MOJOK.CO – Perintah presiden agar sekolah mengajarkan bahasa Prancis adalah cara agar masyarakat Indonesia belajar sejarah negara Prancis, terutama perlawanan rakyatnya pada ketidakadilan.
Dalam kunjungan kenegaraan ke Paris, Prancis pada Kamis (28/05) presiden kita menginstruksikan seluruh sekolah belajar bahasa Prancis. Padahal, data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menemukan sekitar 90.000 sekolah belum memiliki guru bahasa Inggris. Apakah belajar bahasa Prancis ini tidak solutif? Tunggu dulu.
Kira-kira apa urgensinya? Barangkali ada makna tersirat dari presiden kita tentang omongannya yang banyak dikira hanya asal ngomong belaka. Saya sih menangkap, maksud presiden kita lebih dalam dari sekadar belajar bahasa, melainkan belajar makna.
Prancis punya Liberté, Égalité, Fraternité
Menurut saya pribadi, presiden kita sedang memberikan sebuah kode bahwa banyak hal yang sudah hilang dari negara kita. Hal-hal yang hilang ini tidak bisa lagi digali dan ditemukan melalui bahasa Indonesia apalagi bahasa Inggris. Tunggu dulu, jangan marah dulu.
Banyak kata sudah kita sederhanakan. Banyak arti kebahasaan sudah hilang maknanya. Maka hadirlah bahasa Prancis yang nantinya memperlihatkan betapa kontras dari makna aslinya. Kita ambil saja tiga contoh kata yang jadi simbol negara Prancis, yakni liberté, égalité, fraternité.
Barangkali presiden kita sudah begitu khawatir bahwa liberté yang selama ini kita tahu, yakni kebebasan, sudah diterjemahkan terlalu bebas. Maka kebebasan tanpa batas itu ujung-ujungnya jadi ngawur.
Bebas ubah aturan main pemilu, bebas tabrak-tabrak-masuk konstitusi, bebas bikin program tidak tepat guna, pejabat tinggi bebas bepergian ke luar neger dengan dalih studi banding padahal kondisi bangsa lagi seperti ini, dan kebebasan lainnya yang terlalu bablas.
Atau presiden kita sudah sedih melihat makna égalité kok ya makin hari makin mengerikan. Sipil dan pemangku kuasa memang bebas untuk saling kritik, tapi konsekuensi yang diterima amat beda.
Sipil rawan mendapatkan persekusi usai menyampaikan kritik. Sedang pemangku kuasa bisa bebas bilang bahwa rakyat yang kritik itu antek asing atau apalah itu. Pidato yang harusnya membangun dan menampilkan kesetaraan, justru mirip seperti sepasang kekasih yang sedang mengirim drunk text.
Pesan untuk penegak hukum: Presiden kita pernah menyelamatkan rakyat kecil
Tunggu dulu, jangan buru-buru menuduh presiden kita menutup mata soal ketimpangan hukum ini. Anda mungkin lupa, atau sengaja amnesia, bahwa jauh sebelum menduduki kursi nomor satu, beliau adalah sosok yang terbang langsung ke Malaysia demi menyelamatkan Wilfrida Soik, seorang rakyat biasa, seorang TKW, dari dinginnya tiang gantungan. Beliau tahu persis rasanya berjuang menegakkan keadilan bagi mereka yang tak punya kuasa.
Maka, ketika hari ini makna égalité di level bawah terasa agak mengkerut karena maraknya kriminalisasi terhadap kritik, pelajaran bahasa Prancis ini adalah kode keras dari beliau untuk jajaran penegak hukum dan aparat di bawahnya. Presiden seperti ingin menyentil para pembantunya: “Saya dulu menyelamatkan rakyat kecil dari jerat hukum di luar negeri, kok kalian di dalam negeri malah sibuk nyari-nyari kesalahan rakyat kecil yang cuma modal kuota buat kritik?”
Atau presiden kita mulai pusing dengan makna fraternité yang artinya persaudaraan? Ketika persaudaraan di rakyat bawah adalah saling jaga dan saling bantu, beda cerita jika persaudaraan diterapkan di atas sana.
Beliau mungkin geregetan melihat bagaimana persaudaraan di tingkat atas sana sering disalahartikan oleh para pembantunya atau lingkaran elit sebagai ajang bagi-bagi kuasa, obral jabatan, dan jaminan pekerjaan meskipun bodo amat orang itu expert di bidangnya atau tidak.
Bisa jadi presiden kita resah dengan kondisi macam itu, maka masyarakat kita melalui harapan-harapan baru, yakni anak-anak sekolah, mulai memahami terma bahasa secara lebih murni dan jernih.
Maka dari belajar bahasa Prancis, anak-anak juga akan tahu perihal Revolusi Prancis. Anak-anak jadi bisa tahu makna terdalam dari kata perlawanan itu bukan dengan menjilat, tapi ya memahami konteks apa yang sedang terjadi dan bagaimana cara meresponnya. Betapa indahnya bahasa perlawanan.
Baca halaman selanjutnya














