MOJOK.CO – Lewat celetukan ayahnya tentang foto ulama di dinding kantor, Habib Jafar mengingatkan bahwa menghormati orang tua sering terlupakan ketika kita sibuk mengagumi tokoh besar.
Suatu hari, saat berkunjung ke Jakarta, salah satu “destinasi wisata” ayah saya adalah kantor saya sendiri. Ia betul-betul menyebut kantor saya sebagai destinasi wisata.
Karena, katanya, “kesuksesan anak itu adalah kebahagiaan terbesar ayahnya.” Dan memang tampaknya hanya seorang ayah yang mau melihat kita lebih darinya.
Ayah pernah bilang, “Saya ini ya alhamdulillah bisa dibilang pendakwah di kampung dengan menjadi kepala yayasan pendidikan, sosial, dan dakwah selama lebih tiga dekade tanpa digaji sama sekali. Saya ingin kamu sebagai anak saya lebih dari saya dalam dakwah. Ya paling tidak di tingkat provinsi atau syukur-syukur di nasional.”
Meskipun, bagi saya, dakwah di kancah nasional tak lebih sulit daripada di kampung. Di kampung, ibarat medan perang, meski kecil tapi padat ranjau.
Masalah harus kita hadapi sendiri sampai tuntas. High maintenance, lah.
Bukan hanya urusan agama, tapi hingga urusan sosial dan pribadi. Bahkan, kalau pengairan sawah seseorang bermasalah, ia pun biasanya datang ke Ayah untuk sekadar minta doa dan ngobrol ngalur-ngidul, berharap dapat nasihat atau amalan-amalan.
Tak bisa hanya seperti dakwah saya di tingkat nasional yang modal menasihati dan mendoakan, lalu dianggap selesai.
Sejarah foto ayah saya di dinding kantor
Sesampainya di kantor saya, Ayah berkeliling layaknya orang yang sedang berwisata. Dari satu sudut ke sudut lainnya, seolah dari satu wahana ke wahana lainnya.
Ia lalu berhenti lama saat menatap deretan foto yang ada di salah satu sudut dinding kantor saya. Foto itu adalah foto tokoh-tokoh, baik ulama maupun umara, dari tingkat nasional hingga internasional.
Dari kalangan ulama ada foto KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Habib Sholeh Al Hamid (Tanggul), Guru Sekumpul, Habib Umar Bin Hafidz, hingga guru saya: Habib Jindan. Adapun dari kalangan umara ada foto Bung Karno, Bung Hatta, Mahatma Gandhi, dan lain-lain.
Ada beberapa motivasi saya memasang deretan foto itu. Pertama, tentu penghormatan atas kontribusi mereka.
Kedua, memandangnya bikin kita terus terpacu untuk belajar dan berkontribusi sebagaimana mereka. Ketiga, simbol cinta dan perkumpulan dengan mereka, sehingga saya berharap termasuk orang yang disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad, “Seseorang akan dikumpulkan dengan siapa yang ia cintai.”
Namun, Ayah melempar celetukan khasnya yang biasanya rasional. Celetukan yang selalu saya rindukan meski kerap berisi sindiran atau kritikan yang tak jarang tajam.
“Mana foto saya?” katanya. Saya kaget dan mencoba menerka-nerka maksudnya.
“Saya ini juga wali dan tokoh,” lanjutnya. Saya mulai berpikir, “Iya sih, minimal ia wali murid saya dan tokoh di kampung saya.”
Begitulah sejarah adanya foto Ayah di dinding kantor saya, berjejer dengan foto para ulama dan umara.
Tokoh memang berpengaruh dalam hidup, orang tua berpengaruh lebih besar
Dari sana, saya jadi berpikir: selama ini saya menduga memasang foto ulama dan umara adalah bagian dari kesalehan. Padahal, ada juga bagian kesalahan di dalamnya.
Pertama, wali memang mulia, tapi orang tua tak kalah mulianya, jika tak mau bilang malah lebih mulia. Kita bisa menulis panjang soal itu.
Tapi, sedikit saja kita kutip: di Al-Qur’an, tak hanya sekali, tapi beberapa kali, Allah memerintahkan kita mengimani-Nya dan langsung diikuti perintah berbakti pada orang tua, misalnya dalam QS. Al-Isra: 23 dan QS. An-Nisa: 36.
Adapun dalam sabda Kanjeng Nabi Muhammad yang sangat populer, “Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua.”
Kedua, tokoh memang berpengaruh besar dalam hidup kita, tapi orang tua tentu juga berpengaruh besar atau malah jauh lebih besar dari para tokoh itu. Bung Karno dan Bung Hatta itu pahlawan, tapi ibu kitalah yang mengandung dan melahirkan hingga mempertaruhkan nyawa, lalu menyusui, serta bersama ayah membesarkan dan mengajari kita hal-hal dasar.
Begitu besarnya pengaruh orang yang mengajari kita hal-hal dasar. Hingga ketika Syekh Ahmad Thayyib, saat menjabat sebagai Grand Syekh Al-Azhar, ditanya apa cita-citanya, ia menjawab: menjadi guru ngaji anak-anak.
Kita kadang terburu-buru nge-fans pada orang lain, tapi lupa pada orang-orang yang paling tepat untuk kita jadi fans-nya, yaitu ayah kita, guru ngaji di kampung kita, dan lain-lain.
Shin Tae Yong hebat, tapi yang ngajari saya main dan mencintai sepak bola adalah Pak Edi, guru olahraga di SD saya.
Sebelum kau pasang foto seorang habib dan kiai…
Kita kadang lupa atau tak sadar, padahal itulah prinsip menjadi kekasih Allah kata para wali, yaitu zuhud. Orang biasanya mengartikan zuhud sebagai menomorsatukan akhirat ketimbang dunia.
Padahal, zuhud juga bisa diperluas maknanya untuk selalu menomorsatukan apa yang memang seharusnya nomor satu. Jika tidak, maka kita zalim.
Makanya aneh kalau ada orang yang ziarah sunan sana-sini, hadir haul hingga ke luar negeri, tapi tak rajin ziarah dan membacakan Al-Fatihah untuk ibu, ayah, dan guru ngaji di kampungnya.
Maka, Nak, sebelum kau pasang foto seorang habib dan kiai, jangan lupa utamakan pasang foto ayahmu. Sebelum kau memaku untuk menggantung foto R.A. Kartini, pastikan foto ibumu terpampang terlebih dulu.
Dan, sebelum kau nge-fans pada Cristiano Ronaldo atau Messi, nge-fans-lah dulu pada guru olahragamu ketika kecil. Begitu juga, sebelum kau mengagumi London, mencintai New York, atau ingin berkunjung ke Paris, maka kagumilah kampungmu dan niatkan mudik ke sana.
Karena London, New York, dan Paris memang indah, tapi kau lahir, bermain, dan melalui masa terindahmu ketika kecil di kampungmu. Sebab konon Layla tak cantik di mata khalayak ramai, tapi ia tak terkalahkan cantiknya jika kau meminjam bola mata Majnun saat melihatnya.
Penulis: Husein Jafar Al Hadar
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Habib 119: Banyak Orang Butuh Pertolongan, Kesehatan Mental Malah Jadi Candaan