MOJOK.CO – Salahkah ketika seorang aktivis memulai bisnis? Apakah aktivis memang harus selalu miskin dan tidak boleh punya usaha sendiri?
Mei 2026, saya dan beberapa teman resmi membuka dan mengelola sebuah coffee shop. Sejak saat itu, saya mulai sering mendengar kalimat, “Udah jadi kapitalis kecil ya sekarang.”
Orang-orang yang berkata (atau akan berkata) seperti ini sudah sangat saya ketahui di lingkaran mana dia berada. Mereka adalah teman-teman seperjuangan di barisan pergerakan mahasiswa.
Entah hanya sebatas candaan atau bukan, tapi cap yang berkali-kali dilontarkan kepada saya ini lambat laun menjadi bahan pikiran. Salahkah ketika seorang aktivis memulai bisnis?
Apakah aktivis harus miskin?
Saya rasa, persoalan aktivis memulai bisnis ini bukan hanya saya yang mengalaminya. Sepertinya teman-teman maupun senior saya di aktivisme yang memulai bisnis juga menerima tuduhan serupa.
Belum juga balik modal malah sudah kena vonis menjadi kapitalis. Seakan-akan keputusan untuk mencari nafkah adalah bentuk pragmatisme yang mengkhianati nilai-nilai perjuangan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, di kerasnya kehidupan menjadi WNI ini bakal hidup dari apa? Duit kanda?
Barangkali, persoalan aktivis yang memulai bisnis yang paling jarang kita bahas dalam dunia pergerakan.
Kita berlomba-lomba membaca Karl Marx, Tan Malaka, hingga berbagai teori tentang ketimpangan. Kita pandai menjelaskan bagaimana borjuasi berkuasa dan lihai dalam mengkritik oligarki.
Tapi, ada satu hal yang sepertinya tabu untuk menjadi pembahasan di dunia aktivisme, yaitu caranya bertahan hidup dan berdikari secara ekonomi.
Padahal, persoalan ini adalah satu hal yang mendasar dan jauh lebih dekat dengan hidup sehari-hari.
Barangkali karena itu, saya sering merasa ada semacam romantisasi terhadap kemiskinan aktivis.
Aktivis yang hidup pas-pasan dianggap lebih tulus. Yang masih naik motor butut, lebih membumi. Yang memulai bisnis justru dipandang mencurigakan.
Seakan-akan semakin kere seorang aktivis, maka semakin berpihak kepada dia kepada kaum proletar.
Di sinilah saya mulai mempertanyakan. Jangan-jangan persoalannya bukan karena memulai bisnis. Melainkan kita terlalu lama menganggap kemiskinan sebagai konsekuensi yang harus diterima seorang aktivis.
Seolah-olah ketika dia mulai berupaya realistis terhadap hidup dan segala kebutuhan untuk memenuhinya, gelar aktivis sudah bukan lagi gelar yang layak dia sandang.
Memulai bisnis dianggap kapitalis, apakah aktivis tidak boleh kaya?
Di lain hal, saya bahkan merasa ada standar yang aneh di dunia aktivisme. Ketika seorang aktivis memulai bisnis, cap kapitalis datang begitu cepat.
Tapi, ketika aktivis yang sama akhirnya hidup dari proyek, dari jejaring senior, atau dari warna-warni bendera partai yang dulu paling lantang dia kritik, justru lebih dianggap sebagai sosok yang realis. Ah, sesungguhnya realitas tidak sesederhana itu.
Justru ketika seorang aktivis tidak memiliki kemandirian ekonomi yang menyebabkan dia pada akhirnya mencari sumber penghidupan di “tempat lain”.
Tentu tidak sedikit aktivis yang berakhir ketergantungan pada proyek-proyek kanda. Ada pula yang pelan-pelan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan dengan alibi “berbenah dari dalam”. Padahal alasan yang paling jujur sesederhana faktor ekonomi.
Semua orang butuh makan, makanya memulai bisnis
Saya tidak sedang menghujat pilihan-pilihan itu. Saya paham, semua orang butuh makan.
Justru karena itulah saya mulai berpikir. Bukankah lebih baik jika seorang aktivis memiliki sumber penghasilannya sendiri?
Bukankah lebih baik jika dia menginterpretasikan ideologinya ke dalam jejaring ekonomi yang dia bangun sendiri? Dibanding menggantungkan hidup pada jejaring yang sewaktu-waktu dapat membatasi sikap kritisnya?
Keputusan saya memulai bisnis dengan membuka coffee shop juga berangkat dari kegelisahan yang sangat sederhana. Bukan karena saya tiba-tiba bercita-cita menjadi pengusaha. Semuanya bermula ketika seorang teman mengajak saya bergabung dengan kenalannya yang ingin mencoba membuka bisnis coffee shop di Yogyakarta.
Saya melihat kesempatan itu bukan sebagai peluang memulai bisnis semata. Ini adalah juga kesempatan untuk membangun sesuatu yang saya yakini sendiri.
Gagasan awal ketika memulai bisnis
Oleh karena itu, sebelum memulai bisnis coffee shop, saya menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak terlihat oleh kawan-kawan aktivis. Saya melakukan riset dan analisis terhadap kebutuhan konsumen dan rupa ruang yang sekiranya sedang dibutuhkan saat ini.
Saya juga mencari tahu mengapa coffee shop yang sebelumnya berdiri di tempat itu tidak mampu bertahan. Dari proses itulah lahir gagasan yang kemudian menjadi identitas coffee shop ini; menggabungkan kopi, seni, dan buku dalam satu ruang.
Kalau hanya menjual kopi, Jogja sudah punya terlalu banyak pilihan. Tapi ruang yang memberi tempat bagi seniman untuk berpameran, juga menyediakan toko buku dengan koleksi pilihan, khususnya di Jogja Utara, belum banyak saya temukan.
Kedai yang kami bangun pada akhirnya memang menjual kopi. Tapi saya ingin bisnis ini juga menjual sesuatu yang lain: ruang.
Ruang bersama untuk semua
Ketika memulai bisnis, saya ingin membangun sebuah ruang.
Ruang bagi seniman yang sulit mendapatkan kesempatan pameran. Bagi buku-buku yang mungkin tidak selalu mendapat tempat di rak paling depan toko buku. Ruang bagi diskusi, pemutaran film, bedah karya, pentas kesenian, hingga diskusi berbagai topik dari kanan hingga kiri. Dan tentunya, coffee shop yang seperti ini tidak terindikasi money laundry.
Dulu saya percaya bahwa ruang diskusi penting untuk membangun kesadaran. Sekarang, saya mencoba menyediakan ruangnya.
Kalau dulu saya percaya karya seni bisa menjadi medium kritik sosial, sekarang saya mencoba memberi tempat agar karya-karya itu bisa bertemu dengan publik. Nilai-nilai yang dulu saya pelajari dalam dunia aktivisme tidak saya tinggalkan. Ia hanya berganti medium ketika memulai bisnis.
Sembari mengangkat branding dan marketing kedai ini, saya justru kekeh menjadikan niche tersebut sebagai ideologi yang menuntun arah bisnis kami.
Ideologi yang baik seharusnya tidak hanya mampu mengkritik sistem ekonomi, tetapi juga mampu melahirkan praktik ekonominya sendiri.
Mungkin, ketika memulai bisnis, saya tidak berharap usaha ini mampu menciptakan revolusi. Tapi, setidaknya saya berusaha memastikan bahwa cara saya mencari nafkah tidak sepenuhnya tercerabut dari nilai yang selama ini saya yakini.
Memulai bisnis karena aktivisme tetap butuh ongkos
Bagi saya, aktivis yang memiliki kemandirian ekonomi justru berpeluang lebih bebas menjaga idealismenya. Dia tidak harus menggantungkan hidup pada proyek, pada kedekatan dengan elite, atau pada sumber-sumber penghasilan yang sering kali bertentangan dengan apa yang selama ini dia perjuangkan.
Kalau ada satu hal yang saya pelajari setelah membuka coffee shop ini, mungkin bukan cara menyeduh kopi atau perhitungan BEP. Melainkan realita bahwa ternyata idealisme juga membutuhkan ongkos.
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa semua aktivis harus memulai bisnis. Sama seperti saya juga tidak percaya semua pebisnis kehilangan idealismenya.
Gerakan barangkali terlalu sibuk mencetak orang yang berani melawan kekuasaan, tetapi lupa mengajarkan bagaimana mereka bisa hidup tanpa bergantung pada kekuasaan yang dilawan.
Kalau suatu hari saya harus memilih antara dicap “kapitalis kecil” karena memulai bisnis atau perlahan kehilangan kebebasan untuk bersikap karena sumber penghidupan saya bergantung pada orang lain, saya rasa saya sudah tahu harus memilih yang mana.
Sebab yang paling berbahaya bukan ketika seorang aktivis mulai mencari nafkah. Yang paling berbahaya adalah ketika dia kehilangan kemerdekaan untuk bersuara karena tidak lagi bebas menentukan dari mana dia hidup.
Dan saya kira, tidak ada yang salah ketika seorang aktivis memilih membiayai idealismenya dengan memulai bisnis.
Tips buat kamu yang mau memulai bisnis
Terakhir, saya mau nitip sedikit buat teman-teman yang mungkin kepikiranmemulai bisnis. Terutama buat para kawula muda dan pentolan aktivis mahasiswa yang mulai sadar akan kerasnya kehidupan menjadi WNI dari segi faktor isi rekening.
Mengutip sekaligus sedikit memodifikasi kutipan dari Muhammadiyah, “Hidup-hidupilah pergerakan, tapi jangan mencari hidup di pergerakan.” Kalau versi saya: hidup-hidupilah pergerakan, tapi jangan cari investor dari pergerakan.
Maksud saya sederhana. Sebelum memulai bisnis, usahakan penyokong usahamu bukan dari kanda-kanda atau senior yang sekarang sudah nongkrong di partai, lembaga, atau entah lingkar kekuasaan mana (apalagi yang lagi nyari lahan buat cuci uang).
Sepengalaman dan sepenglihatan saya, teman-teman aktivis yang tidak pernah benar-benar bisa memutus tali pusarnya dari para kanda, tidak ada yang benar-benar selamat.
Anggaplah uang yang masuk memang murni investasi, bukan proyekan. Tetap saja, hubungan semacam itu hampir selalu datang bersama tagihan yang tidak pernah ditulis di atas kertas.
Hari ini mungkin tidak apa-apa. Besok lusa, ketika ada kepentingan yang bersinggungan dengan bisnismu, kamu akan mulai merasa sungkan.
Lama-lama, sungkan itu berubah jadi kompromi.
Ya, ujung yang tak pernah kita harapkan ataupun kolam yang tak pernah terpikir untuk diselami pada akhirnya berpotensi jadi tempat tenggelam.
Apabila ujung dari bisnis itu malah membuat kita bergantung pada patron yang sama, ya kita cuma pindah kandang. Bukan pindah nasib. Hehe.
Penulis: Lailatul Fadhilah Jamil
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba? Dan artikel menarik lainnya di rubrik CUAN.














