Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 April 2026
A A
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Ilustrasi Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif(Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Buat sebagian orang, slow living di perumahan jauh lebih damai daripada di desa yang dianggap malah bikin stres. Minusnya, paling-paling kita cuma dicap sombong dan sok eksklusif.

***

Belakangan ini, ada sebuah kesadaran kolektif yang menyebar di kalangan kelas menengah, Gen Z, bahkan Milenial. Mimpi untuk lari dari kepenatan kota dan mencari slow living di desa, pelan-pelan mulai dicoret dari wishlist. 

Orang-orang kota mulai sadar, desa bukanlah tempat pelarian yang ramah untuk mental mereka.

Coba saja tengok linimasa Threads, media sosial yang belakangan jadi tempat curhat yang menurut saya paling jujur. Ada sebuah perdebatan ramai yang kesimpulannya sangat menohok: desa sudah bukan lagi tempat yang pas buat slow living.

Salah seorang pengguna, menulis dengan gamblang, “Zaman sekarang kalau mau slow living itu bukan di desa, tapi di perumahan cluster. Tetangga kebanyakan nggak di rumah, suasana hening, one-gate system.” 

Di kolom balasan, ribuan orang mengamini. Mereka sadar bahwa tinggal di desa berarti harus siap menghadapi hajatan yang memblokir jalan, wajib sering berinteraksi yang menyedot energi, hingga–paling sederhana–repot kalau mau sekadar mencari tempat ngopi.

Generasi muda tak butuh tanah yang luas

Menariknya, curhatan di Threads itu ternyata bukan sekadar keluh kesah di medsos. Kalau kita menengok data di lapangan, tren pasar properti mengonfirmasi pergeseran fenomena ini. 

Laporan survei sentimen konsumen yang dirilis oleh portal properti ternama seperti Rumah.com atau 99.co menunjukkan fakta sejalan.

Dulu, generasi orang tua kita mungkin mencari rumah dengan pekarangan luas atau posisinya di pinggir jalan raya agar kelak bisa buka warung. Sekarang? Generasi muda rela menukar luas tanah itu demi bisa tinggal di dalam sistem perumahan yang tertutup. 

Fitur keamanan, sistem satu gerbang (one-gate system), privasi tinggi, dan ketersediaan jaringan internet kabel kini menempati urutan teratas alasan orang membeli rumah. 

Artinya, secara statistik, penganut slow living zaman sekarang memang lebih memilih mengisolasi diri.

Belajar dari “korban viral”, ogah slow living di desa 

Salah satu narasumber Mojok, Heru (32), adalah salah satu contoh nyata dari pergeseran tren ini. Dua tahun lalu, pekerja di sebuah agensi digital ini sempat berencana membeli sepetak tanah murah di sebuah desa pinggiran kota. 

Niatnya mulia: ia ingin membangun rumah mungil yang estetik, memelihara kucing, dan bekerja di depan laptop sambil menghirup udara segar.

Iklan

Namun, rencana itu ia batalkan mentah-mentah. Heru memilih putar balik dan akhirnya mengambil KPR di sebuah perumahan cluster menengah di wilayah Bogor. 

“Saat itu pertimbangannya karena banyak-banyak belajar dari cerita korban-korban konten slow living di desa. Banyak yang nyoba, ternyata desa nggak seramah di konten,” ujarnya, Rabu (8/4/2026) malam.

Dari cerita-cerita itulah Heru sadar, ekosistem sosial di desa terlalu keras untuk mental pekerja remote sepertinya. Heru tahu kapasitas dirinya. Ia butuh ruang personal mutlak. 

Ia tidak sanggup hidup di lingkungan yang “mengharamkan” pintu rumah tertutup di siang hari, harus berbasa-basi dengan tetangga, hingga banyaknya agenda sosial yang menyedot energi. Kini, setelah setahun menghuni perumahan cluster miliknya, Heru merasa menemukan slow living yang sesungguhnya. 

“Ketenangan yang saya dapatkan bukanlah pemberian alam. Nyatanya, ketenangan bisa kok datang dari fasilitas kami beli dan bayar setiap bulan.”

Tak semua desa memang cocok buat slow living

Mojok sendiri pernah memotret pengalaman serupa Heru. Ada kisah Kevin, lelaki “financial freedom” asal Jakarta yang nekat slow living di Salatiga. Bukan mendapat kenyamanan, ia malah dibikin kena mental sama kultur di desa. 

Ada juga kisah Dimas, yang setelah menikah memutuskan pulang ke desa untuk menikmati hidup lambat sambil buka usaha kecil-kecilan. Bukannya tenang, mereka malah dibikin stres oleh mulut tetangga.

Dua kisah ini dapat dibaca dalam liputan berjudul (1) “Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung” dan (2) “Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa”.

Senada dengan dua kisah tersebut, bagi Heru, budaya “bodo amat” di perumahan–kalaupun guyup sifatnya transaksional–adalah sebuah kemewahan baginya. Di perumahan, ia bebas melakukan apa saja tanpa takut dinilai tetangga. Sementara di desa, absen kerja bakti atau tidak datang tahlilan bisa membuat seseorang dikucilkan.

Baca halaman selanjutnya…

Slow livin di perumahan memang damai, tetangga tak ada yang ikut campur. Tapi kudu siap dicap sombong.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 April 2026 oleh

Tags: anak mudaDesaGen Zharga perumahanmilenialperumahanperumahan clusterpilihan redaksislow livingslow living di desaslow living di kotaslow living di perumahanurban
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

29 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO
Sehari-hari

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Usul Menteri PPPA soal pindah gerbong perempuan di KRL hanya solusi instan, tak menyentuh akar persoalan MOJOK.CO

Usulan Menteri PPPA Pindah Gerbong Perempuan di KRL Solusi Instan: Laki-laki Merasa Jadi Tumbal, Tak Sentuh Akar Persoalan

29 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.