Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Agustus 2026
A A
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Ilustrasi - 77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berdasarkan data dari tracer study, lulusan vokasi (sarjana terapan) lebih laris di dunia kerja, lebih tinggi dari keterserapan lulusan S1. Sebab sekolah vokasi dinilai mampu memenuhi kebutuhan industri secara cepat. 

Data tersebut dipaparkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, dalam sesi Talkshow Pionir Permadani di Grha Sabha Pramana UGM lantai 2, Kamis (6/8/2026).

Merujuk hasil tracer study dalam rentang 2021-2024, keterserapan tenaga kerja lulusan vokasi (sarjana terapan) ada di angka 77%. Sementara lulusan pendidikan akademik S1 hanya sebesar 72%. 

Lulusan sekolah vokasi dibutuhkan industri karena beri tenaga kerja terampil

Memang masih ada anggapan lama yang menyebut bahwa lulusan sekolah vokasi alias sarjana terapan akan susah diterima di dunia kerja. Ijazahnya dinilai tidak seprestisius ijazah lulusan S1. 

Akan tetapi, fakta saat ini justru menunjukkan sebaliknya. Di hadapan 1.945 mahasiswa baru Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Stella menepis anggapan tersebut. Stella menegaskan bahwa pendidikan vokasi saat ini justru memiliki peran krusial dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia. 

“Per hari ini, industri dan pasar membutuhkan tenaga kerja terampil yang siap kerja,” ujarnya. 

Pendidikan vokasi, lanjut Stella,memiliki peran utama dalam merespons kebutuhan industri secara cepat dengan menghasilkan talenta terampil dan berkualitas. Tanpa adanya suplai tenaga kerja terampil, industri akan mati dan investor pun enggan berinvestasi. 

“Perguruan tinggi vokasi paling utama perannya untuk merespons  pasar kerja,” ungkapnya.

Berkaca dari Tiongkok

Stella mengambil contoh keberhasilan dari pendidikan vokasi di Tiongkok: Shenzhen Polytechnic University yang bekerja sama erat dengan industri lokal yang telah mendunia seperti Huawei dan BYD. 

Stella menjelaskan, pendapatan dari Greater Bay Area (Shenzhen, Hong Kong, Guangzhou) mencapai 2,15 triliun USD, lebih besar dari output ekonomi seluruh Indonesia yang berada di kisaran 1,55 triliun USD. 

Hal tersebut, bagi Stella, menjadi bukti nyata betapa lulusan sekolah vokasi memang punya peran besar di daerah Shenzhen, Guangzhou dan Hong Kong untuk industri. Dari situ kemudian menghasilkan perekonomian yang bahkan lebih besar. 

“Inilah mengapa saya sebut vokasi kunci masa depan Indonesia,” tegasnya.

Di Swiss sarjana terapan bisa mendapat gaji Rp2 miliar

Selain di negara Asia Timur, di negara Eropa seperti Swiss juga memiliki keunggulan pada pendidikan vokasi. 

Berdasarkan paparan Stella, lulusan sarjana terapan mampu menghasilkan gaji sebesar 102.114 Swiss Franc atau jika dirupiahkan akan mencapai Rp2 miliar. Maka tidak heran jika Korea Selatan juga turut memperkuat pendidikan vokasinya. 

Iklan

“Karena mereka (Korea Selatan) tahu perekonomian mereka tidak akan bisa maju tanpa vokasinya yang kuat,” terang Stella. 

Lalu apa upaya Kemdiktisaintek RI untuk kuatkan sekolah vokasi di Indonesia? 

Karena fakta-fakta tersebut, Stella menegaskan bahwa saat ini Kemdiktisaintek RI berkomitmen memperkuat vokasi melalui tiga pilar utama: industry match curriculum, industry match instructors,dan industry match infrastructure. 

Salah satu program kerja sama yang telah berjalan adalah Kerja Sama dengan LiuGong, perusahaan produsen alat berat multinasional Tiongkok. 

Bentuk kerja sama ini berupa pemberian beasiswa kepada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk belajar dan magang selama 1 tahun di perusahaan alat berat Liugong, baik di Tiongkok maupun Indonesia.

Dengan begitu, harapannya lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) bisa memiliki kompetensi unggul yang memang dibutuhkan di dunia kerja. Fenomena lulusan perguruan tinggi susah cari kerja pun bisa pelan-pelan teratasi. 

Sumber: Universitas Gadjah Mada (UGM)

BACA JUGA: Kuliah S1 4 Tahun Terlalu Lama dan Tak Relevan Lagi karena Peluang di Dunia Kerja Lebih Nyata Vokasi? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: lulusan S1lulusan s1 susah kerjalulusan vokasiprospek kerja lulusan vokasiSarjana TerapanSekolah Vokasiskill lulusan vokasi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO
Urban

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO
Ragam

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa aktivis yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis? MOJOK.CO

Kenapa aktivis harus miskin dan yang memulai bisnis kerap dicap sebagai kapitalis?

4 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Malaysia dekat ke gerbang negara maju. Indonesia negara apa? (Unsplash)

Malaysia kian dekat ke gerbang negara maju, kalau Indonesia makin dekat ke gerbang apa bes?

4 Agustus 2026
Polemik IKAPI DIY dan toko buku Jogja perihal harga murah MOJOK.CO

Narasi “Harga Murah” Pameran Buku IKAPI DIY Singgung Toko Buku Jogja, Kalimat yang Tidak Seharusnya Keluar

5 Agustus 2026
Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko” MOJOK.CO

Nggak Perlu Jadi Pelari Kalcer, Slow Jogging bikin Kita Waras Mental Sambil “Niko-niko”

3 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.