Arca Unfinished Buddha alias arca Buddha yang belum selesai merupakan patung bersejarah yang ditemukan di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah. Disebut ‘belum selesai’ karena terdapat pahatan di bagian tubuhnya yang belum sempurna.
Misalnya, tangan kanan yang berbentuk persegi, jari-jari yang tidak lengkap di mana ada salah satu jari yang hilang, lengan kanan tidak sama panjang dengan lengan kiri, rambut ikal yang belum dipahat, serta bahu yang lebih besar dari bahu lainnya.
Beberapa orang pun berdebat, mengapa pahatannya belum selesai; apakah memang sengaja tidak diselesaikan atau rusak saat proses pembuatannya. Meski begitu, mereka percaya patung tersebut berasal dari stupa utama Borobudur.
Namun, daripada menghancurkan arca tersebut, pemimpin pemugaran Borobudur kala itu, Van Erp meletakkannya di bawah pohon kenari halaman candi. Seiring berjalannya waktu, arca tersebut sempat diletakkan di Museum Karmawibhangga dan dipindah lagi ke Lapangan Kenari.
Pemindahan Arca Unfinished Buddha di Borobudur melibatkan banyak pihak

Menjelang perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE, Arca Unfinished Buddha dipindahkan ke Lapangan Kenari yang berada di Zona I kawasan Candi Borobudur. Tepatnya di area barat daya candi dan ditempatkan di antara dua pohon kenari yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi kawasan tersebut.
Proses pemindahan Arca Unfinished Buddha di kawasan Candi Borobudur resmi dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya, penguatan fungsi spiritual kawasan, serta penataan ekosistem peribadatan yang lebih berkelanjutan.
Pemindahan Arca Unfinished Buddha menjelang waisak dilakukan melalui kolaborasi lintas pihak, yakni Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB), Kementerian Agama Republik Indonesia, InJourney Destination Management, para Bhikkhu, serta komunitas masyarakat adat setempat.
Keterlibatan sejumlah pihak itu guna memastikan aspek pelestarian dan keberlanjutan situs cagar budaya tetap terjaga. Kepala Museum & Cagar Budaya, Esti Nurjadin menyatakan langkah ini juga untuk menghadirkan ruang spiritual yang lebih representatif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Seluruh proses dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian cagar budaya, menghormati masyarakat dan adat setempat, guna memastikan tata kelola kawasan yang berkelanjutan agar Borobudur tetap terjaga sebagai pusat spiritual dan budaya dunia,” jelas Esti Nurjadin dikutip dari keterangan resmi, Selasa (26/5/2026).
Menciptakan ruang spiritual di Borobudur yang lebih khusyuk

Sebagai holding di sektor aviasi dan pariwisata, InJourney menilai pemindahan Arca Unfinished Buddha merupakan bagian dari penataan kawasan spiritual Borobudur, agar masyarakat dapat menjalankan ritual dan aktivitas peribadatan dengan lebih khusyuk.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menjelaskan Borobudur sebagai candi Buddha terbesar di dunia memiliki peran penting bagi umat Buddha. Lebih dari itu, dia juga merupakan destinasi pariwisata berbasis budaya yang memiliki nilai spiritual dan sakral yang tinggi bagi masyarakat setempat.
Oleh karena itu, kata Maya, pengembangan Borobudur sebagai destinasi spiritual dan budaya berkelas dunia harus berjalan selaras antara pelestarian warisan budaya, penguatan nilai spiritual, dan pengembangan ekosistem pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Melalui kolaborasi bersama pemerintah, tokoh agama, dan komunitas lokal kami ingin memastikan Borobudur tetap lestari sekaligus relevan sebagai spiritual and pilgrimage destination kelas dunia yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat luas,” tutur Maya.
Proses diwarnai dengan ritual adat dan doa bersama

Prosesi pemindahan Arca Unfinished Buddha menjelang waisak turut diwarnai dengan ritual adat dan doa bersama, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai budaya, spiritualitas, dan harmoni masyarakat sekitar kawasan Borobudur.
Momentum ini sekaligus menjadi simbol penguatan hubungan antara pelestarian heritage dengan kehidupan spiritual masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan, menjelaskan bahwa pemindahan Arca Unfinished Buddha ke Kawasan Lapangan Kenari dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
“Penempatan arca di area penyangga ritual diharapkan dapat mendukung terciptanya sirkulasi kegiatan spiritual yang lebih tertata, menghadirkan ruang ibadah yang lebih representatif bagi umat, sekaligus menjaga kualitas pengalaman pengunjung,” jelas Febrina Intan.
Sebagai bagian dari transformasi kawasan Borobudur menjadi destinasi spiritual dan pilgrimage kelas dunia, InJourney melalui InJourney Destination Management terus mendorong pengembangan ekosistem pariwisata yang berorientasi pada pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan di kawasan strategis nasional Borobudur.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Waisak 2025: Puluhan Biksu akan “Pekikan” Perdamaian Dunia di Tanah Magelang atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














