Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Marshal Muchtadin oleh Marshal Muchtadin
20 Maret 2026
A A
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Ilustrasi Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mudik itu sebenarnya pulang ke tanah kelahiran, ke rumah orang tua tinggal, atau ke mana?

Beberapa hari sebelum Lebaran tahun lalu, saya dan seorang teman terlibat perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi cukup mengganggu pikiran. Kami memperdebatkan satu hal sederhana: sebenarnya mudik itu pulang ke mana?

Menurutnya, mudik berarti kembali ke kampung halaman—tempat kita lahir, tumbuh besar, dan memiliki memori masa kecil. Tempat yang biasanya disebut orang dengan kalimat klise: “tanah kelahiran.”

Saya punya definisi berbeda. Menurut saya, pulang tidak harus ke kota tempat kita lahir. Pulang itu sederhana saja: ke tempat ibu kita tinggal.

Perdebatan itu berakhir tanpa kesimpulan, seperti kebanyakan debat warung kopi. Namun, entah kenapa, sehari sebelum libur Lebaran dimulai, pikiran saya tiba-tiba berubah. Saya berpikir: ya sudah, kalau begitu kali ini saya pulang saja ke tempat saya dilahirkan. Magelang.

Alasan logis di balik keputusan konyol mudik dengan motoran

Magelang adalah kota kelahiran saya. Namun, saya jarang sekali kembali ke sana karena memang bukan tempat orang tua saya tinggal. Terakhir kali saya mengunjungi kota itu pada 2018 bersama keluarga. Setelah itu, saya tidak pernah kembali lagi.

Di sana tinggal Bude dan Pakde—kakak kandung ibu yang dulu sempat merawat saya ketika masih bayi saat orang tua sedang sibuk berpindah-pindah tugas. Masalahnya, ide pulang ke Magelang ini muncul terlalu mendadak.

Ketika saya mulai membuka aplikasi pemesanan tiket kereta api atau bus, hampir semuanya ludes. Kalaupun ada, harganya sudah tidak masuk akal karena musim mudik. Sebagai orang yang masih cukup perhitungan soal pengeluaran, saya langsung mencari alternatif.

Akhirnya, saya menemukan solusi yang saat itu terasa sangat logis: naik motor dari Tangerang ke Magelang. Jaraknya sekitar 530 kilometer dengan estimasi perjalanan 12–13 jam. Kalau dipikir sekarang, keputusan itu terdengar seperti ide konyol dari seseorang yang terlalu percaya diri pada Google Maps.

Serangkaian kesalahan yang disadari terlambat

Kesalahan pertama bahkan terjadi sebelum mesin motor menyala. Saya hanya tidur tiga jam pada malam sebelum berangkat. Alasannya sederhana: malam itu saya harus menempuh rute Tangerang–Depok untuk menukar motor Beat saya dengan NMAX yang saya anggap lebih siap untuk perjalanan jauh. Setelah itu, saya tetap bangun sahur karena tidak ingin mengganti puasa hanya gara-gara perjalanan ini.

Kesalahan kedua: saya terlalu percaya diri dengan kondisi motor. Saya sama sekali tidak membawanya ke bengkel untuk pengecekan terlebih dahulu. Saya merasa motor ini akan baik-baik saja.

Kesalahan ketiga: pengalaman touring saya sebenarnya sangat minim. Satu-satunya perjalanan jauh yang pernah saya lakukan hanyalah Tangerang ke Bandar Lampung. Itu pun tidak terlalu berat karena perjalanan terpotong waktu istirahat di kapal feri. Berbeda dengan perjalanan kali ini yang sepenuhnya melalui darat. Namun, seperti kebanyakan keputusan nekat lainnya, semuanya terasa masuk akal sebelum ban motor menyentuh aspal jalur mudik.

Google Maps, Temanggung, dan jalan setapak untuk mudik

Saya melanjutkan perjalanan dari Depok sekitar pukul 06.00 WIB. Karena sedang berpuasa, saya merasa perjalanan ini justru bisa lebih cepat karena tidak perlu berhenti untuk makan atau minum. Target saya sederhana: istirahat setiap tiga jam.

Pukul 09.00, saya berhenti sebentar di SPBU untuk meregangkan badan. Perjalanan berlanjut hingga sekitar pukul 12.30, saat saya kembali berhenti di SPBU daerah Cirebon untuk rebahan sejenak dan salat.

Iklan

Di sinilah Google Maps mulai menguji mental. Aplikasi itu memberi dua pilihan rute menuju Magelang: lewat Semarang atau lewat Temanggung. Sebagai manusia yang secara alami tertarik pada pilihan yang lebih cepat, tentu saja saya memilih Temanggung.

Baru belakangan saya sadar bahwa jalur Temanggung berarti harus melewati kawasan pegunungan yang penuh tikungan tajam. Pada satu titik, Google Maps bahkan membawa saya ke jalan setapak yang rasanya lebih cocok dilewati motor petani daripada NMAX. Motor saya jelas tidak didesain untuk petualangan lintas alam; ia cinta aspal, bukan tanah merah.

Baca halaman selanjutnya

Ketika microsleep yang saya percaya sebagai mitos menjadi nyata

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2026 oleh

Tags: magelangMudiknmaxpilihan redaksipulang kampungTangerang
Marshal Muchtadin

Marshal Muchtadin

Marshal Muchtadin adalah manusia yang sangat suka membaca buku. Di sela-sela membaca, ia juga gemar mengulik teknologi, ide-ide baru, dan berbagai hal yang membuat rasa penasarannya tetap hidup.

Artikel Terkait

Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus "Menyangkal", Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan.MOJOK.CO
Seni

Ketika Hukum Mandul dan Sang Jenderal Jagal Terus “Menyangkal”, Hantu Masa Lalu Datang Memberi Keadilan

10 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Ide Usaha Minyak Jelantah: Kotor, tapi Untung Jutaan per Bulan MOJOK.CO

Bisnis Pengepul Minyak Jelantah: Ide Usaha yang Nggak Populer tapi Bisa Untung Jutaan per Bulan

9 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.