ADVERTISEMENT

Beli Rumah Pertama meski di Samping Kuburan dan Dianggap Aneh Mertua tapi Justru Beri Ketenangan

Beli Rumah Pertama di Samping Kuburan, Dicap Aneh tapi Tenang! MOJOK.CO

Bagi sebagian orang, membeli rumah pertama adalah perkara besar. Ada banyak pertimbangan yang biasanya muncul: harga, luas bangunan, akses jalan, lingkungan, sampai jarak dengan tempat kerja. Namun bagaimana rasanya memilih tempat tinggal yang berada di dekat kuburan?

***

Gunawan (32) dan istrinya, Ira (29), punya pertimbangan cukup unik dengan keputusan membeli rumah pertama. Mereka memilih bangunan yang berdiri persis di samping kuburan kampung. Rumah itu berada di sebuah kampung di Seyegan, Sleman. Luas bangunannya sekitar 25 meter persegi dengan dua kamar tidur, dapur, dan ruang tamu kecil.

Tanahnya sekitar 40 meter persegi, model yang lazim ditemukan pada bangunan kavling di kampung. Gunawan dan Ira membeli dari hasil tabungan selama berpacaran hingga menikah pada 2024. Bangunan itu masih baru dan belum pernah ditempati orang lain.

“Itu hitungannya memang baru, jadi belum pernah dipakai orang. Harganya menurut kami murah, tepatlah pilihan kami untuk membeli unit tersebut,” ujar Gunawan kepada saya melalui WhatsApp, Rabu (7/10/2026).

Rumah murah yang berdiri di sebelah kuburan

Harga menjadi pertimbangan pertama Gunawan dan Ira. Namun, bukan satu-satunya alasan mereka menjatuhkan pilihan. Dari ujung jalan kampung, mereka masih harus masuk gang untuk sampai ke tempat mereka. Hanya ada sekitar empat bangunan di sekitar tempat tinggal mereka. Kondisi itu membuat lingkungan terasa sepi.

“Selain karena murah juga karena di sini hitungannya masih tenteram dan sunyi. Lha bagaimana enggak sunyi, wong dekat dengan kuburan, hehe,” kata Gunawan.

Ada alasan praktis lain. Tempat tinggal mereka hanya berjarak sekitar 10–15 menit dari tempat kerja mereka di Godean. Artinya, Gunawan dan Ira tidak perlu menukar harga yang lebih terjangkau dengan waktu perjalanan yang panjang. Pilihan itu memang masuk akal dari sisi mereka. Namun, belum tentu masuk akal bagi keluarga dan teman-temannya.

Mertua sempat menganggap mereka aneh dan bikin khawatir

Keputusan membeli rumah di samping kuburan sempat memicu perdebatan dengan orang tua Ira. Kekhawatiran mertua Gunawan bukan soal ukuran atau akses jalan. Mereka lebih memikirkan anggapan yang selama ini melekat pada bangunan yang berdekatan dengan makam.

“Awalnya jelas muncul penolakan dari mertua saya karena rumah dekat kuburan akan identik dengan hal-hal horor. Tapi saya yakinkan ke ibu waktu itu bahwa kami akan baik-baik saja,” ujar Gunawan.

Teman-teman mereka juga tidak kalah usil. Gunawan bercerita, keputusan itu sempat menjadi bahan candaan.

“Dulu ditertawakan, soalnya dikira aneh kok mau-maunya beli bangunan di dekat kuburan. Dibilang enggak takut diganggu penunggu situ. Harusnya kan menjadi tempat tinggal pertama mereka yang berkesan,” katanya sambil menirukan ucapan teman-temannya.

Padahal, anggapan bahwa rumah dekat kuburan selalu menjadi pilihan buruk tidak sepenuhnya didukung penelitian tentang nilai properti.

Rumah dekat kuburan memang punya konsekuensi

Tesis Universitas Gadjah Mada yang meneliti pengaruh Makam Precet terhadap rumah di Kecamatan Manguharjo, Madiun, menemukan bahwa rata-rata nilai rumah di area yang terdampak keberadaan makam lebih rendah dibandingkan area pembanding.

Temuan itu menarik jika dibandingkan dengan kondisi rumah Gunawan dan Ira di Seyegan, Sleman. Mereka memang membeli rumah yang berada persis di samping kuburan, tetapi keputusan tersebut tidak semata-mata lahir karena rumah itu murah.

Dengan kata lain, kuburan di samping rumah Gunawan memang bisa menjadi pertimbangan bagi calon pembeli lain. Namun, bukan berarti keberadaan makam otomatis membuat sebuah rumah menjadi pilihan yang buruk.

Bagi Gunawan, persoalannya sederhana. Ia dan Ira melihat harga rumah, kondisi bangunan, lingkungan yang tenang, serta jaraknya dengan tempat kerja. Kuburan yang berada tepat di sebelah rumah justru mereka anggap sebagai konsekuensi dari mendapatkan rumah dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut.

“Kalau kami sendiri sejauh ini enggak merasa terganggu. Malah enak karena suasananya tenang,” ujar Gunawan.

Tetangga malah menjadi pengingat agar mereka berhati-hati

Setelah tinggal di sana, Gunawan dan Ira justru mendapat perhatian dari tetangga sekitar. Beberapa warga sempat mengingatkan mereka mengenai kondisi air tanah. Jika suatu saat air dari rumah mereka mengalami masalah, tetangga menawarkan air mereka sembari menunggu solusi lain.

“Kalau misal nanti air tanahnya ada bau apa-apa, bisa pakai air saya dulu, nanti baru pasang PAM,” ujar Gunawan menirukan pesan tetangganya.

Perhatian semacam itu membuat keputusan yang semula dianggap aneh perlahan terasa biasa. Kuburan memang tetap berada di samping mereka. Namun, kehidupan mereka tetap berjalan seperti rumah tangga pada umumnya. Tidak ada cerita tentang gangguan mistis yang membuat mereka ingin pindah meski sudah tinggal setahun lamanya. Tidak ada pula alasan baru untuk menyesali keputusan tersebut.

Rumah pertama yang justru memberi ketenangan

Bagi Gunawan, salah satu keuntungan terbesar  mereka justru datang dari sesuatu yang membuat orang lain takut: kuburan. Lingkungan yang sepi membuat lalu lintas di depan rumah tidak terlalu ramai. Pohon-pohon kamboja di sekitar makam juga menjadi tempat burung hinggap.

“Ada beberapa keunggulannya. Yang pertama jelas sunyi, tidak ramai lalu lalang. Terus biasanya masih banyak burung yang hinggap di pohon-pohon kamboja dalam kuburan, jadi lebih syahdu,” katanya.

Lalu ada satu keuntungan yang menurut Gunawan paling tidak masuk akal tetapi justru ia sukai.

“Yang paling penting, tidak ada tetangga yang berani malam-malam nongkrong di teras rumah kami, hahaha,” jelas Gunawan.

Rumah pertama Gunawan dan Ira memang tidak memenuhi gambaran rumah ideal bagi pasangan muda. Letaknya terlalu dekat dengan kuburan untuk sebagian orang. Namun, mereka tidak membeli rumah untuk memenuhi standar orang lain.

Mereka membeli tempat tinggal tersebut karena harganya masuk, tempat kerjanya dekat, lingkungan sepi, dan rumahnya masih baru. Untuk sementara, kuburan di sebelah rumah itu bukan alasan untuk pergi. Justru menjadi bagian dari keputusan yang mereka syukuri.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Pasang WiFi di Rumah: Lepas Kendali Merusak Hidup dan Mental karena Terkungkung Layar HP  atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.