Kisah usaha ayam potong di pasar yang mampu meraup omzet sampai 80 juta per bulan

Raup omzet 80 juta per bulan, usaha ayam potong bikin ngiler MOJOK

MOJOK.CODalam satu bulan, usaha ayam potong langganan saya di pasar bisa meraup omzet sampai 80 juta. Begini kisah dan tips bisnis dari dia.

Saya punya satu pedagang ayam potong di pasar yang jadi langganan. Tidak ada yang “aneh” dari dagangannya. Namun, beberapa kali, saya melihat terjadi sesuatu yang agak janggal.

Jadi, beberapa kali saya melihat dagangannya masih cukup banyak. Lantas saya berpikir. Ayam potong adalah jenis dagangan yang nilainya cepat hilang karena nggak tahan lama. Kalau hari ini tidak habis, besok kualitasnya sudah turun.

Uniknya, ketika saya perhatikan, dia terlihat tetap santai meski dagangannya masih banyak. Karena penasaran, suatu hari saya bertanya. “Kalau sampai siang ayam sebanyak ini nggak habis, memangnya nggak rugi, Mas?”

Bermula dari satu pertanyaan itu, saya jadi tahu bagaimana sirkulasi usaha ayam potong ini berjalan.

Gambaran omzet usaha ayam potong

Dia bercerita kalau usaha ayam potong punya alur distribusi yang tidak secara tiba-tiba sampai padanya. Pedagang seperti dirinya biasanya sudah punya pemasok tetap ayam potong. Dan setiap hari jumlahnya berbeda.

Secara garis besar, dia mengambil sekitar 60 sampai 80 kilogram karkas (ayam utuh). Ketika momen tertentu, seperti puasa, Lebaran, Natal, atau tahun baru, volume ayam potong yang dia ambil bisa jauh lebih tinggi. Sebaliknya, jika dalam beberapa hari pasar lesu sehingga permintaan menurun, dia akan mengurangi pesanan dari pemasok.

Kira-kira begini gambaran omzetnya. Misalnya pada hari itu dia mengambil 80 kilogram ayam potong. Apabila harganya di kisaran Rp32 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram, omzet kotoronya sekitar Rp2,56 juta hingga Rp3,2 juta per hari. 

Kalau berjualan 26 hari dalam sebulan, perputaran uang dalam transaksinya bisa mencapai Rp66,5 juta. Bahkan sampai Rp83,2 juta per bulan.

Angka ini memang kelihatan besar, tapi ini adalah omzet kotor. Sebab, masih ada potongan modal pembelian ayam potong, ongkos angkut, biaya pemotongan, plastik, hingga risiko penyusutan dan ayam yang tidak habis terjual.

Bagaimana dengan profitnya?

Dia bercerita bahwa untuk setiap kilogram, dia mengantongi margin antara Rp3 ribu hingga Rp7 ribu setelah dipotong dengan biaya lainnya. Jika dalam satu hari bisa menjual 80 kilogram ayam potong, dia bisa menghasilkan margin sekitar Rp240 ribu sampai Rp560 ribu. 

Dalam 26 hari berjualan, angkanya sekitar Rp6,2 juta sampai Rp14,5 juta sebulan. Besar kecilnya margin datang dari kondisi pada hari itu. Misalnya, dia memberi potongan khusus pada pelanggan tertentu (warung atau katering langganan). 

Atau, bisa juga menjual stok dengan cepat menjelang pasar tutup. Jadi memang bergantung pada volume transaksi dan seberapa cepat dagangannya habis terjual.

Terlepas dari hitung-hitungan omzet dan margin di atas, dia menekankan bahwa yang terpenting adalah sirkulasi dari transaksi pada hari tersebut. Nah, dari situlah mulai ditarik soal bagaimana strateginya membuat barang rentan ini sirkulasinya terus berputar. Artinya bisa terjual di hari itu.

Strategi usaha ayam potong

Pertama, sebisa mungkin mengambil ayam potong dengan jumlah minimum. Misalnya dalam seminggu, penjualan terendahnya ada di kisaran 50 kilogram karkas, maka itulah yang menjadi patokan.

Tapi secara lebih spesifik, dia bercerita bahwa sebagai pedagang yang sudah berjualan bertahun-tahun, dia seperti sudah punya kalkulasi tersendiri soal permintaan ayam potong di hari itu. 

Hari senin biasanya terjual berapa, jumat totalnya bisa naik atau turun. Atau, saat hari-hari besar seperti Ramadan atau musim hajatan bisa terjual lebih banyak dari biasanya.

Yang jelas, kalau 60 kilogram pada hari ini sulit habis, maka esok harinya dia akan mencoba menurunkan angkanya di bawah itu. Istilah bisnisnya demand forecasting.

Menjaga loyalitas pembeli ayam potong 

Kedua, pembelinya datang dari pihak-pihak yang sekali transaksinya bisa berjumlah puluhan kilogram. Jadi dia tidak hanya mengandalkan pembeli berskala kecil seperti saya yang hanya beli satu atau dua kilogram. Pembeli dengan volume besar datang dari pemilik warung, penjual ayam penyetan, ayam geprek, soto, hingga catering.

Bagaimana bisa dia mendapat pelanggan tetap di kalangan produsen makanan itu? Semua pelanggan itu diperolehnya secara natural. Jadi awalnya dia menandai beberapa pembeli yang terlihat rutin datang dengan jumlah pembelian besar. Kemudian dia menawarkan layanan yang lebih praktis.

Apabila butuh ayam potong dalam jumlah banyak, bisa pesan langsung di hari sebelumnya. Setelah pesan, besoknya, pemesan bisa mengambil kapan saja. 

Bila lokasi pembeli dekat dengan pasar, pedagang langganan saya ini bahkan mau mengantarkan. Dan dia tidak membedakan pelanggan yang memesan. Mau produsen makanan atau hanya pembeli perorangan tetap akan dia antar.

Hingga akhirnya tanpa disadarinya, beberapa di antaranya adalah pembeli yang berstatus sebagai produsen seperti pemilik warung atau catering. Di situ dia mulai memberikan harga yang lebih murah. 

Ini untuk menjaga loyalitas dan konsistensi pesanan dari pelanggan. Tujuannya supaya ayamnya laku terjual semuanya di hari itu. Setidaknya dia bisa menjual ayam potong dengan volume yang besar tiap harinya, kan?  

Jadi simulasinya, kalau di hari itu dia mengambil 80 kilogram dan sebelum membuka lapak sudah ada pesanan dari beberapa produsen yang totalnya 30 kilogram, maka dia hanya perlu fokus menjual 50 kilogram sisanya.

Strategi memainkan harga dan teori jam laku

Ketiga, kalau menjelang siang stok masih sisa, dia akan menurunkan harga. Jadi prinsip yang dipegang olehnya dan pedagang ayam potong pada umumnya adalah lebih baik margin berkurang Rp2 ribu sampai Rp5 ribu daripada harus menyimpan terlalu banyak sampai esok hari karena berpotensi menurunkan nilai jual.

Keempat adalah menjual pada dua waktu, yaitu pagi dan sore hari. Jadi mengapa pedagang ayam potong langganan saya tenang-tenang saja karena masih ada waktu sore hari. Saat itu, dia berpotensi menerima pembeli dari pelanggan yang butuh ayam tambahan seperti pemilik warung, pedagang keliling, atau penjual ayam penyet.

Lagian, dia menganggap pelanggannya memang terbagi pada dua waktu tersebut. Yang terpenting adalah cara dia memastikan ayam tersebut tidak membusuk atau turun kualitasnya dengan memasukkannya pada kotak es.

Kalau saya perhatikan, usaha ayam potong ini memang punya margin yang nggak besar. Bahkan bisa saja hanya dapat Rp3 per kilogram. 

Tapi, kalau sehari bisa terjual 80 kilogram, hasilnya bisa Rp240 ribu per hari. Maka dalam 26 hari dia bisa mendapatkan Rp6,24 juta. Itu sudah lebih dari UMK Surabaya. Jadi memang hasilnya sangat bergantung sama volume penjualan, perputaran, dan ayam yang terbuang.

Tips memulai usaha ayam potong

Dari ceritanya, ada sedikit saran yang mungkin bisa dijadikan pedoman awal bagi yang ingin menjajaki usaha ini.

Pertama, cari pemasok yang bisa konsisten dari segi harga, kualitas, ukuran ayam potong, dan waktu pengiriman. Kedua, mulai dengan mengambil stok sedikit demi sedikit. 

Pada awal penjualan, tidak peduli pasar sedang ramai, mengambil stok yang tidak terlalu banyak setidaknya membuat pedagang terjamin omzetnya di hari itu.

Penting untuk memahami pola dan perilaku konsumen setiap harinya agar mudah menentukan pengambilan stok ketika penjualan sudah mulai stabil.

Ketiga, kenali pelanggan yang rutin membeli. Jalin komunikasi intens agar pelanggan tersebut jadi loyal. 

Bangun hubungan jangka panjang dengan pemilik warung, katering, pecel lele, atau produsen makanan. Sebab, bisnis ini bisa bertahan bukan dari tinggi margin tapi dari besarnya volume penjualan harian. Selain itu, seorang pedagang juga harus ulet dengan berani berjualan pada dua waktu, yaitu pagi dan sore.

Kalau semua itu sudah bisa kamu lakukan, seorang pedagang ayam potong sudah bisa memperkirakan. Kalau hari ini ambil 80 kilogram, maka sekian kilogram dijual kepada penjual eceran, sekian lainnya dijual ke pelanggan tetap, dan sisanya bisa dialihkan dijual untuk sore hari.

BACA JUGA Bisnis rumahan mie ayam di pinggiran Jogja, untung 24 juta per bulan bikin ekonomi keluarga jadi stabil dan artikel inspiratif lainnya di rubrik CUAN.

Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.