Dorongan untuk punya relasi sosial (punya banyak teman) membuat seseorang berusaha keras untuk masuk ke sebuah sirkel tongkrongan. Bahkan bagi orang yang awalnya tidak suka nongkrong sekalipun. Namun, tidak setiap orang punya bakat nongkrong dan berbaur, sehingga harus berakhir menjadi “topping tongkrongan”.
***
Istilah topping tongkrongan belakangan populer melalui konten-konten Farhan Frisia. Menggambarkan seseorang yang keberadaannya dianggap tidak penting-penting amat di dalam sebuah sirkel dengan beragam sikap tidak menyenangkan yang harus diterima.
Lihat postingan ini di Instagram
Fenomena topping tongkrongan memang ada secara nyata. Misalnya yang diungkapkan oleh Dafid (24), pekerja di bidang kreatif di Surabaya, Jawa Timur.
Dafid menyadari kalau ia sebenarnya bukan tipikal orang yang mudah berbaur. Meski begitu, bukannya ia tidak pernah mencoba untuk bergaul. Ia pernah mencoba dan berakhir tidak menyenangkan dengan sebatas menjadi topping tongkrongan.
Cap nolep hanya karena suka anime
Dafid sebenarnya lebih nyaman dengan sirkel-sirkel kecil. Di masa kuliahnya dulu, untung ia menemukan sejumlah teman yang sama-sama menyukai anime. Hanya memang, teman-teman “anime”-nya ini tidak ada yang punya habit nongkrong. Interaksi hanya berlangsung saat bertemu di kampus atau WhatsApp.
Dorongan untuk memperluas pertemanan salah satunya terjadi karena Dafid lama-lama merasa malu dengan cap “nolep” yang disematkan padanya.
“Aku itu suka anime, tapi masih wajar lah. Nah, kalau temen-temenku ini kan memang sudah di tahap yang kayak suka datang ke event-event cosplay. Nah, kalau di mata kebanyakan laki-laki di jurusanku, yang seperti itu dicap nolep,” jelas Dafid.
Karena memang, dalam sirkel Dafid, para penyuka anime itu cenderung menutup diri: enggan berbaur dengan orang lain yang tidak sefrekuensi. Selain juga karena tidak begitu suka nongkrong. Alhasil, tersematlah julukan nolep.
Dafid agak terganggu dengan cap tersebut. Karena sebenarnya dia juga bisa kok nyambung dengan orang lain meski tidak sefrekuensi. Maka ia berusaha berbaur dengan orang-orang yang hobi nongkrong. Meski pada akhirnya, keberadaannya di tongkrongan hanya sebatas menjadi topping—-yang sering kali disisihkan. Kondisi itu terbawa sampai kemudian ia bertemu dengan sirkel baru di tempat kerja.
Derita jadi topping tongkrongan: jarang diajak bicara, cuma dibutuhkan saat mabar
Derita paling kentara dari menjadi topping tongkrongan yang Dafid rasakan sejak kuliah hingga sekarang adalah: meski ikut nongkrong, tapi jarang mendapat porsi bicara.
Kalau Dafid bicara, obrolan tongkrongan yang semula seru tiba-tiba berubah menjadi hening. Kalau melempar jokes, pasti kesannya garing.
“Apalagi misalnya janjian nongkrong ramai-ramai. Terus aku jadi orang kedua yang datang setelah orang pertama. Itu kan kami cuma berdua tuh, pasti awkward. Dan temanku itu pasti sibuk main hp, Nggak ngajak ngobrol,” ujar Dafid.
“Tapi mungkin karena aku juga nggak bisa yang aktif interaktif buat memulai obrolan. Jadi aku lebih sering bicara kalau diminta bicara atau ditanya. Kalau nggak, aku memang lebih suka jadi penyimak,” sambungnya.
Dafid pun menyadari, kesan itulah yang kemudian membuat teman tongkrongannya juga sama-sama awkward. Alhasil, dalam tongkrongan teman-teman kerja maupun teman kuliahnya dulu, Dafid merasa tidak benar-benar akrab dengan satu pun dari mereka.
Dafid relatif baru bisa merasakan sensasi interaksi seru dan dianggap dalam tongkrongan hanya ketika sedang mabar. Karena dia menjadi salah satu orang yang skill-nya diperhitungkan. Tapi kalau mabar selesai, maka situasinya akan kembali seperti semula.
Jadi topping tongkrongan: sering ditinggal nongkrong secara terang-terangan, tidak ada pun tidak dicari
Yang lebih tidak enak dari topping tongkrongan: keberadaannya tidak dianggap penting-penting amat. Bahkan sering secara terang-terangan tidak ajak nongkrong.
Dafid kerap mengalami situasi seperti ini: Di menjelang jam kerja berakhir, beberapa teman kerja yang tergabung dalam sirkel janjian untuk nongkrong di sebuah kedai kopi. Janjian itu dibuat di saat Dafid ada sana. Dafid mendengarnya. Tapi tidak ada satu pun yang menawarinya untuk join.
“Itu sudah menjelaskan kalau keberadaanku sebenarnya nggak penting-penting amat. Jadi nggak diajak. Kalau sudah nggak diajak, ya sudah, masa aku nawarin diri mau ikut?” Kata Dafid.
Pernah juga seperti ini: Saat sedang nongkrong lalu ada anggota sirkel yang belum datang karena belum terinfo, pasti akan langsung di-WhatsApp di grup untuk segera nyusul. Beda cerita kalau yang belum datang adalah Dafid.
“Di medsos salah satu dari mereka kan ada yang update lagi nongkrong di mana. Tapi di grup, ya sepi-sepi aja, aku nggak di-tag buat nyusul. Ya itu makananku sehari-hari sebagai topping tongkrongan, hahaha,” tutur Dafid.
Semakin insecure bergaul
Pada akhirnya Dafid menyerah untuk berusaha bergaul. Ia merasa, barangkali memang takdirnya diciptakan sebagai orang yang susah membaur. Meski kadang terselip rasa iri dengan orang-orang yang bisa berteman dengan siapa saja sehingga punya banyak teman.
Pengalaman menjadi topping tongkrongan juga membuatnya semakin insecure untuk bergaul. Setiap berkenalan dengan orang baru, Dafid langsung membatasi dirinya agar tidak berusaha mengakrabkan diri. Karena ia merasa sudah tahu ujungnya akan bagaimana: setelah akrab sesaat, selebihnya adalah relasi normatif dan cenderung awkward.
“Sekarang lebih nerima aja, aku bisa akrab memang sama sesama penyuka anime. Konsekuensi dianggap wibu nolep ya suda lah, yang penting masih punya teman daripada mencoba ikut sebuah tongkrongan tapi baru dianggap pas mabar doang,” tutupnya.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Anak Laki-laki: Kerja Ngoyo tapi Masih Begini-begini Saja, Tak Sanggup Ringankan Beban Ortu di Masa Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














