Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

Redaksi oleh Redaksi
31 Mei 2026
A A
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Ilustrasi - Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO, Yogyakarta — Di tengah massifnya kampanye anti-tembakau secara global melalui Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), Sebat Bareng menjadi upaya sederhana untuk membuka mata publik: Bahwa tembakau dan produknya (kretek) merupakan akar sejarah, budaya, dan denyut ekonomi rakyat Indonesia. 

Setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 31 Mei, World Health Organization (WHO) selalu memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Di tahun 2026 ini, tema HTTS yang diusung WHO adalah “Unmasking the appeal – countering nicotine and tobacco addiction.” Tema ini menyoroti dugaan bahwa industri tembakau dan nikotin terus mengemas produknya agar terlihat menarik, terutama bagi anak-anak dan remaja.

Iklan

Komunitas Kretek dan Komite Nasional Kretek (KNPK) menilai narasi tersebut perlu dibaca secara lebih kritis, terutama dalam konteks Indonesia.

Bagi Komunitas Kretek dan KNPK, kretek tidak bisa disamakan begitu saja dengan produk tembakau global. Karena kretek lahir dari sejarah panjang masyarakat Indonesia. Di dalamnya ada tembakau, cengkeh, petani, buruh linting, pedagang kecil, dan jutaan orang yang hidup dari Industri Hasil Tembakau (IHT).

Menjawab narasi WHO: Industri tembakau (kretek) terus menciptakan daya tarik bagi anak

Juru Bicara Komunitas Kretek, Khoirul Atfifudin menyebut, tuduhan bahwa industri tembakau terus menarik konsumen anak tidak bisa dijadikan alasan tunggal untuk terus menekan industri hasil tembakau (IHT).

Selama ini IHT telah berada di bawah regulasi yang sangat ketat. Iklan dibatasi, promosi diawasi, kemasan diwajibkan memuat peringatan kesehatan bergambar, dan aturan usia pembelian telah ditetapkan. Jika masih ditemukan perokok anak atau pelanggaran di lapangan, maka persoalannya ada pada lemahnya pengawasan negara.

“Kalau masih ada pelanggaran di lapangan, maka yang harus diperkuat adalah pengawasan negara, bukan terus-menerus menjadikan kretek dan ekosistem IHT sebagai sasaran pukul,” sambungnya. 

Atfi menegaskan, negara tidak bisa terus-menerus menambah tekanan kepada IHT, sementara fungsi pengawasan di lapangan tidak dijalankan dengan serius. IHT diminta patuh pada regulasi, petani dan buruh ikut menanggung dampaknya. Pedagang kecil ikut tertekan. Namun ketika penerimaan cukai dibutuhkan, negara tetap menikmati hasilnya.

“Karena itu, narasi WHO tentang “membongkar daya tarik” produk tembakau tidak boleh diterima mentah-mentah. Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menyangkut hidup jutaan rakyat. Jika yang dipersoalkan adalah akses anak terhadap rokok, maka negara harus memperkuat pengawasan. Bukan menjadikan kretek dan seluruh ekosistem IHT sebagai sasaran pukul yang terus-menerus dilemahkan,” tegas Atfi. 

Sebat Bareng di 16 kabupaten/kota jadi upaya sederhana 

Rumah Kretek Indonesia juga melihat bahwa agenda anti-tembakau global tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan ekonomi. Di saat produk tembakau terus ditekan, produk pengganti nikotin seperti Nicotine Replacement Therapy justru diberi ruang sebagai solusi.

Publik seolah diajak keluar dari tembakau, tetapi tetap diarahkan kepada produk nikotin berbasis farmasi. Artinya, perdebatan ini tidak sesederhana soal kesehatan. Ada perebutan pasar nikotin yang perlu dibaca secara jernih. Begitu sikap Rumah Kretek Indonesia merujuk laporan dalam buku Nicotine War karya Wanda Hamilton. 

Sebagai respons atas narasi menyudutkan terhadap tembakau dan produknya (kretek), Komunitas Kretek, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Rokok Indonesia menggelar agenda “Sebat Bareng” di berbagai daerah. Agenda ini dilaksanakan bersamaan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai bentuk penolakan terhadap kampanye global yang terus menyudutkan kretek.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Komunitas Kretek (@komunitaskretek)

Sebat Bareng adalah cara sederhana untuk bersuara. Masyarakat berkumpul, menyalakan kretek, berdiskusi, dan mengingatkan kembali bahwa kretek adalah bagian dari sejarah, kebudayaan, dan ekonomi rakyat Indonesia. Agenda ini juga menjadi pengingat kepada negara agar tidak hanya hadir saat memungut cukai, tetapi juga hadir saat petani, buruh, pedagang kecil, dan seluruh ekosistem IHT terancam.

“Sebat Bareng adalah cara kami merespons narasi global yang terlalu mudah menyudutkan tembakau dan kretek. Di Indonesia, kretek punya sejarah, punya akar budaya, dan menghidupi jutaan orang,” ujar Juru Bicara KNPK, Alfianaja Maulana. 

Iklan

“Maka negara tidak bisa hanya hadir saat memungut cukai, tetapi abai saat rakyat tembakau ditekan oleh kampanye global. Sebab, untuk menjadi nyaring, kita perlu menjadi banyak,” tukasnya. 

Sebat Bareng akan digelar di 16 titik di Indonesia, yaitu Temanggung, Magelang, Wonosobo, Bandung, Garut, Nganjuk, Semarang, Jember, Yogyakarta, Purbalingga, Lombok, Pamekasan, Situbondo, Kudus, Rembang, dan Sumenep.

Melalui Sebat Bareng, Komunitas Kretek, KNPK, dan Rumah Kretek Indonesia menyerukan agar pemerintah tidak ikut-ikutan merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia secara taklid buta. Indonesia punya kretek, petani tembakau dan cengkeh, buruh linting, serta pedagang kecil. Indonesia juga masih bergantung pada penerimaan cukai hasil tembakau.

“Maka, yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah sikap yang adil. Pemerintah tidak perlu menelan mentah-mentah narasi global yang tidak memahami kehidupan rakyat tembakau di bawah. Save Kretek, Save Indonesia!” Tutup Alfianaja.

BACA JUGA: Ladang Tembakau Siluk: Teman, Rumah, dan Nyawa bagi Petani Srunggo-Kalidadap Imogiri, Tak Menanam akan Menyesal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Mei 2026 oleh

Tags: anti tembakauhari tanpa tembakau seduniahttskomunitas kretekkretektembakau
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Tembakau Hidupi 6 Juta Orang tapi Mau Dibunuh? Bajingan Sekali! MOJOK.CO

Industri Hasil Tembakau Menghidupi 6 Juta Petani dan Rakyat Kecil tapi Kamu Mau Membunuh Sumur Rezeki Ini? Kamu Jahat Sekali

2 Oktober 2025
cukai rokok, tembakau.MOJOK.CO

Cukai Rokok Tak Naik: Melawan Tekanan Antirokok, Menjaga Nafkah Jutaan Petani dan Buruh

1 Oktober 2025
Komunitas Kretek dan KNPK tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia MOJOK.CO

Komunitas Kretek dan KNPK: Hari Tanpa Tembakau adalah Cara Pandang Tak Adil Pada Industri Hasil Tembakau

31 Mei 2025

Cerita Petani di Bansari yang ‘Menolak Mati’ Saat Tembakau Temanggung Tak Lagi Seksi

7 Oktober 2024
Kemenkes serampangan dalam susun R Permenkes yang di dalamnya ada aturan bungkus rokok polos MOJOK.CO

Komunitas Kretek: Aturan Bungkus Rokok Polos oleh Kemenkes Lahir dari Pola Pikir Kacau dan Tak Hitung Risiko

24 September 2024
komunitas kretek.MOJOK.CO

Upaya Matikan Kretek Indonesia, Komunitas Kretek Tolak PP Nomor 28 Tahun 2024

31 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kontingen Prambanan tunjukkan jejak Mataram Kuno di Karnaval Budaya Klaten 2026. MOJOK.CO

Potret Kejayaan Mataram Kuno dalam Karnaval Budaya Klaten, 26 Kecamatan Adu Keunggulan Wilayah

19 Agustus 2026
No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius MOJOK.CO

No Na, Klakson Telolet, dan Nasionalisme yang Nggak Harus Serius

17 Agustus 2026
Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.