MOJOK.CO – Pindah negara atau keluar jadi WNI memang menggoda, tapi sebenarnya bukan itu yang didambakan oleh orang-orang di Indonesia.
Beberapa hari lalu saya membaca pemberitaan tentang pernyataan Presiden yang pada intinya mempersilakan mereka yang merasa Indonesia suram untuk mencari negara lain atau pindah negara.
Belum selesai publik memperbincangkan ucapan tersebut, muncul kabar lain. Pemerintah menerbitkan aturan yang menetapkan tarif Rp5 juta bagi WNI yang mengajukan permohonan kehilangan kewarganegaraan atas kemauan sendiri.
Rupanya, mencari atau pindah negara lain memang tidak dilarang. Namun, kalau benar-benar ingin berhenti menjadi warga negara Indonesia, tetap ada formulir yang harus diisi, persyaratan yang harus dipenuhi, dan biaya yang harus dibayar.
Entah kenapa saya tidak tersinggung membaca semua itu. Saya malah membuka Google.
Mau pindah negara: Jangankan lolos imigrasi, lolos tanggal tua saja sulit
Bukan untuk membeli tiket pesawat. Saldo rekening saya masih lebih cocok dipakai membelikan cilok untuk anak-anak sepulang latihan atletik daripada membeli tiket penerbangan internasional.
Saya hanya mengetik: “Cara jadi warga Selandia Baru.”
Hasil pencariannya lumayan bikin minder. Ternyata pindah negara tidak cukup bermodal rasa kecewa. Ada persyaratan kemampuan bahasa Inggris, pekerjaan, visa, tabungan, hingga proses administrasi yang panjang.
Saya sampai bergumam sendiri, “Oh, ternyata untuk menyerah saja ada proses seleksinya.”
Saya menutup Google, lalu kembali mencuci piring.
Piring kotor rupanya tidak peduli apakah pemiliknya masih optimistis terhadap masa depan bangsa atau sedang mencari informasi tentang visa. Tetap saja harus dicuci sebelum nasi goreng untuk makan malam dimasak.
Begitulah nasib rakyat biasa. Bahkan untuk kabur pun kami harus memenuhi persyaratan.
Saya memang sempat berpikir, jangan-jangan benar juga. Kalau merasa negeri ini melelahkan, ya pindah saja.
Lalu saya berpikir lagi. Negara mana yang mau menerima ibu rumah tangga dengan empat anak, kemampuan bahasa Inggris yang masih sesekali dibantu Google Translate.
Saldo rekening saya yang lebih sering dipakai membayar SPP, membeli sepatu atletik, popok, serta stok susu daripada ditabung demi migrasi?
Jangankan lolos seleksi imigrasi. Lolos dari tanggal tua saja kadang perlu strategi.
Saya sadar, alasan pindah negara itu ternyata bukan semata karena Selandia Baru
Besoknya saya membuka Google lagi. Kali ini saya benar-benar membaca tentang Selandia Baru: sekolahnya, layanan kesehatannya, transportasi umumnya, hingga pemerintahannya.
Semakin banyak membaca, saya semakin mengerti mengapa banyak orang memimpikan hidup di sana.
Saya lalu berhenti membaca persyaratan visa dan mulai membayangkan rasanya tinggal di negara tersebut.
Anak-anak berangkat sekolah dengan tenang, orang tua mudah mengakses layanan kesehatan, dan warga percaya pajak yang mereka bayarkan benar-benar kembali dalam bentuk pelayanan publik.
Saat itulah saya sadar, yang saya kagumi bukan semata-mata Selandia Baru, melainkan keadaan ketika negara bekerja sebagaimana mestinya.
Kedengarannya sederhana. Namun, bagi orang tua, rasa tenang sering kali jauh lebih mahal daripada harga tiket pesawat.
Mungkin banyak orang ingin pindah negara bukan karena rumput tetangga selalu lebih hijau. Mereka hanya melihat rumput itu benar-benar dirawat.
Tidak ada orang tua yang bangun pagi sambil berkata, “Hari ini sepertinya enak kalau pindah negara atau menjadi warga negara lain.”
Yang ada justru orang tua yang bangun pagi sambil menghitung uang belanja, mengingat jadwal imunisasi, mengecek grup WhatsApp sekolah, mencari sepatu atletik yang harganya belum naik lagi, lalu berharap berita yang dibaca hari itu tidak menambah alasan baru untuk cemas.
Kadang saya berpikir, mungkin yang sebenarnya ingin dipindahkan banyak orang bukan alamat rumahnya, melainkan isi kepala yang sudah terlalu penuh oleh pertanyaan.
Sebab, kadang-kadang yang ingin kita tinggalkan bukan negaranya, melainkan rasa lelah memikirkan masa depan.
Rumah bukan sekadar bangunan dan spanduk yang tiba-tiba muncul di lapangan
Saya kembali menutup Google. Saat itulah saya sadar, pindah negara jauh lebih rumit daripada pindah rumah. Padahal pindah rumah saja sudah cukup membuat kepala pening.
Dahulu saya mengira membeli rumah adalah akhir perjuangan. Ternyata itu justru awal dari proses panjang mempelajari lingkungan, fasilitas umum, rapat warga, bahkan tata ruang.
Saya yang sebelumnya lebih hafal resep ayam kecap daripada site plan mendadak akrab dengan istilah PSU, fasos, dan fasum. Rasanya seperti membeli paket bundel.
Bonusnya bukan rice cooker atau dispenser, melainkan kewajiban belajar membaca regulasi. Sayangnya, sertifikat kelulusannya belum juga saya terima.
Dari situlah saya menyadari bahwa rumah bukan sekadar bangunan.
Rumah adalah rasa aman. Rasa memiliki. Rasa bahwa anak-anak dapat berlari di ruang terbuka tanpa membuat orang tuanya terus-menerus khawatir.
Karena itu, saya cukup terkejut ketika suatu hari melihat sebuah spanduk berdiri di lapangan yang selama ini kami kenal sebagai ruang bersama. Dari spanduk itulah saya pertama kali mengetahui adanya rencana pemanfaatan lahan tersebut.
Bukan dari forum warga. Bukan pula dari penjelasan yang pernah saya dengar sebelumnya.
Spanduk itu sudah berdiri tegak, seolah-olah seluruh warga mengetahui cerita di baliknya. Saya sempat mengira hanya saya yang ketinggalan informasi. Setelah bertanya kepada tetangga, ternyata mereka sama bingungnya.
Ironisnya, yang paling mudah ditemukan justru pengumumannya. Penjelasannya harus dicari ke sana kemari. Padahal warga bukan sedang mencari bocoran konser. Kami hanya ingin memahami apa yang sedang terjadi di lingkungan tempat anak-anak kami tumbuh.
Rakyat kecil sering diminta percaya kepada pembangunan, tetapi terkadang harus bekerja keras hanya untuk mengetahui apa yang sedang dibangun di sekitar rumahnya.
Barangkali memang begitulah rasanya menjadi warga negara. Sering kali kita tidak langsung menolak sebuah keputusan. Kita hanya berharap diberi kesempatan memahami mengapa keputusan tersebut diambil.
Penjelasan yang baik memang tidak selalu membuat semua orang setuju. Namun, setidaknya membuat warga merasa dihargai.
Yang melelahkan adalah pertanyaan tanpa jawaban
Sejak saat itu, saya memahami satu hal. Yang melelahkan ternyata bukan membaca beritanya, melainkan hidup dengan terlalu banyak pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban.
Pertanyaan tentang ruang hidup. Tentang pelayanan publik. Tentang masa depan anak-anak. Juga tentang apakah suara warga benar-benar didengar.
Mungkin karena itulah sebagian orang mulai melirik untuk pindah negara. Bukan karena membenci tanah airnya, melainkan karena mendambakan hidup yang sedikit lebih tenang.
Tenang karena aturan berjalan. Tenang karena pelayanan publik bekerja. Tenang karena ketika warga bertanya, yang datang bukan sekadar pengumuman, melainkan juga penjelasan.
Sayangnya, rasa tenang yang sesederhana itu justru sering terasa mewah.
Sampai hari ini saya belum membeli tiket ke Selandia Baru. Mungkin memang tidak akan pernah. Sebab, semakin lama saya pikirkan, yang sebenarnya saya cari bukan alamat baru.
Yang saya cari adalah kabar baik.
Kabar bahwa sekolah semakin baik. Pelayanan kesehatan semakin mudah. Uang rakyat semakin dijaga. Kerja keras lebih dihargai daripada koneksi.
Anak-anak saya kelak tidak perlu merasa masa depan mereka berada di negara lain.
Mungkin itulah bedanya orang tua dengan turis. Turis mencari negara indah untuk dikunjungi. Orang tua mencari tempat terbaik untuk membesarkan anak-anaknya.
Bukan pindah negara, melainkan alasan untuk percaya
Besok pagi saya mungkin tetap membuka Google. Namun, mudah-mudahan bukan lagi untuk mencari cara menjadi warga negara Selandia Baru.
Paling-paling saya mencari resep ayam kecap, harga cabai hari ini, atau penyebab kaus kaki anak selalu hilang sebelah. Soal pindah negara, biarlah tetap menjadi riwayat pencarian yang tidak pernah berubah menjadi tiket.
Sampai hari ini, Google pun belum berhasil menjawab pertanyaan tentang kaus kaki yang hilang sebelah itu.
Namun, diam-diam saya masih berharap negeri ini memberikan cukup banyak alasan agar orang tua seperti saya lebih sibuk menyiapkan bekal sekolah daripada mengurus dokumen imigrasi.
Sebab, sesungguhnya tidak ada orang tua yang bercita-cita membesarkan anak jauh dari tanah kelahirannya.
Yang kami cari bukan negara baru atau alasan pindah negara. Yang kami cari adalah alasan baru untuk tetap percaya.
Percaya bahwa suatu hari nanti, ketika anak-anak kami dewasa, mereka tidak perlu membuka Google untuk mencari cara menjadi warga negara lain.
Mereka cukup membuka pintu rumah, melangkah keluar, lalu percaya bahwa masa depan terbaik masih ada di negeri yang sejak lahir mereka sebut Indonesia.
Penulis: Endang Susanti
Editor: Agung Purwandono














