Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Syamsul Bahri Abd. Rasyid oleh Syamsul Bahri Abd. Rasyid
10 Juni 2026
A A
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Ilustrasi Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di Wamena, Papua Pegunungan, menjadi sarjana kadang bukan soal menyelesaikan skripsi, tapi soal berhasil sampai ke kampus dalam keadaan selamat. 

Sebelum menjadi dosen di Ambon, saya pernah mengajar selama hampir dua tahun di Wamena, tidak lama setelah saya menamatkan studi di Jogja. Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa teori-teori pendidikan yang terlihat hebat dalam dokumen negara ternyata bisa mendadak terlihat lucu ketika dibawa ke pegunungan Papua. 

Iklan

Dalam dokumen negara, pendidikan tampak tertata rapi. Ada kurikulum, kalender akademik, capaian pembelajaran, indikator kinerja, akreditasi, dan berbagai instrumen evaluasi. 

Semuanya disusun sedemikian sistematis sehingga pendidikan terlihat sebagai persoalan teknokratis yang cukup diselesaikan dengan rapat, formulir, dan pergantian istilah kebijakan.

Di kampus lain mahasiswa bolos karena malas bangun pagi, di Wamena karena nyawa jadi taruhan

Namun, Indonesia tidak seluruhnya hidup di dalam dokumen. Di Wamena, Papua Pegunungan saya belajar bahwa kegiatan pembelajaran kadang tidak paralel dengan isi kalender akademik, karena adanya perang suku. 

Saat konflik bergejolak, mahasiswa tidak datang ke kampus bukan karena malas atau tidak disiplin, tapi karena mereka masih ingin pulang dalam keadaan selamat. 

Dosen, pun sering kali lebih mengandalkan informasi masyarakat daripada surat edaran dari kampus. Kalimat sederhana seperti, “Bapa, situasi tidak aman,” sering menjadi tanda bahwa situasi akan memburuk. 

Perkuliahan dihentikan, kampus mendadak kosong, dan semua orang berusaha menghindari kemungkinan terburuk. Pada saat yang sama, sebagian birokrat pendidikan mungkin masih sibuk menghitung sitasi Scopus dan target publikasi internasional.

Setiap tanggal 1 Desember, suasana kampus juga berbeda. Sebagian mahasiswa memilih tidak masuk kuliah karena mengikuti berbagai aksi yang berkaitan dengan peringatan Hari Kemerdekaan atau Hari Bangsa Papua Barat. Di banyak kampus lain, mahasiswa mungkin bolos kuliah karena konser musik, turnamen futsal, atau sekadar malas bangun pagi. 

Di Wamena, sebagian mahasiswa tidak hadir karena mereka sedang berhadapan dengan sejarah, identitas, dan keyakinan politik yang hidup di tengah masyarakat mereka. Karena itu, ada satu pertanyaan yang berulang kali muncul di kelas mana pun, mata kuliah apa pun, semester berapa pun:

“Menurut bapa, Papua bisa merdeka atau tidak ee?”

Pertanyaan itu menunjukkan bahwa sebagian calon sarjana ini tidak hanya memikirkan prospek karier atau peluang kerja semata. Mereka sedang bergulat dengan pertanyaan yang lebih mendasar. Tentang bagaimana masa depan politik komunitas mereka sendiri.

Untuk jadi sarjana, mahasiswa di Wamena punya tantangan kalender adat dan komunitas

Semakin lama mengajar, semakin saya memahami bahwa mahasiswa tidak hanya hidup dalam kalender akademik, tapi juga kalender adat dan kalender komunitas. 

Salah satu contohnya adalah tradisi duka. Ketika ada anggota keluarga atau komunitas yang meninggal, mahasiswa sering harus pulang ke kampung halaman meskipun sedang kuliah. 

Iklan

Awalnya saya menganggapnya sebagai persoalan prioritas. Belakangan saya memahami bahwa dalam masyarakat komunal di Pegunungan Papua, hadir dalam duka bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan investasi solidaritas.

Negara barangkali percaya masa depan mahasiswa salah satunya ditentukan oleh kehadiran di ruang kuliah, tapi komunitas percaya bahwa masa depan seseorang ditentukan oleh kesediaannya hadir ketika komunitas berduka. Kampus memberikan sanksi akademik bagi yang tidak hadir. 

Komunitas memberikan sanksi sosial bagi yang absen. Dan bagi banyak mahasiswa, kehilangan komunitas jauh lebih berbahaya daripada kehilangan beberapa poin kehadiran.

Perjuangan jalan kaki 7 hari demi jadi sarjana di Wamena

Selain itu, yang paling berat juga adalah perjuangan mahasiswa itu sendiri. Sebagian dari mereka yang berasal dari daerah-daerah pedalaman, ketika liburan usai, mereka belum tentu bisa kembali ke kampus. 

Bandara dapat ditutup, penerbangan dihentikan, atau situasi keamanan yang tidak memungkinkan. 

Akibatnya, mereka harus menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk kembali mengikuti perkuliahan. Ironisnya, pada saat yang sama, seminar-seminar pendidikan nasional sibuk berbicara tentang transformasi digital dan pembelajaran berbasis teknologi. 

Diskusi itu penting, tetapi di sebagian wilayah Papua persoalannya jauh lebih mendasar. Mahasiswanya bahkan belum tentu bisa sampai ke kampus.

Ada juga sebagian mahasiswa pedalaman yang memilih jalan kaki dari kampungnya sampai ke Wamena, ketika arus balik mudik karena aktifitas perkuliahan sudah mulai aktif.

Saya pernah bertanya kepada seorang mahasiswa.

“Ko biasanya jalan kaki dari kampung sampe ke Wamena itu berapa lama?”

“Lima sampe tujuh hari, bapa.”

Ia tidak bercanda. Mereka berjalan melintasi pegunungan, membawa bekal seadanya, tidur di perjalanan, lalu melanjutkan langkah keesokan harinya. 

Rasanya, sulit menemukan definisi motivasi belajar yang lebih nyata daripada mahasiswa calon sarjana ini yang berjalan selama seminggu hanya untuk mengikuti kuliah.

Menjadi sarjana bukan soal menyelesaikan skripsi, tapi sampai kampus dalam kondisi selamat

Tapi, kenyataan yang paling menampar saya adalah ketika menemukan sebagian mahasiswa yang belum bisa membaca. Mereka telah melewati SD, SMP, dan SMA. 

Sistem pendidikan meluluskan mereka pada setiap tahap, tetapi gagal memastikan bahwa mereka benar-benar memperoleh kemampuan paling dasar. Itu bukan kegagalan individu, tapi kegagalan sistemik. 

Bukti bahwa pendidikan kita kadang lebih sibuk memastikan peserta didik naik kelas daripada memastikan mereka memperoleh pengetahuan.

Negara bergonta-ganti kurikulum. Nama berubah, jargon berubah, menteri berganti wajah, kementerian berganti slogan. 

Namun di Wamena, mahasiswa tetap harus menghindari konflik, menghadiri duka, menghadapi ketegangan politik, menunggu bandara dibuka, berjalan berhari-hari melintasi pegunungan, dan terkadang berjuang melawan keterbatasan literasi yang diwariskan sistem.

Itulah kenapa, setiap kali melihat mahasiswa mengenakan toga, saya tidak melihat sekadar angka IPK atau status sarjana. Saya melihat orang-orang yang berhasil bertahan melawan geografi, konflik, kemiskinan, dan kelalaian negara. 

Di Wamena, saya belajar bahwa menjadi sarjana kadang bukan soal menyelesaikan skripsi. Adakalanya, menjadi sarjana adalah soal berhasil sampai ke kampus dalam keadaan selamat.

Penulis: Syamsul Bahri
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai. 

Terakhir diperbarui pada 10 Juni 2026 oleh

Tags: Papuapapua pengununganPendidikanpilihan redaksisarjanawamena
Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Syamsul Bahri Abd. Rasyid

Syamsul Bahri Abd. Rasyid, adalah dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Pattimura, dengan latar belakang pendidikan magister di Ilmu Pemerintahan (UMY). Kebijakan dan politik lokal dalam kacamata sosiologi politik menjadi isu yang sering ditulis.

Artikel Terkait

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO
Eksplor

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Cerita awardee Beasiswa LPDP University of Edinburgh, Skotlandia, pilih pulang ke Indonesia untuk bangun bisnis brand tas kerja lokal MOJOK.CO

Pulang Kuliah dari Skotlandia Pilih Bisnis Tas Lokal di Indonesia: Buka Lapangan Kerja hingga Terlibat Pemberdayaan Perempuan

29 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.