Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
21 Agustus 2026
A A
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Ilustrasi-penjual ayam potong (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hidup sederhana dengan berjualan ayam potong di pinggir jalan namun malah dikacaukan dengan perubahan desil yang tidak masuk akal.

***

Setiap hari, Nisa (44) sudah berhadapan dengan ayam potong sejak matahari belum benar-benar muncul. Sekitar pukul 05.00 pagi, ia mulai berjualan ayam potong segar di pinggir jalan kawasan Gamping, Sleman dan akan pulang pukul 09.00.

Empat jam bekerja setiap pagi itu menghasilkan sekitar Rp1 juta sebulan untuknya. Angka itu bukan uang yang bisa membuat Nisa merasa sedang hidup berkecukupan.

Sebab, dari sana masih ada listrik, biaya les anak, kebutuhan rumah tangga, dan pengeluaran lain yang datang tanpa pernah menunggu kondisi keuangan sedang baik.

Desil berubah namun kesejahteraan hidup tetap stagnan

Karena itu, Nisa kaget ketika mengetahui status desil keluarganya berubah. Sebelumnya ia berada di desil 2. Kini namanya masuk kelompok desil 6-10.

Dalam sistem Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), desil merupakan pengelompokan masyarakat berdasarkan peringkat kesejahteraan. Desil 1 adalah kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, sementara desil 10 merupakan kelompok paling sejahtera.

Pemerintah menggunakan data ini sebagai salah satu dasar untuk menentukan sasaran berbagai program bantuan. Masalahnya, Nisa merasa hidupnya tidak pernah mengalami lompatan kesejahteraan sebesar itu.

Ia masih berjualan ayam dari pagi. Penghasilannya masih harus dibagi untuk berbagai kebutuhan keluarga. Tidak ada pemasukan besar yang membuatnya merasa sudah pantas adanya perubahan desil dan dipindahkan ke kelompok masyarakat mampu.

Perubahan desil itu berpotensi membawa konsekuensi yang cukup nyata

Nisa khawatir perubahan desil tersebut akan memengaruhi bantuan pendidikan yang selama ini diterima kedua anaknya. Salah satunya berkaitan dengan KIP Kuliah, sementara anak lainnya menerima Program Indonesia Pintar (PIP).

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Pemerintah memang mulai menggunakan DTSEN sebagai basis untuk memperbaiki ketepatan sasaran bantuan. Pada 2026, penerima KIP Kuliah diprioritaskan dari keluarga yang berada pada desil 1 sampai 4.

Data resmi Kemendikti Saintek juga menunjukkan bahwa penerima KIP Kuliah tahun ini banyak berasal dari keluarga yang terdata dalam desil 1-4.

Sementara PIP sendiri merupakan bantuan pendidikan untuk peserta didik dari keluarga miskin atau rentan miskin. Artinya, ketika sebuah keluarga tiba-tiba terbaca sebagai keluarga yang lebih sejahtera, wajar jika muncul kecemasan apakah bantuan yang selama ini menopang pendidikan anak akan ikut berubah?

Kekhawatiran terbesar justru ada pada urusan kesehatan

Ia selama ini tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan PBI, alias iurannya ditanggung pemerintah. Perubahan ke desil 6-10 membuatnya khawatir status tersebut ikut berubah menjadi peserta mandiri.

Kekhawatiran ini punya dasar yang lebih konkret. Pada 2026, pemerintah memang melakukan penyesuaian kepesertaan PBI berdasarkan DTSEN. Kelompok desil 6 sampai 10 tidak lagi menjadi kelompok prioritas penerima PBI dan digantikan oleh kelompok desil 1 sampai 5.

Dengan kata lain, bagi Nisa, desil bukan sekadar istilah yang muncul di aplikasi. Desil bisa berarti siapa yang membayar iuran BPJS bulan depan dan keberlanjutan bantuan pendidikan anak.

Data tidak identik dengan kenyataan masyarakat

Di sinilah persoalan perubahan desil menjadi lebih rumit. Sistem data dibutuhkan agar anggaran tidak bocor dan bantuan bisa diberikan kepada orang yang memang membutuhkan.

Iklan

Tetapi data juga bukan sesuatu yang selalu identik dengan kenyataan.

Idealnya, semakin kompleks sebuah sistem pendataan, semakin penting pula memastikan data tersebut benar-benar menggambarkan kehidupan orang yang didata.

Sebab kehidupan keluarga seperti Nisa tidak berjalan dalam bentuk tabel. Penghasilan bisa naik turun. Harga ayam bisa berubah. Pembeli bisa sepi. Biaya sekolah bertambah.

Tagihan listrik datang setiap bulan. Anak bisa membutuhkan uang untuk keperluan sekolah pada waktu yang sama ketika dagangan sedang tidak laku. Semua itu sulit diterjemahkan hanya menjadi satu angka perubahan desil.

Nisa tidak sedang meminta negara menganggapnya miskin. Ia hanya merasa ada yang keliru ketika kehidupannya dibaca sebagai keluarga desil 6-10, sementara setiap pagi ia masih berdiri menjajakan ayam potong demi mendapatkan sekitar Rp1 juta sebulan.

Tidak merasa menjadi lebih sejahtera, tetapi sistem data sudah lebih dulu menganggapnya demikian

Di antara meja jualan, ayam potong, tagihan listrik, biaya les anak, dan kekhawatiran soal BPJS, ada satu pertanyaan yang sebenarnya cukup sederhana.

Kalau kehidupan Nisa belum banyak berubah, mengapa status kesejahteraannya bisa berubah sejauh itu?

Untungnya, perubahan desil bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak bisa dipersoalkan. Masyarakat yang merasa datanya tidak sesuai dapat mengajukan pembaruan melalui aplikasi Cek Bansos maupun melalui pemerintah desa/kelurahan dan dinas sosial.

Meski langkah tersebut sudah dilakukan, untuk sementara Nisa tetap akan bangun pukul lima pagi, memotong dan menjual ayam sampai sekitar pukul sembilan.

Jam kerjanya masih sama. Penghasilannya masih segitu. Kebutuhannya juga belum berkurang. Hanya status kesejahteraannya yang tiba-tiba naik kelas.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nestapa Kelas Menengah yang Sebenarnya Tergolong Miskin, tapi Negara Nggak Mau Mengakuinya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2026 oleh

Tags: ayam potongbeasiswaBPJSbpjs kesehatandata ekonomidesilEkonomikip kuliahpenjual ayamperubahan desilPIP
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Persiapan Resign di Usia 30 Supaya Tidak Menderita dan Gila MOJOK.CO

Kebodohan atau Keberanian: Inilah yang Saya Siapkan ketika Memutuskan Resign Menjelang Usia 30 dan Hidup Sebagai WNI Kelas Menengah Supaya Tidak Berakhir Menderita dan Gila

18 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

TPU Farm: Ketika Cabai Tumbuh di Area Makam

17 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026

Punya 30 Kamar Kost Putri Ternyata Tidak Seindah yang Dibayangkan

19 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.