Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Tajuk

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

Redaksi oleh Redaksi
29 Juni 2026
A A
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Ilustarsi: Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kabar mengenai sekitar 60 ribu calon mahasiswa yang tidak melakukan daftar ulang setelah dinyatakan lolos seleksi masuk PTN sempat memicu perhatian publik. Narasi yang paling cepat berkembang adalah dugaan bahwa mereka gagal melanjutkan kuliah karena tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Di sisi lain, muncul pula suara yang buru-buru membantah bahwa biaya kuliah bukan faktor utama. Ada yang menyebut calon mahasiswa mengundurkan diri karena diterima di sekolah kedinasan, memilih perguruan tinggi lain, kuliah ke luar negeri, atau mengubah rencana setelah dinyatakan lolos.

Iklan

Belakangan, Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) meluruskan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Angka yang ramai dibicarakan bukan semata-mata berasal dari jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), melainkan akumulasi dari seluruh jalur penerimaan: SNBP, SNBT, dan seleksi mandiri.

Dari sekitar 681 ribu calon mahasiswa yang diterima melalui ketiga jalur tersebut, sekitar 568 ribu telah melakukan registrasi ulang. Sisanya masih tersebar dalam berbagai kategori, termasuk proses seleksi mandiri yang belum sepenuhnya rampung.

Penjelasan itu penting karena memperlihatkan bahwa calon mahasiswa yang batal mendaftar ulang tidak bisa dipukul rata memiliki alasan yang sama. Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Komisi X DPR RI, pakar pendidikan tinggi Prof. Nizam menjelaskan bahwa fenomena sekitar 10 persen mahasiswa yang tidak melakukan registrasi ulang sebenarnya telah terjadi sejak dekade 1990-an.

Penyebabnya pun beragam. Ada yang diterima di sekolah kedinasan, memilih perguruan tinggi swasta, berpindah ke kampus lain, atau tidak mengambil pilihan studi yang tersedia. Dengan kata lain, kursi kosong di PTN bukan fenomena baru dan tidak selalu berarti ada satu penyebab tunggal.

Namun, justru di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Ketika sejumlah anggota Komisi X mempertanyakan berapa banyak mahasiswa yang batal kuliah karena kemiskinan atau karena pengajuan KIP Kuliahnya ditolak, tidak ada jawaban yang benar-benar berbasis data.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Maria Yohana Esti Wijayati meminta pemerintah menjelaskan apakah ada data mengenai mahasiswa yang mengundurkan diri akibat gagal memperoleh KIP Kuliah. Pertanyaan serupa juga disampaikan Abdul Fikri Fakih yang mengingatkan agar penyebab mahasiswa tidak melakukan daftar ulang diteliti lebih dahulu, bukan sekadar diduga.

Kok bisa, pemerintah tak punya data mengapa calon mahasiswa PTN tak daftar ulang 

Fakta itu memperlihatkan satu hal yang lebih penting daripada sekadar angka puluhan ribu mahasiswa yang batal registrasi. Pemerintah memiliki data tentang berapa banyak calon mahasiswa diterima, berapa yang melakukan daftar ulang, dan berapa kursi yang akhirnya kosong. Namun, pemerintah belum memiliki data yang memadai mengenai mengapa kursi-kursi itu kosong.

Padahal, penyebab akan menentukan arah kebijakan. Jika sebagian besar calon mahasiswa batal kuliah karena persoalan ekonomi, pembenahan harus dimulai dari sistem pembiayaan pendidikan, termasuk evaluasi UKT dan KIP Kuliah. 

Jika banyak yang memilih sekolah kedinasan, pemerintah perlu bertanya mengapa perguruan tinggi negeri kalah menarik dibanding institusi tersebut. Jika penyebabnya salah memilih program studi atau minim informasi karier, maka sistem seleksi dan pendampingan siswa sejak SMA perlu dievaluasi.

Sayangnya, kita sering lebih senang berdebat daripada meneliti. Angka dijadikan senjata untuk membenarkan pendapat masing-masing, padahal angka hanyalah gejala. Yang menentukan kebijakan bukan gejalanya, melainkan diagnosisnya.

Ini bukan semata soal pendidikan tinggi. Ini soal cara negara mengambil keputusan. Kebijakan publik semestinya lahir dari pemahaman yang utuh terhadap persoalan, bukan dari asumsi yang kebetulan sedang populer.

Karena itu, sebelum pemerintah berbicara mengenai solusi, ada satu pekerjaan rumah yang jauh lebih mendasar: mencari tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Jangan sampai persoalannya hanya berputar-putar pada perdebatan apakah penyebabnya UKT, sekolah kedinasan, atau salah memilih jurusan.

Iklan

Publik menunggu langkah pemerintah untuk mencari data valid mengenai calon mahasiswa yang batal mendaftar ulang. Sebab hanya dengan mengetahui penyebabnya secara pasti, negara bisa merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.

Dalam pendidikan, seperti halnya dalam dunia medis, tidak ada dokter yang memberikan obat sebelum menegakkan diagnosis. Negara pun seharusnya tidak membuat kebijakan sebelum memahami penyakit yang hendak diobatinya.n(*)

 

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2026 oleh

Tags: MahasiswaPTNtajukukt
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

siswa sekolah.MOJOK.CO
Tajuk

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO
Tajuk

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO
Tajuk

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Derita 17 Hari Naik Honda Revo Jadi Penagih Utang MOJOK.CO

17 Hari Menjadi Penagih Utang dengan Risiko Kehilangan Nyawa Naik Honda Revo Biru Sudah Cukup Membuat Saya Menyerah

23 Juni 2026
gagal jastip saat war tiket konser BTS. MOJOK.CO

Pertama Kali War Tiket Konser BTS: Trust Issue Pakai Jastip karena Selalu Gagal, Justru Hoki Berkat Teman yang FOMO

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.