Ngekos di bantaran Kali Code, Jogja, dengan harga Rp150 ribu per bulan jadi pengalaman tak terlupakan bagi Barkah. Lelaki asal Wonogiri ini rela tinggal di sana demi ikut bimbingan belajar (bimbel) agar lolos SNBT (dulu SBMPTN) 2018 lalu.
Kini, Barkah sudah lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jogja. Namun, ingatan soal kos murah dan air yang bikin gatal masih menempel di kepalanya.
“Itu masa-masa kepepet yang kalau diingat sekarang bikin ketawa sendiri,” katanya, Selasa (28/7/2026)
Ngebet buat ngekos setelah gagal SNBP
Cerita bermula saat Barkah gagal di jalur SNBP (dulu SNMPTN). Karena telanjur ngebet masuk PTN impiannya di Jogja, ia memutuskan banting setir ikut ujian tulis.
Masalahnya, SMA tempatnya belajar di Wonogiri tidak menyediakan program bimbingan mandiri untuk persiapan ujian tersebut. Tempat bimbel di kampung halamannya juga dirasa kurang pas untuk mengejar target jurusannya.
Ia akhirnya memilih berangkat ke Jogja. Niatnya ikut bimbel intensif selama sebulan penuh sebelum hari H ujian.
Keputusan merantau ke Jogja jelas butuh biaya. Uang tabungan dan jatah dari orang tuanya sudah banyak terpakai untuk membayar biaya pendaftaran bimbel. Alhasil, ia harus mencari tempat tinggal yang paling murah.
Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah kamar kos di kawasan padat penduduk di bantaran Kali Code. Harga sewanya sangat miring, cuma Rp150 ribu untuk satu bulan.
Kondisi kamarnya pas-pasan. Tidak ada fasilitas kasur empuk atau meja belajar bagus. Lokasinya pun berhimpitan langsung dengan rumah-rumah warga. Suara motor lewat atau orang ngobrol terdengar jelas dari dalam kamar.
“Yang penting ada atap buat tidur dan naruh barang. Waktu itu mikirnya cuma gimana caranya bisa belajar dan berangkat bimbel tiap hari,” ujar Barkah.
Ngekos murah di Jogja harus menahan rasa gatal
Namun, tinggal di pinggir kali dengan harga sewa segitu tentu ada kekurangannya. Tantangan paling berat bagi Barkah bukan soal kamar yang sempit, tetapi urusan air mandi.
Air di kamar mandi kos tersebut ternyata kurang bersih. Baunya agak anyir. Parahnya lagi, kalau dipakai mandi langsung bikin kulit gatal-gatal.
Bagi Barkah, jelas, ini jadi masalah yang lumayan mengganggu.
“Awal-awal mandi, sehabis pakai handuk itu rasanya gatal banget. Kulit sampai merah-merah,” kenang lelaki yang kini sudah bekerja di Jogja itu.
Mau tak mau, ia harus beradaptasi. Barkah pun sedia bedak tabur anti-gatal atau bedak salicyl yang ia beli di warung dekat kos.
Bedak seribuan itu selalu ada di dekat buku-bukunya. Saban malam, ia belajar sambil sesekali menggaruk lengan atau kaki, lalu menaburkan bedak tersebut. Kalau gatalnya sedang parah, ia kadang memilih tidak mandi. Sesekali ia hanya membilas badan menggunakan sisa air galon isi ulang sekadar agar badannya terasa segar.
“Pernah ada teman ngasih saran mending mandi di SPBU, tapi kan aku malu,” ungkapnya.
Meski kosnya di Jogja kurang layak, tetap bikin betah
Meski kondisi kosnya jauh dari kata nyaman, Barkah lumayan betah. Di tengah lingkungan yang padat itu, ibu kosnya ternyata sangat baik hati dan sering berbagi makanan.
Ibu kos tersebut sering memasak dalam porsi besar. Hampir setiap malam, ia mengetuk pintu kamar Barkah untuk membagikan sisa lauk makan malam keluarganya. Lauknya sederhana, kadang tempe orek, sayur lodeh, atau telur dadar.
“Wah, itu ngebantu banget. Uang makanku jadi utuh. Lumayan uangnya bisa buat nutup pengeluaran beli bedak gatal,” katanya bercanda.
Makanan gratis dari ibu kos ini sangat menyelamatkan pengeluarannya. Ia tidak perlu pusing mencari makan malam setelah seharian lelah bimbel dan mengerjakan latihan soal.
Selama sebulan penuh, rutinitas Barkah hanya berkutat pada hal-hal itu saja: pergi bimbel, pulang ke kos, menahan gatal karena mandi air keruh, baluran bedak, dan makan lauk pemberian ibu kos.
Ia menjalaninya begitu saja tanpa banyak mengeluh.
Usahanya tidak sia-sia. Saat hari pengumuman SBMPTN tiba, Barkah dinyatakan lolos dan diterima di PTN impiannya di Jogja.
Ia tidak pernah menyesali keputusannya ngekos di tempat seharga Rp150 ribu tersebut. Baginya, itu adalah proses yang harus dilewati karena keadaannya memang sedang pas-pasan.
“Kalau disuruh ngulang ya jelas nggak mau. Tapi seenggaknya, ada yang bisa diceritain lah buat anak cucu nanti,” tutupnya sambil tertawa.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














