MOJOK.CO – Menjadi “Habib 119” lewat layanan konseling gratis Rumah Cahaya membuat saya sadar bahwa begitu banyak orang membutuhkan pertolongan, sementara kesehatan mental masih sering dijadikan bahan candaan.
Sebenarnya, tak perlu kaget ketika Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mendapati hingga 600 orang mengakses layanan konseling mental dengan psikolog melalui “Healing 119” dalam satu shift alias tiga jam. Layanan ini merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Toh, pada awal 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah menyampaikan perkiraan berdasarkan data WHO bahwa 28 juta orang Indonesia punya masalah mental.
Sejak sebelum 2021, saya mencoba berdakwah soal ancaman itu di Indonesia. Pada 11 Februari 2021, saya bikin penggalangan dana “Celengan Pemuda Tersesat” di Kitabisa untuk ikut berkontribusi mengurangi masalah tersebut.
Karenanya, saya malah kaget: kenapa kok ada yang kaget? Meski begitu, saya segera sadar bahwa kesehatan mental memang belum menjadi kesadaran massal yang serius dan mendalam di negeri yang pernah mencanangkan “Revolusi Mental” ini.
Healing 119 perlu kita apresiasi, tapi kok psikolognya cuma 5?
Bahkan, yang memprihatinkan, mental health kadang hanya jadi bahan candaan untuk mengejek Gen Z. Fenomena bunuh diri di Jembatan Cangar (Mojokerto, Jawa Timur) beberapa waktu lalu ‘pun yang merupakan keprihatinan tertinggi dari dampak masalah mental sempat ramai dijadikan sekadar bahan konten oleh netijin alias netizen yang kayak jin.
Yang tak kalah memprihatinkan, masalah mental di negeri ini belum dianggap sebagai persoalan serius karena tak terlihat secara fisik. Datang ke psikolog juga dianggap aib karena masyarakat mengasosiasikan psikolog dengan sebutan negatif “dokternya orang gila”.
Ada pula mitos-mitos menyesatkan bahwa daripada ke psikolog, mending duduk di kursi Indomaret sambil ngopi.
Pokoknya ruwetlah. Tiap hari ada aja yang bikin stres di negeri ini, tetapi sekalinya ada Healing 119 yang perlu kita apresiasi, kok bisa-bisanya tak visioner dan antisipatif dengan hanya menyediakan lima psikolog per shift.
Alhasil, sejak 2021, saya merintis “Rumah Cahaya”, yakni klinik mental gratis.
Hingga kini, rata-rata jumlah pendaftar Rumah Cahaya lebih dari 50 orang per hari; dalam kondisi normal, jumlahnya lebih dari 100, dan pernah mencapai 5.000 pendaftar.
Dananya berasal dari “Pemuda Tersesat” yang menyumbang melalui celengan yang saya bikin.
Hingga kini, Rumah Cahaya punya layanan konseling daring untuk menjangkau klien di seluruh Indonesia serta layanan tatap muka di Jakarta dan Padang. Kami punya sekitar 20 psikolog.
Alasan saya bikin Rumah Cahaya atau Habib 119
Ada juga podcast dan webinar kesehatan mental tiap pekan bersama psikolog sebagai program preventif. Kalian yang mau mengaksesnya tinggal langsung saja ke Instagram @InfoRumahCahaya.
Kenapa saya bikin Rumah Cahaya alias jadi semacam “Habib 119”, seperti judul tulisan ini yang sengaja nyentrik biar memancing klik?
Pertama, saya sadar setelah membaca Al-Qur’an bahwa masalah mental itu nyata, serius, dan tak mudah diatasi.
Kalau tak percaya, coba kita baca terjemahan—syukur kalau mau membuka tafsir—dua surah yang mungkin paling sering kita baca saat salat: mu‘awwidzatain (dua surat perlindungan) alias Al-Falaq dan An-Nas.
Kanjeng Nabi Muhammad berpesan agar kita membaca kedua surah itu sebelum tidur sebagai penangkal sihir, stres, dan bahaya lainnya dari bangsa jin dan manusia.
Dalam Surah Al-Falaq, Allah meminta Nabi Muhammad dan kita menyebut satu nama-Nya “saja” untuk mengurai berbagai masalah dari luar diri kita: kejahatan makhluk ciptaan Allah, kejahatan yang muncul di tengah malam, kejahatan penyihir, dan kejahatan yang muncul dari dengki.
Simpelnya, satu nama Allah untuk empat jenis kejahatan dari luar diri kita.
Adapun dalam Surah An-Nas, Allah meminta Nabi Muhammad dan kita menyebut tiga nama-Nya untuk mengurai satu masalah yang muncul dari dalam diri kita, yaitu waswas yang sumbernya mental.
Umat Islam dirikan rumah sakit jiwa pertama di dunia
Kedua, saya membaca sejarah dan menemukan cerita bahwa umat Islam mendirikan salah satu rumah sakit jiwa pertama di dunia di Baghdad pada 705 M.
Peradaban Muslim juga mendirikan rumah sakit jiwa di Kota Fes pada abad ke-8 M, di Kairo pada 800 M, serta di Damaskus dan Aleppo pada 1270 M. Artinya, sejarah peradaban Islam adalah sejarah pengentasan masalah mental.
Ketiga, dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah Al-Maidah ayat 32, difirmankan bahwa “…siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan telah memelihara kehidupan semua manusia…”.
Salah satu bentuk “memelihara kehidupan seorang manusia” adalah menjaga kesehatan mentalnya, terlebih membantu pemulihannya.
Sebab, orang dengan masalah mental bisa menjadi seperti zombie: bernyawa, tetapi tak berjiwa. Sebagai teman, dia bisa toxic; sebagai karyawan, bisa tak produktif; sebagai pasangan, terancam ribut terus hingga cerai; dan sebagai orang tua, bisa tantrum nggak jelas kepada anaknya.
Hidup pun jadi segan.
Keempat, salah satu kabar terindah dalam hidup saya saat ini adalah mendengar klien Rumah Cahaya pulih dari masalah mentalnya.
Karena kesehatan mental Indonesia Emas bisa jadi Indonesia Cemas
Kayaknya memang sudah waktunya bangsa ini serius menangani masalah mental anak bangsanya, bukan malah menjadikannya bahan candaan.
Apalagi, dari 600 pengakses Healing 119, kelompok terbanyak bukan lansia atau orang dewasa, melainkan remaja dan anak usia sekolah. Artinya, masalah mental adalah ancaman bagi masa depan bangsa ini.
Janganlah bermimpi tentang bonus demografi atau “Indonesia Emas”. Kalau anak mudanya bermasalah secara mental, bonus demografi ya bisa menjadi ancaman psikologis. “Indonesia Emas” bisa berubah jadi “Indonesia Cemas”.
Sudah saatnya juga dakwah merambah persoalan mental: dakwah kesehatan mental. Setidaknya, jangan sampai dakwah agama yang kadang dipenuhi ancaman dan ketakutan justru bikin umat jadi sakit mental.
Sebab, Islam, misalnya, adalah kabar gembira, rahmat (cinta kasih), dan akhlak (kesantunan). Nabi Muhammad adalah sosok penyejuk jiwa.
Akhirnya, kerja menyehatkan mental orang Indonesia tak bisa hanya mengandalkan aktor nonnegara. Negara pun harus hadir secara komprehensif, bukan parsial, apalagi seremonial.
Negara juga tak bisa hanya menyembuhkan orangnya tanpa mengantisipasi sebabnya.
Di antara sebab itu adalah kelakuan pejabat kita yang beritanya bikin kita kena mental. Meski begitu, mindfulness bukan berarti menutup mata terhadap berita-berita tersebut.
Penulis: Husein Jafar Al Hadar
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Kenapa Saya Merasa Terhormat Jadi Pengasuh Pemuda Tersesat?