ADVERTISEMENT

Ibarat Jatuh, Tertangkap Jaring: Saya WNI, Untungnya Madura

Ibarat Jatuh, Tertangkap Jaring: Saya WNI, Untungnya Madura MOJOK.CO

Lebih sering lihat carok di Jakarta

Ketiga, Madura itu kadang disalahpahami. Misalnya, stereotipe orang Madura yang paling sering adalah soal carok. Kata teman saya, Tretan Muslim yang Madura asli, saat kami podcast, orang itu membayangkan seolah semua masalah di Madura diselesaikan dengan carok, dan di mana-mana serta tiap saat ada saja orang carok. 

Padahal, saya dan Tretan Muslim seumur hidup tak pernah lihat carok di Madura pulaunya atau “jajahan”-nya. Saya malah seringnya lihat carok di Jakarta. Namanya sih tawuran. 

ADVERTISEMENT

Bahkan Jakarta bukan yang tertinggi, sedangkan Madura bahkan tak masuk lima besar. Dan tawuran bisa dibilang lebih carok dari carok itu sendiri. Sebabnya tak selalu jelas, tak fair, dan merugikan pihak di luar dua orang atau kelompok yang carok karena dilakukan di jalanan atau ruang publik.

Dan lagi, saya mau bilang kalau celurit bagi orang Madura itu seperti keris bagi orang Jawa. Itu nyaris murni aksesoris budaya. Kalau ‘pun sebagai benda tajam ya kayak benda tajam lain yang digunakan untuk memotong rumput atau kebutuhan lainnya. Dan bukan berarti orang Madura kemana-mana bawa celurit. 

Lebih takut HP daripada celurit

Makanya tak perlu takut. Saya malah lebih takut pada handphone alias HP. Celurit itu paling bisa melukai tubuh dan membunuh nyawa. 

Sedangkan HP itu bisa melukai hati dan membunuh harga diri dengan fitnah melalui media sosial di HP. Luka tubuh bisa diobati, bagaimana dengan luka hati? Hilang nyawa masih bisa “hidup” kalau punya harga diri, tapi kalau harga diri sudah dihabisi, bernyawa ‘pun serasa tak ada arti.

Akhirnya, di tengah jadi WNI yang tak mudah, bersyukur saya WNI-nya Madura. Masih bisa menertawakan ke-WNI-an saya ala orang Madura. Karena kita cakap menertawakan diri sendiri.

Itu baik untuk otokritik dan justru bersumber dari tingginya harga diri. Daripada menertawakan orang lain dengan streotipe, padahal sejatinya itu simbol inferioritas.

Masih banyak sebenarnya yang mau saya ceritakan tentang Madura. Tapi lain kali saja.

Penulis: Husein Jafar Al Hadar
Editor: Agung Purwandono

ADVERTISEMENT

BACA JUGA Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah WNI jadi orang Madura pula. Baca tulisan-tulisan Habib Jafar lainnya di kanal Esai.

 

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

Husein Jafar Al Hadar

Magister Tafsir. Pengasuh Konten Dakwah YouTube “Kultum Pemuda Tersesat” dan Penulis Buku “Tuhan Ada di Hatimu”.