MOJOK.CO – Kalau membakar kitab suci dianggap menista agama, bagaimana dengan membakar hutan yang juga menyimpan tanda kebesaran Tuhan?
Saya sangat meyakini bahwa mencintai tanah air itu ajaran Islam. Bukan hanya karena “hubbul wathon minal iman” alias “mencintai tanah air itu sebagian dari iman” adalah diktum yang dari kecil ditempel di tembok-tembok madrasah, pesantren, maupun ruang ngaji di kampung saya. Tapi karena dalam Surat Al-Baqarah: 216 difirmankan bahwa kita ini kodratnya benci peperangan. Karena, sebagaimana dalam Surat Al-Hijr: 29, kita diciptakan dari “ruh” Tuhan Yang Maha Kasih dan Sayang.
Bahkan keributan di ranah digital saja kita tak suka. Kecuali mereka yang memang cari makan dari keributan dan peperangan, seperti Donald Trump, buzzer, dan kawan-kawannya. Bagi mereka, tak ribut atau tak perang berarti tak makan. Sebab, yang dijual adalah senjata dan propaganda.
Adapun kita, atau paling tidak saya, cenderung keluar dari grup WhatsApp yang isinya cuma ribut-ribut. Tapi, lain cerita kalau kita diusir dari kampung halaman, sebagaimana disebut dalam Surah Al-Hajj ayat 40. Dalam keadaan begitu, masing-masing kita wajib hukumnya berteriak seperti teriakan yang sangat populer itu: “Saya akan lawan!”
Bukan hanya itu, Nabi Muhammad dikisahkan sampai bersedih dan menangis lantaran harus meninggalkan Makkah, kampung kelahirannya. Sebaliknya, beliau gembira dan tersenyum saat pulang ke Madinah, tempat beliau bermukim, setelah bepergian ke luar kota.
Mencintai tanah air, merawat kampung halaman
Dari sini kita malah jadi tahu bahwa Islam menganjurkan kita bukan hanya mencintai kampung kelahiran, tapi juga tempat kita merantau atau bermukim. Saya tak hanya wajib mencintai Bondowoso, kampung kelahiran saya, tapi juga Jakarta, tempat saya menimba ilmu dan bekerja. Begitu juga para tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Mereka bukan hanya perlu mencintai Indonesia sebagai tanah airnya, tapi juga negara tempat mereka bekerja sebagai tanah mukimnya.
Oleh karena itu, meski sudah lebih dari dua dekade saya tinggal di luar kampung halaman, saya tak pernah melewatkan satu tahun pun tanpa pulang kampung. Bahkan, kalau dihitung-hitung sejak nyantri dulu, saya ini lebih banyak menghabiskan umur di perantauan. Tapi saya tak pernah melewati tahun tanpa pulang kampung. Seminimal-minimalnya mudik saat Lebaran. Bagi saya, mudik itu ibadah.
Di antara ibadah dalam mudik itu adalah melihat kampung, lalu bertanya pada diri tentang apa yang bisa kita jihadkan untuk kampung kita. Karena memang berbagi yang paling utama adalah berbagi pada siapa atau apa yang paling dekat dengan kita. Kampung harusnya jadi salah satu yang terdekat dengan kita karena dari sana kita berasal.
Dan di antara yang paling menyita perhatian saya saat pulang kampung adalah kenyataan bahwa kampung saya alamnya sudah tak seperti dulu lagi. Bahkan ada yang mengkhawatirkan.
Saya tak anti kemajuan. Saya tak mau munafik. Saya saja ingin maju dengan pergi ke kota, apa iya kampung saya tak boleh maju?
Namun, kemajuan itu harusnya membangun tanpa merusak. Bertumbuh dari akar, bukan malah mencerabutnya. Berkembang tanpa kehilangan jati diri.
Menghadapi kebakaran hutan, berdoa meminta hujan saja tak cukup
Kegelisahan tentang kampung saya itu juga yang membuat saya memikirkan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kalau alam di kampung sendiri berubah saja kita sedih, bagaimana dengan mereka yang hutannya terbakar, kebunnya rusak, dan rumahnya diselimuti asap?
Mereka bahkan harus berjuang untuk sesuatu yang selama ini kita nikmati tanpa banyak berpikir: bernapas. Lalu, sebagai orang beragama, apakah kita cukup hanya berdoa meminta hujan? Bukankah kita juga perlu mempersoalkan perbuatan manusia yang merusak alam ciptaan Tuhan?
Tak ingin kehilangan kampung halaman itu tampaknya bukan hanya soal tak ingin terusir, tapi juga tak ingin kehilangan autentisitasnya. Karenanya, saya bikin inisiatif yang pada dasarnya mengajak orang kampung kembali ke alamnya.
Merawat alam sebagai sesama ciptaan Tuhan
Mengapa?
Pertama, alam juga ciptaan Tuhan. Sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad, hubungan kita dengan alam bisa mendatangkan pahala maupun dosa: pahala jika menjaganya, dosa jika merusaknya.
Bahkan, Surat Ar-Rum: 41 mewajibkan pola relasi kita dan alam adalah subjek-subjek, bukan subjek-objek ala masyarakat modern. Alam bukan diciptakan untuk kita eksploitasi demi kehidupan kita, melainkan eksplorasi demi kehidupan bersama.
Karenanya, memperlakukan alam adalah sebagaimana kita memperlakukan diri kita. Persis seperti yang Nabi Muhammad sampaikan pada seorang yang memarkir untanya tanpa memberinya makan dan minum saat orang itu istirahat makan dan minum. Bahwa sebagaimana seorang itu butuh istirahat, makan, dan minum maka begitu juga unta tersebut.
Kedua, alam bisa hidup tanpa kita. Adapun kita tak bisa hidup tanpa alam, bahkan untuk beberapa saat saja. Kita tak bisa hidup beberapa bulan tanpa “ditemani” serangga, beberapa hari tanpa air, dan beberapa menit tanpa oksigen yang semuanya itu ada dan dihasilkan oleh alam.
Ketiga, Surat Al-Hasyr: 24 menginformasikan bahwa alam juga makhuk Tuhan yang selalu bertasbih memuji Tuhan. Bukan hanya itu, tapi juga benda mati di alam semesta ini semuanya bertasbih pada Tuhan.
Maka, merusaknya berarti menghentikan pujian-pujian pada Tuhan dari mereka. Semacam bubarin pengajian atau bakar rumah ibadah.
Membakar hutan, merusak tanda kebesaran Tuhan
Keempat, yang paling mengerikan adalah bahwa alam itu salah satu ayat Tuhan atau tanda Tuhan, seperti difirmankan dalam Fushshilat: 53. Bedanya, kalau Al-Qur’an itu ayat qauliyah maka alam itu ayat kauniyah.
Sehingga, merusaknya berarti mengurangi tanda-tanda keberadaan Tuhan yang bisa mengantar orang pada keimanan. Semacam dakwah ateisme. Dan juga membakar pohon seperti membakar mushaf Al-Qur’an. Karenanya, kalau mau, didakwa dengan delik penistaan agama juga bisa itu.
Nabi Adam metik satu buah terlarang saja dikeluarkan dari surga. Maka, mungkinkah orang masuk surga padahal ia menebang dan membakar jutaan hektar hutan secara terlarang? Mikir!
Lihat postingan ini di Instagram
Penulis: Husein Jafar Al Hadar
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Ibarat Jatuh, Tertangkap Jaring: Saya WNI, Untungnya Madura