Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
29 Juli 2026
A A
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Ilustrasi - Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah. (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ratusan anak dan remaja di Sidoarjo, Jawa Timur, disebut terpapar HIV/AIDS. Informasi yang beredar di media sosial menyebut angkanya mencapai 522 anak dan remaja. 

Menanggapi informasi tersebut, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melalui rilis resminya menjelaskan bahwa peningkatan jumlah kasus yang ditemukan berkaitan dengan perluasan layanan deteksi dini. Karena itu, bertambahnya temuan kasus tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai peningkatan penularan baru.

Iklan

Stigma terhadap pengidap HIV/AIDS bisa hambat penanganan

Pakar Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Vella Rohmayani, mengingatkan masyarakat agar tidak merespons temuan tersebut dengan kepanikan, terlebih dengan memberikan stigma negatif kepada Orang dengan HIV (ODHIV).

Pasalnya, selama ini HIV masih kerap disalahpahami. Rendahnya literasi soal cara penularan HIV membuat masyarakat memilih menjauhi ODHIV. Padahal, HIV tidak menular melalui interaksi sosial sehari-hari.

“HIV tidak menular hanya karena kita berjabat tangan, makan bersama, atau tinggal serumah. Penularannya sangat spesifik, antara lain melalui hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi,” ujar Vella yang juga merupakan dosen Teknologi Laboratorium Medis Umsura tersebut dalam keterangan tertulisnya, Selasa (28/7/2026).

Selain itu, stigma dan rasa takut dikucilkan justru bisa menjadi hambatan dalam penanganan HIV. Sebab, masyarakat yang memiliki faktor risiko kemudian merasa takut melakukan skrining atau tes HIV.

Kondisi tersebut, lanjut Vella, berpotensi membuat infeksi terlambat diketahui dan ditangani. Dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga dapat meningkatkan risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada anak.

“Karena itu, yang perlu kita bangun bukan ketakutan terhadap ODHIV, melainkan kesadaran untuk melakukan deteksi dini dan mendapatkan informasi yang benar mengenai HIV,” tegasnya.

Harus diketahui, HIV sendiri saat ini dapat dikendalikan dengan terapi antiretroviral (ARV). Dengan terapi yang dilakukan secara rutin dan sesuai anjuran tenaga kesehatan, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga sistem kekebalan tubuh tetap terjaga, risiko komplikasi berkurang, dan kualitas serta harapan hidup ODHIV dapat meningkat.

Kasus HIV/AIDS pada anak TK-PAUD dan pentingnya tes kesehatan sebelum menikah

Lebih lanjut, Vella menjelaskan bahwa kasus HIV pada anak usia PAUD dan TK perlu dilihat dari kemungkinan penularan vertikal, yakni dari ibu kepada anak selama kehamilan, proses persalinan, maupun menyusui.

Risiko penularan tersebut dapat ditekan melalui deteksi dini, pemeriksaan HIV pada ibu hamil, serta pengobatan dan pendampingan medis yang tepat.

Karena itu, skrining kesehatan sebelum menikah maupun pemeriksaan selama kehamilan menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Pemeriksaan tersebut memungkinkan faktor risiko diketahui lebih awal sehingga intervensi dapat segera dilakukan.

Sementara itu, temuan HIV pada kelompok usia remaja juga perlu menjadi perhatian serius. Menurut Vella, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperkuat edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai usia dan berbasis informasi kesehatan yang tepat.

“Generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, perilaku yang berisiko terhadap penularan HIV, serta bagaimana melindungi kesehatan dirinya dan orang lain,” papar Vella.

Iklan

Upaya pencegahan juga perlu melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan lingkungan sosial. Edukasi yang tepat dinilai penting agar remaja tidak mencari informasi dari sumber yang keliru sekaligus memahami konsekuensi dari perilaku berisiko.

Periksa kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan

Temuan kasus HIV di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Sidoarjo, bagi Vella seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi, layanan konseling, serta tes HIV secara sukarela dan proaktif.

Vella menegaskan, memeriksakan kesehatan sebelum menikah bukan berarti meragukan pasangan. Justru hal itu menjadi langkah preventif untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing untuk mempersiapkan keluarga yang sehat. 

“Memastikan kesehatan sebelum menikah penting sebagai bagian dari ikhtiar mempersiapkan keluarga dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan sejahtera,” tegasnya.

1.183 kasus di Sidoarjo 

Merujuk data Kementerian Kesehatan, sejak tahun 2001 hingga Juni 2026 telah ditemukan 1.183 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok usia 0-24 tahun di Sidoarjo. Peningkatan jumlah kasus yang ditemukan dari tahun ke tahun berlangsung seiring dengan semakin luasnya cakupan layanan tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun layanan berbasis komunitas. 

Dari total 1.183 ODHIV yang telah ditemukan tersebut (sejak tahun 2001), pada kelompok usia 0–10 tahun, tercatat 117 kasus HIV dan seluruhnya merupakan penularan dari ibu ke anak (penularan vertikal). Dari jumlah tersebut, 32 anak masih hidup dan menjalani pengobatan antiretroviral, 35 anak meninggal, sedangkan 50 anak tercatat lost to follow-up (LFU) atau tidak lagi terpantau dalam layanan pengobatan.

Kondisi ini menegaskan pentingnya memperkuat layanan Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA), mulai dari skrining HIV pada ibu hamil hingga keberlanjutan terapi bagi ibu dan bayi.

Pada kelompok usia 11–17 tahun, ditemukan 60 kasus HIV. Sebanyak 4 kasus berasal dari penularan vertikal, sedangkan 56 kasus merupakan penularan horizontal yang ditemukan pada berbagai kelompok sasaran, termasuk pasien tuberkulosis, laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL), ibu hamil, pasangan ODHIV, pekerja seks, maupun kelompok yang belum teridentifikasi faktor risikonya. 

Hingga Juni 2026, 34 remaja masih menjalani pengobatan, 7 orang meninggal, dan 19 orang berstatus LFU. Temuan ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi kesehatan reproduksi, pencegahan HIV, dan akses layanan kesehatan remaja yang ramah dan mudah dijangkau.

Sementara itu, di kelompok usia 18–24 tahun mencatat 1.006 kasus HIV, dengan 1.005 kasus merupakan penularan horizontal. Sebagian besar kasus ditemukan melalui layanan pada kelompok populasi kunci, antara lain laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (521 kasus).

Sedangkan populasi yang belum teridentifikasi faktor risikonya ada 210 kasus: ibu hamil (60 kasus), pasien tuberkulosis (44 kasus), pasangan berisiko tinggi (41 kasus), pasangan ODHIV (39 kasus), pekerja seks perempuan (32 kasus), pelanggan pekerja seks (24 kasus), waria (11 kasus), pasien infeksi menular seksual (9 kasus), warga binaan pemasyarakatan (8 kasus), calon pengantin (4 kasus), serta pengguna napza suntik (1 kasus). Dari kelompok usia ini, 572 orang masih menjalani pengobatan, 123 orang meninggal, dan 311 orang berstatus LFU. 

Data tersebut menunjukkan pentingnya perluasan skrining HIV pada berbagai pintu masuk layanan kesehatan serta penguatan pendampingan agar pasien tetap bertahan dalam pengobatan.

BACA JUGA: Sialnya, Peredaran Narkoba di Surabaya Tetap Berputar dan Saya Adalah Korbannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: hiv sidoarjoHIV/AIDSSidoarjotes kesehatantes kesehatan sebelum menikah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO
Urban

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO
Urban

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6 MOJOK.CO

Wonogiri Jadi Wilayah dengan Penutupan Perlintasan Liar Terbanyak di Daop 6

27 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.