ADVERTISEMENT

Musyawarah Kretek dan Hari Kretek 2026: Konsolidasi Komunitas Lintas Daerah Memperjuangkan Penghidupan Masyarakat

Musyawarah Kretek dan Hari Kretek 2026 jadi momentum konsolidasi komunitas lintas daerah memperjuangkan kedaulatan Industri Hasil Tembakau (IHT) sebagai penghidupan masyarakat MOJOK.CO

MOJOK.CO, YOGYAKARTA – Musyawarah Kretek, yang merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kretek Nasional 2026, menjadi momentum konsolidasi 15 komunitas dari berbagai daerah untuk melawan segala bentuk upaya yang mengancam keberlangsungan Industri Hasil Tembakau (IHT). 

Sebagai bagian dari peringatan Hari Kretek Nasional 2026, Komunitas Kretek dan Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) menggelar Musyawarah Kretek Nasional 2026. Musyawarah yang berlangsung selama 30 September-3 Oktober di Akademi Bahagia EA, Sleman, Yogyakarta, itu melibatkan 15 komunitas yang berasal dari berbagai daerah.

Komunitas tersebut terdiri dari Universitas Balakarta – Temanggung, Ruka Tiga – Magelang, Gubug Kreatif Jatiteken Kulon – Kebumen, Resonansi Collective – Semarang, PC PMII Kudus, Peduli Bako – Jember, Malire – Garut, Sunda Mentang – Bandung, Tore Maca – Situbondo, Wonosobo Bermeditasi, Kalijati – Rembang, Ampart Institut – Pamekasan, Filosotoy – Jogja, Lesbumi – Sumenep, dan Kabinet Satya Mandala BEM ITM – Nganjuk.

Musyawarah Kretek Nasional 2026: konsolidasi memperjuangkan Industri Hasil Tembakau

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin menjelaskan, bertemunya 15 simpul komunitas dari berbagai daerah tersebut menjadi sinyal tegas solidaritas masyarakat akar rumput turut guna memperjuangkan eksistensi kretek dari segala bentuk intervensi.

“Ini adalah upaya kami untuk memperkuat konsolidasi gerakan perlawanan terhadap berbagai intervensi yang selama ini terus-menerus mengancam eksistensi kretek di Tanah Air,” ujar Atfi dalam puncak peringatan Hari Kretek Nasional di Akademi Bahagia EA, Sabtu (03/10/2026).

Atfi menilai, rentetan kebijakan restriktif yang dipaksakan pemerintah terhadap IHT belakangan ini tidak lagi mempertimbangkan kelangsungan hidup masyarakat. Sementara IHT selama ini telah menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan dari hulu ke hilir. 

6 tuntutan hasil konsolidasi Musyawarah Kretek 2026

Oleh karena itu, Musyawarah Kretek Nasional 2026 tersebut menghasilkan enam tuntutan tegas kepada pemerintah:

  1. Cabut PP Nomor 28 Tahun 2024
  2. Hentikan Pembahasan Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
  3. Hentikan Kenaikan Cukai Rokok
  4. Tolak Pembatasan Tar dan Nikotin
  5. Tolak Tarif Cukai Rokok Tunggal
  6. Hentikan segala aturan yang mengancam keberlangsungan Industri kretek. 

 

Juru Bicara KNPK, Alfianaja Maulana menegaskan, keenam tuntutan tersebut lahir karena aturan-aturan tersebut berpotensi mematikan mata pencaharian rakyat secara perlahan, menggerogoti sumber penghidupan masyarakat. 

“Alasan kami menolak keras seluruh regulasi tersebut adalah karena aturan itu secara nyata mengancam jutaan orang yang menggantungkan hidupnya dari Industri Hasil Tembakau. Mulai dari petani cengkeh dan tembakau, buruh linting, hingga pedagang eceran,” kata Alfianaja,” ujar Alfianaja. 

Hari Kretek Nasional: tonggak penting menjaga penghidupan

Untuk diketahui, bertahun-tahun Komunitas Kretek dan KNPK mengawal isu keberlangsungan IHT, di antaranya melalui peringatan Hari Kretek Nasional setiap tanggal 3 Oktober. 

Tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Kretek Nasional karena bertepatan dengan lahirnya Komunitas Kretek yang sudah dari 2010 terus mengawal Industri Hasil Tembakau dari berbagai ancaman. Selain itu, tanggal tersebut juga bertepatan dengan diresmikannya Museum Kretek di Kudus, Jawa Tengah. 

Komunitas Kretek dan KNPK menekankan, Hari Kretek Nasional penting diperingati kaerena sejatinya kretek telah menubuh ke dalam keseharian masyarakat. Industri Hasil Tembakau setidaknya menghidupi enam juta jiwa, mulai dari petani, buruh, hingga toko-toko kelontong. Sehingga kretek telah menjadi sumber penghidupan dan kehidupan masyarakat Indonesia. 

Pada edisi tahun 2026, Hari Kretek Nasional dimulai dengan Musyawarah Kretek Nasional. Puncaknya, pada Sabtu (3/10/2026) Komunitas Kretek dan KNPK mengundang masyarakat luas untuk turut berpartisipasi dalam merayakan kretek. Sebab, bagi Komunitas Kretek dan KNPK, perayaan ini menjadi tonggak penting untuk menjaga eksistensi sekaligus kedaulatan kretek. 

Dua musisi, yakni Umar Haen dan Fajar Merah, dihadirkan untuk turut menyemarakkan puncak Hari Kretek Nasional 2026. Diiringi semburat memerah di barat, Akademi Bahagia EA menjadi ruang hangat tetapi juga menyalakan kesadaran perihal kedaulatan sebuah warisan budaya Indonesia: kretek. 

BACA JUGA: Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2026 oleh .

Redaksi

Kontributor aktif media opini dan satir.