Bagi pasangan muda, tinggal di kampung berarti punya banyak tetangga yang siap membantu ketika sedang kesusahan. Sedangkan kontrak rumah di perumahan terkesan egois dan acuh tak acuh. Padahal, permasalahannya tidak sesederhana itu.
***
Bagi Amin (28) dan Nisa (27), kedekatan dengan tetangga justru pernah terasa melelahkan. Pasangan asal Banjarnegara ini sudah lebih dari sembilan tahun tinggal di Jogja untuk kuliah dan bekerja. Setelah menikah tiga tahun lalu, keduanya memilih mengontrak rumah di kawasan Seyegan, Sleman.
Awalnya mereka mengira tinggal di kampung hanya soal mencari rumah yang nyaman dengan harga terjangkau. Namun, setelah setahun menetap, mereka menemukan persoalan yang tidak ada dalam perhitungan: kehidupan sosial tetangga yang menurut mereka terlalu ramai.
Pasangan muda dan kehidupan kampung yang terlalu dekat
Amin bercerita, obrolan antarwarga di lingkungan tempat mereka tinggal bisa berlangsung kapan saja. Arisan, cangkrukan, hingga rapat RT menjadi ruang bagi warga untuk membicarakan banyak hal, termasuk kehidupan orang lain. Bagi Amin dan Nisa, masalahnya bukan sekadar obrolan tetangga. Mereka merasa pembicaraan itu sering berkembang menjadi membandingkan kondisi ekonomi dan kehidupan keluarga.
“Kadang kami merasa orang-orang itu terlalu tahu urusan orang lain. Siapa beli apa, motornya apa, kerja di mana, penghasilannya berapa, itu bisa jadi bahan obrolan,” ujar Amin ketika ditemui Mojok, Rabu (09/09/2026).
Nisa merasakan hal serupa. Sebagai pasangan yang baru membangun rumah tangga, ia sebenarnya ingin menjalani kehidupan bersama suaminya tanpa terlalu banyak campur tangan dari lingkungan.
“Sebenarnya kami tidak masalah bertetangga. Cuma kalau sudah terlalu masuk ke urusan pribadi, itu yang bikin tidak nyaman,” katanya.
Situasi tersebut bukan berarti kehidupan kampung selalu buruk. Justru kedekatan antarwarga memang menjadi salah satu ciri kehidupan masyarakat desa. Interaksi masyarakat desa cenderung lebih intens, personal, dan membuat warga saling mengenal. Solidaritas sosialnya juga lebih kuat. Namun, bagi Amin dan Nisa, kedekatan semacam itu tidak selalu cocok dengan kebutuhan pasangan muda yang ingin punya ruang privat.
Rasan-rasan tetangga sampai urusan rumah tangga
Yang membuat mereka semakin tidak nyaman adalah ketika komentar tetangga mulai menyentuh keputusan rumah tangga. Amin mencontohkan, mereka pernah mendapat masukan soal kendaraan. Tetangga menyarankan motor dengan spesifikasi tertentu karena dianggap lebih cocok untuk kebutuhan mereka. Masalahnya, menurut Amin, saran itu tidak berhenti sebagai saran.
“Misalnya soal motor, diarahkan harus beli yang begini karena nanti begini. Soal anak juga sudah diarahkan sekolah di mana. Padahal kami saja belum punya anak,” ujarnya.
Bagi pasangan ini, nasihat semacam itu mungkin saja diberikan dengan niat baik. Namun, frekuensinya membuat mereka merasa kehidupan rumah tangganya seperti menjadi konsumsi bersama.
“Bukan karena kami mau tetangga yang memang cuek bebek. Kami tetap mau bertetangga. Cuma ya seperlunya saja. Kalau memang butuh bantuan, kami juga akan membantu. Tapi tidak perlu semua urusan kami diketahui,” jawabnya.
Kontrak rumah di perumahan memang lebih mahal namun mental aman
Setelah sekitar setahun tinggal di kampung, Amin dan Nisa akhirnya mencari kontrakan lain. Pilihan mereka jatuh pada sebuah perumahan di kawasan Godean, Sleman. Harga sewanya lebih mahal dibandingkan rumah kontrakan sebelumnya. Namun, bagi mereka, selisih biaya tersebut terasa sepadan dengan ketenangan yang didapat.
“Kalau dihitung uang memang lebih mahal. Tapi kalau dihitung dengan mental, kami merasa lebih tenang,” kata Amin.
Lingkungan perumahan yang mereka tempati justru terasa lebih individualistis. Tetangga tidak terlalu sering berkunjung atau mengajak berbincang. Mereka juga tidak selalu tahu aktivitas penghuni rumah sebelah.
Anehnya, kondisi yang sering dianggap sebagai kekurangan perumahan itu justru menjadi kelebihan bagi Amin dan Nisa. Mereka tidak perlu menjelaskan keputusan membeli barang tertentu. Tidak perlu ikut membahas rumah tangga tetangga. Dan tidak perlu khawatir kehidupan pribadi mereka menjadi bahan pembicaraan dalam forum warga.
Pasangan muda ternyata memilih tetangga yang tidak terlalu peduli
Bagi Amin dan Nisa, individualistis bukan selalu berarti tidak peduli. Ada perbedaan antara tidak peduli dengan tahu batas. Keduanya tetap mengikuti kegiatan lingkungan ketika memang diperlukan. Mereka juga tetap berinteraksi dengan tetangga. Hanya saja, intensitasnya tidak seperti ketika tinggal di kampung sebelumnya.
Bahkan soal kegiatan 17 Agustus, mereka menemukan perbedaan yang cukup mencolok. Ketika tinggal di kampung, mereka mengaku pernah diminta membayar iuran lebih dari Rp200 ribu per kepala keluarga. Di perumahan, iuran 17-an yang dibayarkan hanya sekitar Rp50 ribu. Itu pun, menurut mereka, pengurus RT tidak memburu-buru warga untuk segera membayar.
“Di perumahan malah kami merasa lebih santai. Iurannya lebih kecil dan tidak terasa seperti kewajiban yang dikejar-kejar,” ujar Nisa.
Pengalaman mereka menunjukkan bahwa kehidupan bertetangga tidak selalu soal seberapa dekat hubungan antarwarga. Bagi pasangan muda seperti Amin dan Nisa, batas pribadi juga menjadi bagian dari kenyamanan.
Rumah kontrakan yang dibayar dengan ketenangan
Kehidupan kampung dan perumahan sama-sama punya konsekuensi. Kampung menawarkan interaksi sosial yang lebih rapat, sementara perumahan memberi ruang yang lebih longgar antarwarga. Sosiolog Drajat Tri Kartono menjelaskan bahwa pola interaksi masyarakat desa memang cenderung didasarkan pada rasa saling memiliki. Karena itu, hubungan antarwarga bisa menjadi lebih personal dibandingkan masyarakat perkotaan yang interaksinya lebih banyak berdasarkan fungsi.
Bagi Amin dan Nisa, persoalannya bukan memilih mana yang lebih baik. Mereka hanya menemukan lingkungan yang lebih cocok untuk kehidupan rumah tangga mereka.
“Kalau kami lebih nyaman seperti sekarang. Tetangga tidak terlalu ikut campur, tapi kalau ada kebutuhan tetap bisa saling membantu,” kata Amin.
Pada akhirnya, mereka rela membayar kontrakan lebih mahal bukan untuk mendapatkan rumah yang lebih mewah. Mereka hanya ingin pulang ke rumah tanpa perlu memikirkan apa yang akan dibicarakan tetangga tentang kehidupan mereka setelah pintu ditutup. Bagi pasangan muda ini, ketenangan ternyata juga punya harga sewa.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
Editor: Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan