Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
2 Juni 2026
A A
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Ilustrasi - Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah keramaian acara Klaten International Cycling (KLIC) Fest 2026, langkah saya terhenti di sebuah lapak onderdil sepeda lawas. Bukan karena tumpukan barang vintage yang menggunung di sana. Tetapi, karena obrolan lucu yang sedang terjadi.

“Yess, Mister. Dis wan orisinal, good condition,” kata Ato Lemus, sang penjaga lapak, dengan bahasa Inggris berlogat Jawa yang sangat kental. Di depannya, seorang bule asal Inggris tampak mengangguk-angguk paham sambil memegang sebuah crank.

Belum habis senyum saya melihat pemandangan jenaka itu, datang lagi turis asing lainnya, kali ini dari Thailand. Ia menunjuk sebuah sepeda tua yang diparkir di pojok lapak, lalu menanyakan harganya.

“Sembilan belas juta, Mister. Nineteen million,” jawab Ato dengan santai.

sepeda onthel Ato Lemus.MOJOK.CO
Sepeda vintage di lapak jualan Ato Lemus. Ia membuka lapak di acara KLIC 2026 di kawasan Candi Sewu, Klaten, Jumat (21/5/2026). Beberapa sepeda dihargai belasan juta rupiah. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Saya yang berdiri tak jauh dari sana langsung kaget. Sembilan belas juta rupiah? Untuk sebuah sepeda yang catnya sudah mengelupas dan kelihatan lebih tua dari umur saya sendiri? Namun, anehnya, si turis Thailand tadi tidak kaget sama sekali. Ia malah semakin serius memperhatikan rangka besi tersebut.

Harga onthel vintage mahal karena kenangannya

Dari kejadian singkat itu, saya belajar satu hal baru. Di dunia sepeda lawas, harga tidak ditentukan dari seberapa mulus catnya. Nilai sebuah sepeda, diukur dari sejarahnya.

Ato menjelaskan kepada saya, sepeda yang ditunjuk turis Thailand itu bukanlah sepeda biasa. Itu adalah sepeda onthel merek Gazelle buatan Belanda. Di kalangan pecinta sepeda tua, Gazelle ibarat mobil Mercedes-Benz. Kasta tertinggi.

Pada zaman penjajahan dulu, tidak sembarang orang bisa punya sepeda ini. Biasanya hanya para priyayi, saudagar kaya, atau pejabat Belanda yang memakainya. Jadi, angka belasan juta itu sebenarnya wajar bagi kolektor. 

“Kolektor itu datang bukan buat membeli sepedanya, tapi membeli kenangannya, nilai sejarahnya,” kata Ato, Jumat (22/5/2026) lalu.

“Apalagi, kalau lambang di spakbornya masih utuh, itu bisa dihargai lebih mahal,” imbuhnya.

toko sepeda vintage.MOJOK.CO
Menurut penjelasan Ato Lemus, di dunia sepeda lawas, harga tidak ditentukan dari seberapa mulus catnya. Nilai sebuah sepeda, diukur dari sejarahnya. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Perjuangan 30 tahun berjualan sepeda lawas

Bagi Ato Lemus, keheranan orang awam seperti saya sudah jadi makanan sehari-hari. Pria asal Jogja ini sudah berjualan sepeda vintage dan onderdilnya sejak tahun 1993. Lebih dari tiga dekade lalu.

Dari tumpukan besi tua inilah ia menyambung hidup dan menafkahi keluarganya berpuluh-puluh tahun. “Alhamdulillah, kalau nyari untung, ya nggak seberapa tapi bisa buat hidupin keluarga,” katanya.

Ato bercerita, jauh sebelum ada internet, jualan sepeda lawas butuh perjuangan yang luar biasa. Ia harus masuk keluar desa, blusukan dari satu pasar loak ke pasar loak lain. Berpindah dari Jogja, bahkan sampai ke berbagai kota. 

“Dulu, berburu barang langka itu cuma modal informasi dari mulut ke mulut,” kata dia.

Iklan

Ato lalu membagikan satu pengalaman paling gilanya. Dulu, ia pernah menemukan rangka sepeda langka di sebuah desa terpelosok. Sayangnya, sepeda itu dipakai oleh seorang kakek. 

Untuk membelinya, Ato tidak bisa langsung menyodorkan uang lalu pergi. Sang kakek menolak keras karena itu satu-satunya kendaraan yang ia miliki. Ato pun harus berjuang ekstra. Ia datang berkali-kali ke desa itu, merayu sambil membawakan makanan sampai merokok lintingan bersama si kakek berhari-hari demi membangun rasa percaya.

“Tapi alhamdulillah berhasil, dengan perjuangan panjang. Tapi dulu di situ seninya.”

toko sepeda vintage.MOJOK.CO
Potret Ato Lemus di lapak dagangannya di kawasan Candi Sewu, Klaten, Jumat (21/5/2026). Pria ini sudah sejak 1993 berjualan onderdil sepeda dan sepeda lawas. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Cerita itu membuat saya sadar. Dulu, mencari sepeda lawas bukan cuma soal jual-beli barang. Ada proses membangun persaudaraan di sana. Uang saja tidak cukup untuk membeli barang bersejarah, harus ada pertemanan.

“Gara-gara sering berburu dari pasar ke pasar itu, saya jadi kenal banyak orang. Kita sama-sama suka sepeda tua, ngobrol, ngopi bareng. Kenalannya jadi banyak dan akrab di seluruh Indonesia,” kenang Ato sambil tersenyum.

Zaman makin maju, “seni” berjualan sepeda lawas makin luntur

Namun, zaman sekarang sudah jauh berbeda. Sejak adanya grup Facebook dan toko online, mencari onderdil langka jadi sangat mudah. Para onthelis bisa membeli barang dari luar kota atau bahkan luar negeri hanya dengan pencet-pencet layar HP. 

Sayangnya, Ato merasa ada yang hilang dari kemudahan teknologi ini: hilangnya rasa keakraban.

“Kalau sekarang, seninya hilang. Pembeli transfer uang, barang dipaketkan, selesai. Hubungannya cuma sebatas transaksi hari itu saja. Jarang ada kelanjutannya jadi teman,” keluh Ato.

KLIC.MOJOK.CO
Menurut Ato Lemus, acara tatap muka skala besar seperti KLIC Fest 2026 sangat berharga. Acara ini bukan cuma tempat mencari uang baginya, tapi semacam obat rindu. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Itulah mengapa, acara tatap muka skala besar seperti KLIC Fest 2026 ini sangat berharga bagi Ato. Acara ini bukan cuma tempat mencari uang baginya, tapi semacam obat rindu.

Di bawah tendanya lapaknya di Klaten, Ato merasa kembali menemukan kebiasaan lama yang nyaris hilang ditelan zaman online. Ia bisa bertemu langsung dengan pembeli, tawar-menawar sambil tertawa, dan membahas onderdil peninggalan masa lampau dengan sesama pecinta sepeda. 

KLIC menghidupkan kembali makna “paseduluran” para pecinta sepeda lawas

Apa yang dirasakan Ato di lapaknya ternyata sejalan dengan tujuan besar digelarnya KLIC Fest. Acara yang berjalan maraton dari 17 hingga 24 Mei 2026 ini memang tidak melulu soal unjuk gigi di lintasan balap. 

KLIC merangkum banyak agenda berskala dunia, mulai dari International Cycling History Conference (ICHC), pameran sepeda, IVCA Rally, sampai acara berkemah.

Ajang ini sengaja dirancang sebagai wadah bertemunya berbagai budaya. Kehangatan interaksi lokal seperti yang terjadi di lapak Ato, turut dirasakan langsung oleh delegasi internasional. Hal ini diakui oleh Vice President International Veteran Cycle Association (IVCA), Filip Pauwels.

Dalam acara penutupan berupa gala dinner di pelataran Candi Sewu, Prambanan, pada Sabtu (23/5/2026), Filip memuji suasana yang terbangun di Klaten. Menurutnya, keramahtamahan warga lokal dan kekayaan budaya selama penyelenggaraan KLIC Fest adalah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi para peserta luar negeri.

“Terima kasih masyarakat Klaten, atas sambutannya. Keramahtamahan ini menunjukkan bahwa Klaten dapat menjadi daerah tujuan saat berwisata di Indonesia,” ungkap Filip malam itu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Hamenang Wajar Ismoyo S.I.Kom (@hamenang)

Perayaan sepeda di Klaten juga membuktikan bahwa hobi bisa menjadi bahasa pemersatu yang ampuh. Entah itu sepeda balap berbahan karbon dengan teknologi canggih, maupun sepeda onthel tua yang penuh karat peninggalan zaman penjajahan, fungsinya ternyata sama saja.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, saat menyapa para delegasi dari berbagai negara tersebut.

“Dengan sepeda kita dapat menjalin kebersamaan. Dengan bersepeda juga menghilangkan pembatas di antara kita. Klaten akan selalu terbuka bagi pesepeda dari seluruh penjuru dunia,” kata Mas Bupati.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2026 oleh

Tags: candi prambananCandi Sewuharga sepeda lawasharga sepeda tuaJogjakabupaten klatenklatenKlaten International Cycling (KLIC) Fest 2026klicKLIC 2026penjual sepedaprambanansepedasepeda lawassepeda vintage
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026. MOJOK.CO
Eksplor

Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten

26 Mei 2026
Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten MOJOK.CO
Urban

Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten

25 Mei 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

28 Mei 2026
makan mie ayam di Solo. MOJOK.CO

Curiga dengan Pedagang Mie Ayam di Dekat Rutan Solo, Beli Seporsi tapi Tak Diminta Bayar. Eh, Ternyata Intel Lagi Nyamar

28 Mei 2026
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi beri hadiah sapi kurban usai salat Iduladha bersama warga penghuni Huntara di Tegal MOJOK.CO

Salat Iduladha di Huntara Jatinegara Tegal: Hadiah Sapi 906 Kg dan Kebahagiaan di Tengah Situasi Sulit

27 Mei 2026

Video Terbaru

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026
Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.