Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 April 2026
A A
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Melihat tren konten slow living di media sosial akhir-akhir ini kadang bikin senyum-senyum sendiri. Banyak orang kota, khususnya Jakarta, meromantisisasi kehidupan desa. Mulai dari bangun pagi disambut kabut, ngopi di teras menghadap sawah, dan hidup tenang jauh dari kemacetan ibu kota. 

Padahal, “brosur” keindahan itu jarang mencantumkan satu syarat mutlak untuk bertahan hidup di desa: srawung.

Hidup mapan di Jakarta, memutuskan slow living ke desa

Kevin (35), salah satu kawan saya, adalah salah satu orang yang harus menelan pil pahit dari ekspektasi tersebut. Di usia awal tiga puluhan, sebenarnya Kevin sudah mencapai impian banyak pekerja Jakarta. Ia punya istri, satu anak usia tiga tahun, dan kondisi finansial yang sangat mapan.

Sumber uang Kevin mengalir deras dari beberapa pintu. Sebagai old money, ia mengelola bisnis keluarga yang sudah “auto-pilot”. Ia juga punya hobi jual-beli merchandise band yang keuntungan bulanannya cukup untuk menghidupi keluarga. 

Yang paling bikin tenang, Kevin punya instrumen investasi berupa portofolio saham blue-chip dan perbankan yang rutin membagikan dividen. Singkat kata, Kevin sudah menyentuh level kebebasan finansial alias financial freedom. Ia tak perlu lagi pusing memikirkan gaji bulanan.

Berbekal kebebasan finansial itu, pada tahun 2022 lalu saat pandemi mulai mereda, Kevin memutuskan membawa keluarganya pindah ke kampung halaman sang istri di sebuah desa di Salatiga, Jawa Tengah. Niatnya satu, yakni buat slow living. 

“Niatnya sih ingin pensiun dini dari hiruk-pikuk kota. Bayangin dulu aja enaknya jadi bapak-bapak santai yang tiap pagi mengantar anak sekolah, memelihara burung, ngopi di teras sambil memantau grafik saham,” kata dia, Minggu (5/4/2026.

Namun, gagasan ideal itu nyatanya cuma bertahan kurang dari satu tahun.

Saking tertutupnya sampai dianggap punya pesugihan

Bulan-bulan pertama di Salatiga, Kevin bahkan sudah mulai merasakan ada yang salah. Akar masalahnya ada pada gaya hidup individualis khas orang kota yang tak sengaja ia bawa ke desa. 

“Di Jakarta, nutup pintu seharian udah biasa dong. Berarti tuan rumah sedang sibuk, butuh privasi, atau ya sekadar nggak pengen diganggu. Nah, di desa nggak gitu,” jelasnya.

Kata Kevin, di desa aturannya beda total. Pintu rumah yang tertutup rapat dari pagi sampai sore dianggap sebagai “pelanggaran sosial”. Tetangga akan mengira pemilik rumah sedang sakit, nggak ada di rumah, atau yang paling nggak enak dianggap sombong karena sengaja membatasi diri dari lingkungan.

“Itu culture shock pertama waktu aku ke desa. Kalau di rumah, apalagi sedang di teras, ya pintu wajib dibuka.”

Lucunya lagi, masalah Kevin tidak berhenti di situ. Warga desa, kata dia, punya standard pekerjaan yang sangat rigid: kalau tidak pakai seragam dinas, ya pergi pagi pulang sore ke tempat kerja. 

Alhasil, melihat keseharian Kevin, tetangga pun kebingungan. Ada bapak-bapak sehat, kerjanya cuma duduk di teras pakai celana pendek, main burung, tapi tiap hari ada kurir paket datang membawa belanjaan online. Mobilnya pun bagus dan istrinya sering jajan.

Iklan

Karena tidak paham konsep passive income atau dividen saham, imajinasi liar ibu-ibu tetangga mulai bermain. Desas-desus menyebar cepat. Ada yang mengira Kevin main judi online. 

“Paling parah, dulu ada yang nyangka kalau aku punya pesugihan. Memelihara tuyul gitu. Soalnya kayak nggak ngapa-ngapain tapi tiap hari tukang paket datang.”

Warga desa sebenarnya sungkan dengan orang Jakarta yang tertutup

Melihat kasus Kevin ini, jujur saja saya sangat paham. Sebagai orang yang sejak lahir dan besar di desa, fenomena “orang kota cari ketenangan” semacam ini sudah sering saya saksikan.

Banyak pendatang dari kota membeli atau menyewa rumah di desa, tapi kemudian memilih hidup di balik tembok tinggi dan pagar yang digembok. Mereka biasanya cuma keluar rumah saat mau ke belanja atau mengambil paket dari kurir. Interaksi dengan tetangga sebelah rumah nyaris tidak ada.

Dulu, saya dan teman-teman karang taruna di desa sering merasa serba salah menghadapi warga model begini. Saat kami mau menyebar undangan kerja bakti atau acara tahlilan, rasanya sungkan luar biasa. Rumah mereka sepi dan tertutup rapat. 

Bukannya kami kepo atau sengaja mau mengganggu privasi. Kami sangat sadar dan menghormati kalau itu memang pilihan hidup mereka.

Namun, masalahnya, nyawa utama dari kehidupan desa itu ya srawung, alias bergaul dan membaur. Kalau memang mau hidup seutuhnya sendirian tanpa tegur sapa dan tanpa mau tahu urusan tetangga, sebenarnya lebih cocok tinggal di apartemen di Jakarta, bukan di kelurahan.

Baca halaman selanjutnya…

Srawung di desa bikin orang kota terkuras energinya. 

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: daerah untuk slow livingjakartakehidupan di desapekerja jakartapilihan redaksisalatigaslow livingslow living di desaslow living di salatigasrawung
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO
Cuan

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Gagal daftar CPNS usai lulus Unair, pilih slow living di Bali. MOJOK.CO

Gagal CPNS karena Dipaksa Orang Tua usai Lulus dari Unair, Pilih “Melarikan Diri” ke Bali daripada Overthinking dan Hidup Bahagia

13 April 2026
Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.