Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
2 Maret 2026
A A
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living

Ilustrasi - Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jogja terkenal dengan budaya menikmati hidupnya. Dalam istilah lain, budaya hidup ini dikenal sebagai slow living. Namun, bagi pekerja Jakarta yang terbiasa sat set, kebiasaan ini justru menguras mental dan emosi.

***

Zanur (25) adalah pekerja asal Jakarta yang sudah berkecimpung di industri kreatif selama empat tahun, sebelum dirinya memutuskan pindah ke Jogja.

Dalam bayangan perempuan yang namanya disamarkan demi alasan profesional ini, bekerja di dua tempat ini tidak akan terlalu berbeda. Bayangan yang hanya menjadi bayangan ketika Zanur dihantam realitas, bahwa bekerja di Jakarta dan Jogja jauh berbeda.

Pekerja Jakarta terkenal “sat set”

Sebagai kota metropolitan, Jakarta disebut hampir tidak pernah tidur. Mirip-mirip dengan pekerjanya yang tersedia hampir 24/7.

Mereka selalu sedia dan siaga dalam menghadapi pekerjaan, serta siap melakukan apa pun untuk kebutuhan kerjanya. Jam kerja formal yang terbatas pada pukul 09.00 sampai 17.00 WIB pun hanya menjadi ketentuan tertulis.

Setidaknya itulah gambaran ideal yang tidak ideal yang ditangkap Zanur dan pekerja Jakarta umumnya. Ia menilai, ini sesuai dengan kebutuhan kecepatan dan ketangkasan sebagai pekerja di Jakarta.

Terkhusus, industri kreatif. Zanur bilang, kedua hal ini menjadi kunci. Pekerja harus sat set untuk menghindari risiko tersandung masalah kalau-kalau lamban.

Menurut Zanur, hal ini juga berhubungan dengan industri kerjanya dari industri kreatif. Sebab berbagai bidang yang saling bersinggungan, ada banyak ketidakpastian yang harus dipastikan dengan bersikap cepat.

“Jadi, memang banyak sekali yang berkaitan dalam industri kreatif ini. Yang kita butuhin dalam industri kreatif ini itu fast response, karena kan banyak ketidakpastian,” katanya, Minggu (1/3/2025).

Kapasitas itu, Sanur menilainya sebagai sesuatu yang ideal. Sebab, kerja dapat dilakukan secara profesional penuh tanpa keterikatan personal, seperti karakteristik seseorang, misal, menyukai penundaan.

“Aku akui, Jakarta itu ideal sekali memang dalam budaya kerjanya. Karena apa? Mereka memang bekerja secara profesional itu, dalam artian mereka tidak memandang konteks personal,” jelasnya.

Dalam hal ini, Zanur melihat para pekerja Jakarta yang tahan banting. Mereka seakan-akan siap bertempur di bawah tekanan saat bekerja. Akan tetapi, keunggulan ini juga dipahami sebagai pandangan pekerja Jakarta yang satu visi, yaitu untuk menyukseskan acara.

“Mereka sadar kalau berada di bawah tekanan, dan fokus sama tujuan menyukseskan acara,” simpulnya.

Iklan

Lain di Jakarta, lain di Jogja yang cenderung “lelet”

Sayangnya, konsep ideal yang Zanur pahami harus runtuh begitu harus bekerja di Jogja mulai tahun lalu.

Perempuan yang kini kerja di Jogja itu mengaku tidak terbiasa dengan budaya kerja Jogja yang mengarah kepada slow living, tidak serbacepat seperti yang biasa dilakukannya.

Bagi Zanur, hal ini terasa cukup mengganggu mengingat skema kerjanya yang fleksibel. Artinya, mereka tidak harus bertemu, bahkan cenderung tidak bisa, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan. Ini juga menjadi masalah pertama dalam pekerjaannya.

“Yang paling mengganggu yang pertama, karena tadi ya kita kan kerja-kerja kreatif. Jadi tadi kita gak bisa benar-benar kayak tiap hari ketemu,” katanya.

Belum lagi, Zanur bilang, mereka harus meluangkan waktu untuk setumpuk pekerjaan lainnya. Mulai dari rapat koordinasi sampai mengurusi perintilan menarik perhatian yang tidak boleh dilewatkan.

Di saat seperti itu, komunikasi menjadi satu-satunya solusi yang bisa menengahi situasi kerja yang tidak saling bertemu.

“Jadi yang menjadi hambatan pertama adalah perihal komunikasi, dan alhamdulillah kita di era hari ini udah dimudahkan dengan adanya handphone,” katanya.

Sayangnya, beda di Jakarta beda di Jogja. Jakarta yang memprioritaskan kerja tidak sama dengan Jogja yang menurut , tidak menempatkan kerja sebagai nomor satu. Oleh karena itu, dia mengaku mengalami kendala tambahan dari komunikasi ini, yaitu arus informasi yang tidak lancar.

Salah satu sebabnya, pekerja yang terlalu santai. Alias, slow living…

Baca halaman selanjutnya…

Orang Jogja yang terlalu santai, hampir mendekati malas, bikin pekerja Jakarta gemas

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: bekerja di jakartagaji pekerja jakartakerja di jakartakerja di jakarta vs jogjakerja di jogjalowongan kerja di jakartalowongan kerja di jogjapekerja jakartapekerja jakarta di jogjapekerja jogjapilihan redaksislow living di jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan
Urban

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lolos seleksi CPNS dalam sekali coba tanpa bimbel. Setelah jadi PNS ASN malah tersandera stigma MOJOK.CO

Lolos Seleksi CPNS dalam Sekali Coba, Aman Finansial tapi Hidup “Tersandera” karena Leha-leha Dapat Gaji Buta

13 April 2026
Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.