas. Namun, Ainul tetap merasa bersyukur.
“Kami jadi tahu banyak hal dan setelah dipikir-pikir, ‘oh ternyata aku sanggup ya, aku bisa saya’,” kata Ainul.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














