Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
2 Maret 2026
A A
Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living

Ilustrasi - Pekerja Jakarta vs pekerja Jogja yang slow living (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Terlalu santai dan sulit diajak komunikasi

Yang dimaksudkan Zanur dengan “slow” adalah sikap tidak langsung sigap dalam berkomunikasi. Jadi, biasanya, dia menemukan komunikasi akan terhambat dengan balasan yang tidak cepat.

Misalnya, dengan balasan cepat yang bisa mempersingkat waktu, pekerjaan bisa selesai dalam satu jam.

Namin, karena pekerja Jogja yang menikmati hidupnya kelewat syahdu, butuh waktu lebih banyak untuk menyelesaikannya. Bisa satu jam lebih, bisa berjam-jam lamanya, atau bahkan satu hari.

Intinya, kebiasaan jelek dalam berkomunikasi ini mengacaukan segalanya.

“Biasanya pasti komunikasi karena harus memastikan. Kalau kendala, misalnya dalam satu jam, tapi tidak fast response jadinya terhambat,” kata Zanur.

“Jadi mundur lagi,” tambahnya menyayangkan.

Dari kesalahan sekecil ini, Zanur bilang imbasnya bisa berujung pada berbagai masalah. Bisa jadi, pekerjaan akan terundur menjadi satu jam, atau lebih dari beberapa jam berikutnya baru bisa diselesaikan.

Ditambah, mereka bisa dihadapkan pada kemungkinan mendadak. Bisa berhenti mendadak, atau mengganti vendor secara mendadak, atau bahkan melanjutkan secara mendadak jadi atau tidaknya.

“Katakan misalnya kita udah deal, oke ini 2 minggu kelar ya, tapi dia belum ada kepastian misalnya dari vendornya. Itu pada akhirnya yang membuat menghambat, sehingga kan kita banyak hal-hal yang sifatnya nanti jadinya dadakan, yang seharusnya padahal tidak dadakan, karena udah kita plan, udah kita plan seideal mungkin, tapi tadi karena komunikasi terhambat, jadinya semua serba dadakan,” katanya menjelaskan.

Gemas dengan orang Jogja yang terlalu santai

Penemuan masalah semacam itu semakin sering, lebih dari sekali, ketika Zanur berpindah ke Jogja. Katanya, ia menemukan masalah-masalah komunikasi yang tidak terkendali.

Alasan utamanya, dari pengamatan Zanur, adalah budaya slow living yang kental. Jadilah, mereka bisa seolah menunda-nunda dan tidak terburu-buru pada tenggat pekerjaan.

Ini jelas berbeda dengan pekerja Jakarta. Hidup mati hanya soal kerja.

“Setelah pindah ke Jogja itu, banyak sekali yang kutemukan perihal komunikasi, mungkin aku nggak bisa judge, tapi maksudnya mungkin Jogja terkenal dengan budaya slow living gitu ya, kayak beda gitu intensitasnya terhadap pekerjaan,” jelasnya.

Zanur memberikan contoh, ketika dirinya memesan vendor di Jakarta. Yang terjadi adalah pekerja Jakarta yang mengejar-ngejar dirinya untuk membuat penawaran.

Iklan

Sementara itu, pekerja Jogja justru sebaliknya.

Ia yang harus memastikan segala halnya, bahkan sampai berusaha menemui vendor secara langsung demi memastikan.

“Misalnya kita baru bertanya nih di Jakarta, mereka tahu karena mereka butuh uang gitu lho jadi mereka intens untuk mem-follow up kita,” katanya.

“Nah di Jogja ini udah hampir 2-3 kali aku temukan, malah misalnya aku yang mau beli ini kan, aku yang membutuhkan, memang sama-sama membutuhkan ya, tapi maksudnya ada keunikan ini harus aku yang kejar terus,” tambah dia.

Apabila membandingkan, Zanur mengakui harga di Jogja memang lebih murah. Secara Upah Minimum Provinsi (UMP) saja, DKI Jakarta senilai Rp5,7 juta sedang Jogja hanya Rp2,8.

Namun buatnya, perbedaan harga ini justru berbicara soal kualitas secara tidak langsung. Jakarta jauh mengungguli Jogja.

Pada akhirnya, ia bilang, bisa jadi pekerja Jogja tidak benar-benar bekerja. Melainkan, hanya sekadarnya karena terbiasa sederhana dan tidak ada tuntutan penghasilan—gambaran slow living sesungguhnya.

“Aku merasa kayak, wah ini, apakah orang Jogja gak butuh uang gitu?” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Modal Ijazah SMA Merantau ke Jakarta demi Hidup Lebih Baik Malah Bernasib Sial, Pindah ke Jogja Makin Ngoyo Hidupnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: bekerja di jakartagaji pekerja jakartakerja di jakartakerja di jakarta vs jogjakerja di jogjalowongan kerja di jakartalowongan kerja di jogjapekerja jakartapekerja jakarta di jogjapekerja jogjapilihan redaksislow living di jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.