Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Februari 2026
A A
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Ilustrasi - Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pertama kali merantau ke Jogja menjadi momen tidak mudah bagi Akbar (24). Sebab, kerja palugada sebagai waiters merangkap tukang bersih-bersih di sebuah coffee shop, dia hanya menerima gaji sebesar Rp10 ribu perhari. 

***

Berpakaian serba rapi, Akbar menemui saya di bilangan Ngaglik, Sleman, pada Minggu (22/2/2026) malam, selepas tarawih. Dia Baru saja pulang dari meeting dengan sejumlah klien untuk keperluan iklan di bulan Ramadan. 

Akbar kini bekerja di bidang marketing sebuah brand olahan herbal di Jogja. Dari yang Akbar ceritakan, gajinya jauh lebih baik ketimbang masa-masa awalnya merantau ke Jogja pada awal 2024 silam. 

“Alhamdulillah, Mas, sekarang kusyukuri dan kujalani aja,” ujarnya saat saya ucapkan syukur karena pekerjaannya terbilang lancar. Gaji juga sudah ada di angka Rp3 jutaan. 

Merantau ke Jogja, tak tahu mau kerja apa

Kalau mau rasional, harusnya Akbar mencoba bertarung di Surabaya-Sidoarjo terlebih dulu setelah lulus kuliah, kalau mau cepat dapat pekerjaan. Akan tetapi, pemuda asal Sidoarjo itu merasa butuh tantangan. 

Entah kenapa, saat itu Jogja begitu menarik baginya. Dalam bayangannya, Jogja sebagai episentrum industri kreatif, menyediakan peluang kerja yang luas. 

“Walaupun sebenarnya juga belum tahu, memang mau kerja apa waktu itu,” kata Akbar sembari terkekeh mengenang masa-masa penuh kenekatan tersebut. 

Memang banyak industri kreatif yang berkembang di Jogja. Sektor swasta juga banyak. Masalahnya, belum tentu mudah keterima kerja. Rasanya susah sekali mendapat pekerjaan. 

Karena sebelum berangkat merantau ke Jogja, Akbar sudah mengirim lamaran kerja ke sejumlah tempat yang membuka lowongan. Tapi sampai tiba di Jogja pun dia masih terancam luntang-lantung. 

Kerja sesaat terus luntang-lantung (lagi)

Untung saja Akbar sempat diterima kerja di sebuah lembaga penelitian situs cagar budaya. Gajinya sudah Rp3 jutaan. Dia pun bisa menyewa kos di daerah Kota Jogja, walaupun untuk harga sewa yang murah. 

Hanya saja, pekerjaan itu tidak berlangsung lama bagi Akbar. Sebab, setelah tiga bulan, kontraknya tidak diperpanjang. 

“Saat itu untungnya aku punya tabungan dari kerja tiga bulan. Dapat pesangon juga. Lumayan buat makan, walaupun memang harus diirit-irit sampai dapat pekerjaan lagi,” kata Akbar. 

Kerja di coffee shop Jogja, gaji Rp10 ribu perhari

Dalam kesulitan itu, Akbar menghadap seorang senior kampusnya di Surabaya dulu yang ternyata punya usaha coffee shop di Jogja. Berharap dia bisa dipekerjakan, sementara waktu sampai dia dapat pekerjaan baru. 

Iklan

Kata Akbar, saat itu situasinya sebenarnya agak berat bagi senior kampusnya tersebut. Sebab, dia sudah punya beberapa karyawan. Selain itu, saat-saat itu omzet coffee shop sedang tidak bagus dalam beberapa bulan terakhir. 

“Tapi karena dia kasihan sama aku, akhirnya aku ditampung. Cuma dia memang nggak berani ngasih gaji sebagaimana karyawan asli situ,” kata Akbar. 

Akbar mengaku kerja selama 12 jam, tapi hanya akan menerima gaji sebesar Rp10 ribu untuk pekerjaannya sebagai waiters. Akan tetapi, si senior memberi keleluasaan Akbar untuk makan setidaknya dua kali di coffee shop tersebut. 

“Ya nggak apa-apa, Mas. Lumayan, paling nggak saya bisa makan gratis. Uang Rp10 ribu buat bensin. Dengan begitu, uang sisa kerja tiga bulan sebelumnya bisa kusimpan buat jaga-jaga bayar kos,” kata Akbar. 

Kerja palugada sampai kelelahan, gengsi balik ke kampung halaman

Awalnya memang waiters. Akan tetapi, seiring waktu, pekerjaan Akbar di sebuah coffee shop di Jogja itu tidak hanya berkutat pada mengantar pesanan dan membersihkan meja. Tapi palugada. Apapun yang bisa dikerjakan di coffee shop tersebut akan dia kerjakan. 

Meski sebenarnya itu bukan tugas dari si senior. Melainkan karena Akbar merasa berterima kasih saja. Sebab, di tengah kondisi serba tak pasti yang dia alami, masih ada orang yang mau menolong: memberinya makan. 

“Sambil tetap cari kerja, Mas. Sambil nunggu. Dibilang capek ya capek. Tapi nggak apa-apa. Aku kan dari awal memang sudah nekat merantau ke Jogja, jadi harus mode survive,” ujar Akbar. 

“Kalau belum kunjung dapat pekerjaan, kenapa nggak pulang aja, balik ke Surabaya atau Sidoarjo, cari kerja di sana?” Tanya saya. 

“Gengsi.” Itu alasan terkuat Akbar. Pasalnya, dia berangkat ke Jogja dengan agak “omong besar” ke orang tua: bahwa dia akan dapat pekerjaan layak di Jogja, bakal jauh lebih berkembang. Jadi, sebelum itu kejadian, pantang pulang bagi Akbar. 

Rezeki datang saat sewa kos nyaris tidak terbayar

Bahkan ketika kondisi keuangannya makin kritis pun, Akbar masih pantang untuk pulang ke kampung halaman. 

Bagaimana tidak. Uang sisa kerja sebelumnya, yang diperuntukkan sewa kos, sudah menipis. Kalau bulan berikutnya tidak terbayar, bisa-bisa dia terusir karena tidak ada pemasukan selain gaji Rp10 ribu perhari yang dia dapat dari kerja di coffee shop Jogja itu. 

“Aku itu sempat kepikiran, mau numpang tinggal di mess coffee shop. Tapi sungkan lah. Di sana sudah buat karyawan lain. Lagi pula aku juga udah dikasih makan,” kata Akbar. 

Syukurnya, salah satu lamaran kerja Akbar tembus: menjadi marketing di sebuah brand olahan herbal di Jogja. Dia bernapas lega dan bahkan bisa bernapas lebih panjang: karena dia akhirnya kerja di sana hingga sekarang. Makin hari makin lancar. Gajinya pun Rp3 jutaan, lebih baik dari kebanyakan orang yang mengeluh gajinya di bawah UMR.

“Tapi aku sedang mikir untuk mulai nyambi jualan ini, Mas. Buat jaga-jaga. Jadi kalau pagi-sore kerja, malam jualan,” tutup Akbar. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Risiko Dobel-dobel Jadi Pekerja Swasta di Jogja: Gaji Kecil untuk Kerjaan Nggak Ngotak, Resign Kena Denda kalau Bertahan Malah Di-PHK atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: coffee shopCoffee shop Jogjagaji coffee shop jogjaJogjakerja di jogjaMerantau ke jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Fitur "Pilih Kursi" di KAI Access terasa percuma karena penumpang di kereta api ekonomi tidak tahu diri MOJOK.CO

Fitur “Pilih Kursi” KAI Access Terasa Percuma, Mau Duduk Nyaman di Kursi Incaran tapi Malah Makin Kesal

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.