ADVERTISEMENT

Ibarat Jatuh, Tertangkap Jaring: Saya WNI, Untungnya Madura

Ibarat Jatuh, Tertangkap Jaring: Saya WNI, Untungnya Madura MOJOK.CO

MOJOK.CO– Di tengah stereotipe orang Madura yang lekat dengan carok, “rayap besi”, Habib Jafar justru mengaku merasa beruntung menjadi orang Madura.

Sebenarnya valid untuk saya mengklaim kalau saya bukan orang Madura. Karena saya memang orang Jawa. Tepatnya Jawa Timur. Saya kelahiran Bondowoso, salah satu kota di sisi timur Jawa Timur. Bahkan jauh sekali dari Pulau Madura. 

ADVERTISEMENT

Apalagi secara garis keturunan, saya bisa mempredikasi diri saya sebagai orang Arab (lebih tepatnya orang keturunan Arab) seperti orang Cina untuk orang keturunan Tionghoa. Dan  saya “kebetulan” seorang Habib.

Saya punya ragam privilege: lahir di Jawa yang identik dengan kekuasaan di negeri ini, keturunan Arab yang jadi wilayah turunnya Islam di mana Indonesia adalah negeri mayoritas Muslim, dan segaris dengan Nabi Muhammad yang begitu dicintai di negeri ini.

Tapi, saya selalu memperkenalkan diri saya sebagai orang Madura. Maksudnya, “Madura swasta”, yakni orang yang berbahasa dan berbudaya Madura meski tak lahir di Pulau Garam itu. Saya dengan sadar, secara saksama, dan tak dipaksa oleh pihak manapun mengklaim itu. Bahkan, bangga.

Jalan ninja seseorang yang kena stereotipe orang Madura

Belakangan, saya merasakan itu justru semacam “jalan ninja”, di tengah streotipe orang Madura alias “Blok M”, “Plat M”, “Meksiko”, dan lain-lain yang semuanya bermuara pada makna keras, rusuh, kriminal, pokoknya hama lah. Bahkan, saya kerap menceritakan masa kecil saya yang pernah muncuri besi rel kereta api. Salah satu hal yang menyokong stereotipe Madura.

Mengapa?

Nah, mari kita bicara Madura secara lebih utuh dan fair. Karena kita yang Muslim diajarkan Surat Al-Maidah ayat 8 agar “…janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil…” 

Orang Jawa bilang “ngono yo ngono ning ojo ngono” alias “gitu sih tapi ya jangan gitu lah”. Tak sedikit orang Madura yang sesuai dengan streotipe Madura yang beredar, tapi ya jangan stereotipe lah. 

Dalam tradisi spiritualitas Islam, kita diajarkan jika ada 99 alasan untuk menuduh orang dengan satu stereotipe, dan satu alasan untuk menuduhnya tak sesuai dengan stereotipe itu, maka pilihlah yang stau alasan baik itu. Karena berprasangka baik itu baik meski salah asal sudah dan terus waspada. Bukankah arogansi paling nyata adalah stereotipe?!

ADVERTISEMENT

Pertama, saya kerap cerita masa kecil mencuri besi rel kereta api dengan maksud agar orang sadar bahwa orang baik punya masa lalu dan orang buruk punya masa depan. Sehingga yang sudah baik tak dikultuskan dan sombong, dan yang masih buruk tak diabaikan dan putus asa.

Saya melihat oknum Madura yang disebut “rayap besi” itu seperti diri saya di masa lalu. Syukurnya saya dididik dan diberi kesempatan, bukan dilabeli dengan stereotipe yang makin menjerumuskan. 

Konon, di surga orang Madura jualan sate dengan api neraka

Karena justru kesan yang saya lebih tangkap dari orang Madura adalah etos kerjanya. Konon, di surga masih ada orang Madura jual sate dengan modal api dari neraka. Dan saya lebih menikmati anekdot yang mungkin juga kritis semacam itu ketimbang stereotipe. Anekdot lebih konstruktif ketimbang stereotipe yang destruktif.

Artinya, ada problem yang lebih mendasar dan struktural. Sehingga etos kerja menjadi terlampau “kreatif” sampai jadi “rayap” karena 19 juta lapangan pekerjaan yang mungkin pernah dijanjikan pada warga negara Indonesia (WNI) justru “dirayap”.

Kedua, kalau bukan orang Madura sendiri seperti saya yang memperkenalkan ke-Madura-annya, lalu siapa lagi?! Memperkenalkan ke-Madura-an semacam bentuk protes paling elegan saya atas stereotipe pada Madura. 

Tak hanya memperkenalkan sisi potensi dan positifnya saja, melainkan realita dan negatifnya untuk dikritisi sebagai otokritik. Anda pikir anekdot tentang orang Madura itu dari mana? Ya, cenderungnya dari kami sendiri. 

Karena stereotipe itu kerja media. Bukan hanya media konvensional atau digital, tapi media tongkrongan. Sumbernya adalah kegagalan menganalisa. 

Tujuannya kadang untuk mencari kelucuan atau menebar kebencian. Dan orang dari wilayah dengan akses media lemah seperti kami di Madura atau saudara kami di Papua memang kerap jadi korbannya. 

Karenanya, popularitas yang saya dapatkan, di dalamnya ada tanggung jawab jurnalistik untuk mendakwahkan bukan hanya Islam dan toleransi, tapi Madura dan kebhinekaan.

Lebih sering lihat carok di Jakarta

Ketiga, Madura itu kadang disalahpahami. Misalnya, stereotipe orang Madura yang paling sering adalah soal carok. Kata teman saya, Tretan Muslim yang Madura asli, saat kami podcast, orang itu membayangkan seolah semua masalah di Madura diselesaikan dengan carok, dan di mana-mana serta tiap saat ada saja orang carok. 

Padahal, saya dan Tretan Muslim seumur hidup tak pernah lihat carok di Madura pulaunya atau “jajahan”-nya. Saya malah seringnya lihat carok di Jakarta. Namanya sih tawuran. 

Bahkan Jakarta bukan yang tertinggi, sedangkan Madura bahkan tak masuk lima besar. Dan tawuran bisa dibilang lebih carok dari carok itu sendiri. Sebabnya tak selalu jelas, tak fair, dan merugikan pihak di luar dua orang atau kelompok yang carok karena dilakukan di jalanan atau ruang publik.

Dan lagi, saya mau bilang kalau celurit bagi orang Madura itu seperti keris bagi orang Jawa. Itu nyaris murni aksesoris budaya. Kalau ‘pun sebagai benda tajam ya kayak benda tajam lain yang digunakan untuk memotong rumput atau kebutuhan lainnya. Dan bukan berarti orang Madura kemana-mana bawa celurit. 

Lebih takut HP daripada celurit

Makanya tak perlu takut. Saya malah lebih takut pada handphone alias HP. Celurit itu paling bisa melukai tubuh dan membunuh nyawa. 

Sedangkan HP itu bisa melukai hati dan membunuh harga diri dengan fitnah melalui media sosial di HP. Luka tubuh bisa diobati, bagaimana dengan luka hati? Hilang nyawa masih bisa “hidup” kalau punya harga diri, tapi kalau harga diri sudah dihabisi, bernyawa ‘pun serasa tak ada arti.

Akhirnya, di tengah jadi WNI yang tak mudah, bersyukur saya WNI-nya Madura. Masih bisa menertawakan ke-WNI-an saya ala orang Madura. Karena kita cakap menertawakan diri sendiri.

Itu baik untuk otokritik dan justru bersumber dari tingginya harga diri. Daripada menertawakan orang lain dengan streotipe, padahal sejatinya itu simbol inferioritas.

Masih banyak sebenarnya yang mau saya ceritakan tentang Madura. Tapi lain kali saja.

BACA JUGA Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah WNI jadi orang Madura pula. Baca tulisan-tulisan Habib Jafar lainnya di kanal Esai.

 

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

Husein Jafar Al Hadar

Magister Tafsir. Pengasuh Konten Dakwah YouTube “Kultum Pemuda Tersesat” dan Penulis Buku “Tuhan Ada di Hatimu”.