Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 Juni 2026
A A
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Ilustrasi - Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Ayah, ini arahnya ke mana?” Pertanyaan itu menjadi semacam romantisasi anak muda zaman sekarang yang merasa hidupnya hilang arah tanpa kehadiran sosok ayah, entah karena ayah sudah tiada maupun masih ada tapi tidak berperan semestinya (fatherless)

Namun, bagi dua narasumber laki-laki Mojok, ketidakhadiran sosok ayah tidak dibiarkan membuat mereka merasa hilang arah hidup hingga bertanya: Ayah, ini arahnya ke mana? Menemukan arah sendiri, bagi mereka, begitu lah cara hidup bekerja. 

Iklan

Tanpa sosok ayah, mengambil alih perannya hingga DO kuliah, tapi tidak merasa fatherless

Sejujurnya, sejak kecil Tomin (23), ia minta dipanggil begitu, memang tidak merasakan kedekatan emosional dengan ayahnya. Pemuda asal Bekasi, Jawa Barat, tersebut mengaku cenderung lebih dekat dengan sang ibu. 

Lebih dari itu, Tomin merasa sang ayah tidak berperan sebagaimana mestinya kepala keluarga. Itu lah yang memicu rumah tangga orang tua Tomin berpisah di awal-awal masa kuliah Tomin. 

“Sebenarnya kalau ibu sih sudah sejak lama ngerasa ngeganjel. Tapi dia pertahanin karena anak-anak kan. Ada gue, adik dua,” ujar Tomin berbagi cerita, Senin (8/6/2026). 

“Bapak gue kalau kerja ya kerja. Cuma masih kurang lah. Tapi memang orangnya problematik, keluarga bukan prioritas. Sering pakai duit buat nyenengin diri sendiri: beli alat pancing misalnya, sebelum mastiin nih adik-adik gue biaya sekolahnya udah beres belum,” sambungnya. “Sementara ibu gue juga ikut kerja kan, jadi ART.” 

Itu lah kenapa Tomin mengusahakan sendiri biaya kuliah. Sejak SMA toh ia sudah punya tabungan dari kerja paruh waktu sebagai tukang sablon. Ia awalnya kuliah di sebuah PTN di Jakarta. Ia kuliah sambil bekerja freelance di bidang digital printing, selain mengerjakan hal-hal lain yang bisa menghasilkan uang. 

Sayangnya, baru mencecap bangku kuliah, kedua orang tuanya memutuskan berpisah. Di titik itu, sebagai anak pertama dengan dua adik yang masih sekolah, ia memutuskan untuk drop out karena rasanya berat baginya untuk kuliah sambil kerja di saat ibu dan dua adiknya butuh penopang. 

“Tapi entah kenapa aku ngerasa biasa saja. Pisah ya pisah aja udeh. Terus bukan yang ngerasa, anjing gara-gara bapak gue, gue harus nanggung beban, sementara selama ini gue kayak nggak punya sandaran (sosok ayah),” kata Tomin. “Secara fisik mungkin (fatherless), tapi secara mental, nggak sih.”

Cari arah hidup sendiri 

Setelah DO dari kampus, Tomin mengambil pekerjaan penuh waktu di Bekasi, kembali di jasa digital printing. Di luar itu, sesekali online sebagai driver pesan-antar makanan. Itung-itung untuk membantu sang ibu menopang kebutuhan rumah dan adik-adik. 

“Gue memang kehilangan masa kuliah. Tapi gue nggak mau terlalu berlarut-larut sampai merasa hilang arah. Kalau arah gue di kampus akhirnya berbelok, ya harus cari arah lain,” ujar Tomin. 

Dalam narasi di media sosial yang belakangan ia dapati, banyak anak merasa seharusnya di situ lah fungsi ayah. Selain memastikan kebutuhan keluarga—ekonomi dan emosional—terpenuhi, ayah harus hadir untuk menunjukkan arah yang seharusnya anak-anaknya ambil.

Ketidakhadiran itu lah yang dianggap membuat banyak anak merasa fatherless dan hilang arah. Bingung harus menghadapi hidup bagaimana, apalagi jika situasi hidupnya berat sebagaimana yang dialami oleh Tomin. 

“Bagiku, mungkin karena dipaksa kondisi, udah nggak ada waktu buat bingung. Harus cari arah demi adik-adik,” ungkapnya. 

Iklan

“Aku merasa gue udah nggak dapat sosok ayah, maka gue nggak mau kalau adik-adik ngerasa gitu juga. Jadi gue mencoba menambal itu, mencoba jadi sosok ayah dan kakak sekaligus. Gue nggak pernah bisa belajar menjadi sosok ayah dari bapak gue, tapi gue bisa belajar sendiri, jadi ayah sang seharusnya itu kayak gimana,” lanjutnya. 

Dipaksa dewasa sebelum waktunya tapi aku bangga

Sementara Zika (20), ketiadaan sosok ayah usai meninggal karena pandemi Covid-19 membuatnya merasa dipaksa dewasa sebelum waktunya. 

Zika anak terakhir dari tiga bersaudara. Posisinya bisa dibilang sial karena tidak sepenuhnya merasakan masa kejayaan sang ayah sewaktu masih hidup. Berbeda dengan dua kakaknya yang sempat merasakan dalam kondisi aman finansial hingga bisa menuntaskan pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan bisa berumah tangga, salah satunya, juga karena support finansial dari sosok ayah. 

“Sekolahku berhenti cuma sampai lulus SMA. Aku nggak sampai hati membebani kedua kakakku yang sudah berkeluarga buat mikirin nasibku,” ujar pemuda asal Gresik, Jawa Timur tersebut. 

Untungnya, di Gresik ada banyak industri yang mau mempekerjakan lulusan SMA. Di situ lah Zika akhirnya bekerja.

“Sempat terbersit pikiran, Cok dulu kakak-kakakku kalau butuh apa-apa tinggal minta ke bapak, aku kan nggak. Kalau mau sesuatu, ya mengusahakan sendiri. Belum lagi, aku harus sudah mulai ngasih uang ke ibu, padahal ketika seusiaku kakak-kakakku masih minta ke ibu,” kata Zika. 

Meski begitu, Zika justru merasa bangga. Karena ketiadaan sosok ayah justru membuatnya menjadi tangguh lebih cepat. Persinggungan dengan realitas kehidupan orang dewasa juga membuat mental dan cara pikirnya perlahan menjadi lebih matang. 

Sosok sosok ayah yang membuka jalan, nyatanya bikin iri orang lain karena berdiri di kaki sendiri

Kalau dibilang fatherless, saya sendiri sebenarnya ada di posisi tersebut: ayah saya masih hidup, tapi kami tidak punya ikatan emosional yang begitu kuat karena bertahun-tahun ia berjarak jauh dari saya dan keluarga (kerja di Malaysia). Komunikasi kami pun dingin belaka. 

Selain itu, ayah saya juga bukan orang dengan pendidikan bagus. Hanya tamatan SD dan seorang kuli bangunan. Ia tidak terliterasi dengan banyak hal.

Dulu, saya sempat sangat iri dengan teman-teman yang punya sosok ayah yang bisa membukakan jalan untuk anak-anaknya. Misalnya, saat anak sekolah diarahkan untuk mengikuti kegiatan apa, saat anak hendak kuliah ada yang mengarahkan soal jurusan apa yang potensial, bahkan sampai kerja pun ada yang dengan mudah dapat peluang dari relasi sang ayah. 

Saya tidak punya kemewahan itu. Kondisi yang awalnya saya rutuki, tapi kemudian saya jalani. Saya mencari arah hidup sendiri, membuka jalan sendiri, dan berusaha berdiri di kaki sendiri. 

Hidup saya pada dasarnya tidak enak-enak amat. Namun, lucunya, justru ada beberapa teman—dengan privilege sosok ayah—justru menyatakan iri kepada etos hidup yang saya jalani. 

Kata mereka: saya memang hidup dalam posisi fatherless, tapi saya nyatanya tidak kehilangan arah dan mampu berdiri di kaki sendiri. Bagi mereka, kenyataan itu wajib dibanggakan. Karena mereka merasa tidak punya etos dari dalam diri sendiri yang bisa dibanggakan, karena jalan hidup mereka mudah-mudah saja karena memang sudah diarahkan dan dibukakan jalan. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan



Terakhir diperbarui pada 9 Juni 2026 oleh

Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO
Urban

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang "Hidup" buat Anak-anak. (sumber: InJourney)
Hiburan

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang “Hidup” buat Anak-anak

23 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.