Belajar bahasa Prancis, belajar perlawanan rakyat Prancis
Liberté, égalité, fraternitéitu lahir saat Revolusi Prancis. Kondisinya saat itu kota Paris benar-benar sedang mengalami masalah sosial, budaya, politik, dan agama yang berkelindan.
Ketika rakyat Paris sedang berkubang dalam penyakit dan tikus gorong-gorong, rajanya justru bikin istana baru di Versailles sana. Kemewahan aristokrasi di tengah menyedihkannya masyarakat Paris jadi salah satu pemantiknya. Namun apakah ini pemantik utamanya? Bukan.
Ketimpangan sosial itu tidak hanya ditampilkan dari istana baru, tapi juga masalah pajak dan keuangan negara. Ada tiga golongan di Perancis saat itu, yakni golongan rohaniawan, bangsawan, dan rakyat biasa. Golongan rakyat biasa seperti petani, buruh, pedagang, dan bahkan intelektual justru yang menanggung sebagian besar beban pajak negara.
Apakah pajak itu digunakan dengan bijak? Selain istana baru yang jadi ambisi kacau sang raja, juga program-program enggak jelas dari raja bikin masyarakat jadi geram. Uang pajak habis untuk hal-hal yang tidak relevan untuk rakyat, justru sektor penting seperti kesehatan dan pendidikan terabaikan.
Efeknya berkepanjangan ke sektor pangan di Prancis saat itu. Harga-harga serba naik disamping banyaknya panen yang gagal. Harga roti naik, kelaparan parah terjadi di Paris ketika istana baru terus mengadakan pesta dansa di balairung-balairung luas nan mewahnya tersebut.
Perempuan Paris saat itu seakan memantik hadirnya revolusi. Peristiwa ini dikenal dengan Women’s March on Versailles. Tuntutan mereka sederhana, tidak muluk-muluk seperti raja memohon maaf atau mengakui kegagalan, mereka hanya meminta harga roti untuk turun. Apakah perempuan Paris yang melakukan iring-iringan ini disebut sebagai antek asing?
Yang jelas, pikiran perempuan Paris lebih waras dari kebanyakan pemimpin Prancis saat itu. Sebab, perempuan Paris berpikir melibatkan perasaan, sedangkan para pemimpin melibatkan keserakahan.
Seperti yang sering kita dengar, berikutnya adalah Revolusi Prancis. Tentu yang saya ceritakan ini hanya bagian kecil, sempit, dan amat ringkas. Namun mempelajari Revolusi Prancis sembari belajar bahasa Prancis, agaknya oke juga, kan?
Makanya, jangan sekalipun sebut pidato presiden kita itu dengan sebutan asbun atau drunk text gitu lah. Jika kita bedah, omongan beliau ini justru mengarah dengan sendirinya kepada kawan-kawannya di belakangnya.
Makanya, mari belajar bahasa Prancis. Mungkin saat ini anak-anak sekolah yang resah ketika ujian bahasa. Namun, siapa yang bisa mengira bahwa suatu saat justru jajaran di atas sanalah yang resah karena anak-anak yang dulu jadi korban program akrobatik itu mulai sadar dan melakukan sesuatu yang bisa memusingkan mereka yang betah sekali ngendon di menara gading yang nyaman dan penuh dengan tipuan.
Penulis: Gusti Aditya
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














