Di tengah keramaian acara Klaten International Cycling (KLIC) Fest 2026, langkah saya terhenti di sebuah lapak onderdil sepeda lawas. Bukan karena tumpukan barang vintage yang menggunung di sana. Tetapi, karena obrolan lucu yang sedang terjadi.
“Yess, Mister. Dis wan orisinal, good condition,” kata Ato Lemus, sang penjaga lapak, dengan bahasa Inggris berlogat Jawa yang sangat kental. Di depannya, seorang bule asal Inggris tampak mengangguk-angguk paham sambil memegang sebuah crank.
Belum habis senyum saya melihat pemandangan jenaka itu, datang lagi turis asing lainnya, kali ini dari Thailand. Ia menunjuk sebuah sepeda tua yang diparkir di pojok lapak, lalu menanyakan harganya.
“Sembilan belas juta, Mister. Nineteen million,” jawab Ato dengan santai.

Saya yang berdiri tak jauh dari sana langsung kaget. Sembilan belas juta rupiah? Untuk sebuah sepeda yang catnya sudah mengelupas dan kelihatan lebih tua dari umur saya sendiri? Namun, anehnya, si turis Thailand tadi tidak kaget sama sekali. Ia malah semakin serius memperhatikan rangka besi tersebut.
Harga onthel vintage mahal karena kenangannya
Dari kejadian singkat itu, saya belajar satu hal baru. Di dunia sepeda lawas, harga tidak ditentukan dari seberapa mulus catnya. Nilai sebuah sepeda, diukur dari sejarahnya.
Ato menjelaskan kepada saya, sepeda yang ditunjuk turis Thailand itu bukanlah sepeda biasa. Itu adalah sepeda onthel merek Gazelle buatan Belanda. Di kalangan pecinta sepeda tua, Gazelle ibarat mobil Mercedes-Benz. Kasta tertinggi.
Pada zaman penjajahan dulu, tidak sembarang orang bisa punya sepeda ini. Biasanya hanya para priyayi, saudagar kaya, atau pejabat Belanda yang memakainya. Jadi, angka belasan juta itu sebenarnya wajar bagi kolektor.
“Kolektor itu datang bukan buat membeli sepedanya, tapi membeli kenangannya, nilai sejarahnya,” kata Ato, Jumat (22/5/2026) lalu.
“Apalagi, kalau lambang di spakbornya masih utuh, itu bisa dihargai lebih mahal,” imbuhnya.

Perjuangan 30 tahun berjualan sepeda lawas
Bagi Ato Lemus, keheranan orang awam seperti saya sudah jadi makanan sehari-hari. Pria asal Jogja ini sudah berjualan sepeda vintage dan onderdilnya sejak tahun 1993. Lebih dari tiga dekade lalu.
Dari tumpukan besi tua inilah ia menyambung hidup dan menafkahi keluarganya berpuluh-puluh tahun. “Alhamdulillah, kalau nyari untung, ya nggak seberapa tapi bisa buat hidupin keluarga,” katanya.
Ato bercerita, jauh sebelum ada internet, jualan sepeda lawas butuh perjuangan yang luar biasa. Ia harus masuk keluar desa, blusukan dari satu pasar loak ke pasar loak lain. Berpindah dari Jogja, bahkan sampai ke berbagai kota.
“Dulu, berburu barang langka itu cuma modal informasi dari mulut ke mulut,” kata dia.
Ato lalu membagikan satu pengalaman paling gilanya. Dulu, ia pernah menemukan rangka sepeda langka di sebuah desa terpelosok. Sayangnya, sepeda itu dipakai oleh seorang kakek.
Untuk membelinya, Ato tidak bisa langsung menyodorkan uang lalu pergi. Sang kakek menolak keras karena itu satu-satunya kendaraan yang ia miliki. Ato pun harus berjuang ekstra. Ia datang berkali-kali ke desa itu, merayu sambil membawakan makanan sampai merokok lintingan bersama si kakek berhari-hari demi membangun rasa percaya.
“Tapi alhamdulillah berhasil, dengan perjuangan panjang. Tapi dulu di situ seninya.”

Cerita itu membuat saya sadar. Dulu, mencari sepeda lawas bukan cuma soal jual-beli barang. Ada proses membangun persaudaraan di sana. Uang saja tidak cukup untuk membeli barang bersejarah, harus ada pertemanan.
“Gara-gara sering berburu dari pasar ke pasar itu, saya jadi kenal banyak orang. Kita sama-sama suka sepeda tua, ngobrol, ngopi bareng. Kenalannya jadi banyak dan akrab di seluruh Indonesia,” kenang Ato sambil tersenyum.
Zaman makin maju, “seni” berjualan sepeda lawas makin luntur
Namun, zaman sekarang sudah jauh berbeda. Sejak adanya grup Facebook dan toko online, mencari onderdil langka jadi sangat mudah. Para onthelis bisa membeli barang dari luar kota atau bahkan luar negeri hanya dengan pencet-pencet layar HP.
Sayangnya, Ato merasa ada yang hilang dari kemudahan teknologi ini: hilangnya rasa keakraban.
“Kalau sekarang, seninya hilang. Pembeli transfer uang, barang dipaketkan, selesai. Hubungannya cuma sebatas transaksi hari itu saja. Jarang ada kelanjutannya jadi teman,” keluh Ato.

Itulah mengapa, acara tatap muka skala besar seperti KLIC Fest 2026 ini sangat berharga bagi Ato. Acara ini bukan cuma tempat mencari uang baginya, tapi semacam obat rindu.
Di bawah tendanya lapaknya di Klaten, Ato merasa kembali menemukan kebiasaan lama yang nyaris hilang ditelan zaman online. Ia bisa bertemu langsung dengan pembeli, tawar-menawar sambil tertawa, dan membahas onderdil peninggalan masa lampau dengan sesama pecinta sepeda.
KLIC menghidupkan kembali makna “paseduluran” para pecinta sepeda lawas
Apa yang dirasakan Ato di lapaknya ternyata sejalan dengan tujuan besar digelarnya KLIC Fest. Acara yang berjalan maraton dari 17 hingga 24 Mei 2026 ini memang tidak melulu soal unjuk gigi di lintasan balap.
KLIC merangkum banyak agenda berskala dunia, mulai dari International Cycling History Conference (ICHC), pameran sepeda, IVCA Rally, sampai acara berkemah.
Ajang ini sengaja dirancang sebagai wadah bertemunya berbagai budaya. Kehangatan interaksi lokal seperti yang terjadi di lapak Ato, turut dirasakan langsung oleh delegasi internasional. Hal ini diakui oleh Vice President International Veteran Cycle Association (IVCA), Filip Pauwels.
Dalam acara penutupan berupa gala dinner di pelataran Candi Sewu, Prambanan, pada Sabtu (23/5/2026), Filip memuji suasana yang terbangun di Klaten. Menurutnya, keramahtamahan warga lokal dan kekayaan budaya selama penyelenggaraan KLIC Fest adalah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi para peserta luar negeri.
“Terima kasih masyarakat Klaten, atas sambutannya. Keramahtamahan ini menunjukkan bahwa Klaten dapat menjadi daerah tujuan saat berwisata di Indonesia,” ungkap Filip malam itu.
View this post on Instagram
Perayaan sepeda di Klaten juga membuktikan bahwa hobi bisa menjadi bahasa pemersatu yang ampuh. Entah itu sepeda balap berbahan karbon dengan teknologi canggih, maupun sepeda onthel tua yang penuh karat peninggalan zaman penjajahan, fungsinya ternyata sama saja.
Hal ini disampaikan oleh Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, saat menyapa para delegasi dari berbagai negara tersebut.
“Dengan sepeda kita dapat menjalin kebersamaan. Dengan bersepeda juga menghilangkan pembatas di antara kita. Klaten akan selalu terbuka bagi pesepeda dari seluruh penjuru dunia,” kata Mas Bupati.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Bangkitnya Sepeda Roda Raksasa yang Menyatukan Ribuan “Onthelis” dari Penjuru Dunia di Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














