Banyak orang berpikir kalau slow living di desa cuma bisa dinikmati oleh mereka yang punya banyak uang dan sudah berhasil punya rumah sendiri. Lalu, bagaimana nasib orang-orang yang memutuskan tinggal di desa, tapi posisinya masih numpang di rumah mertua?
Kenyataan ini dirasakan oleh Dimas (29). Sudah hampir lima tahun ini ia tinggal di desa istrinya, di kawasan Bantul, tepat di bawah atap rumah sang mertua.
“Karena ada satu dan lain hal, mau tak mau harus tinggal bareng mertua. Jadinya ya tiap hari bolak-balik desa ke kota kalau lagi ada job,” kata fotografer lepas ini, Senin (11/8/2026) malam.
Awalnya, Dimas mengira tinggal di rumah mertua akan membuatnya penuh tekanan, canggung, dan jauh dari kata tenang. Namun, seiring berjalannya waktu, ia sadar kalau slow living di rumah mertua tetap bisa diwujudkan, asalkan mau memegang tiga prinsip “sederhana”.
Harus melebur dengan ritme rumah, bukan melawannya
Dimas mengakui, tantangan paling berat saat tinggal menumpang mertua adalah menyamakan rutinitas. Di awal kepindahannya, ia yang terbiasa dengan gaya hidup orang kota, apalagi pekerja lepas, yang sering begadang dan baru bangun agak siang.
Sementara itu, ayah dan ibu mertuanya sudah bangun sejak jam empat subuh. Jam lima pagi, rentetan suara aktivitas rumah sudah dimulai.
“Udah pada nyapu. Nyuci. Pokoknya sibuk, agak sungkan kalau kita nggak ikut bangun,” ujarnya.
Kondisi ini sempat membuat Dimas merasa stres dan tertekan. Ia merasa punya beban moral untuk bangun lebih pagi. Awalnya, ia merasa kurang nyaman, sebab tidurnya jadi tidak pernah nyenyak karena selalu waswas dan takut telat bangun.
Sampai akhirnya, ia mengubah cara berpikirnya. Daripada stres karena terpaksa bangun dengan perasaan kesal, Dimas memilih legawa.
“Ubah mindset. Saya bangun pagi ya buat kewarasan diri saya sendiri. Ternyata, duduk diam di teras jam setengah enam pagi, menghirup udara desa yang masih dingin, apalagi sambil ngopi, ternyata tenang banget,” cerita Dimas.
Menikmati hidup tanpa pusing memikirkan cicilan KPR
Tidak punya rumah sendiri sering kali membuat seseorang merasa minder saat berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Namun, jika dilihat dari kacamata slow living, menumpang di rumah mertua sebenarnya membawa keuntungan tersendiri yang patut disyukuri.
Dimas bercerita, banyak temannya di kota yang kelihatannya sukses karena sudah punya rumah sendiri, tapi hidupnya penuh dengan tekanan. Mereka harus bekerja keras setiap hari demi bisa membayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mencekik selama 15 tahun ke depan.
“Belum lagi kalau tiba-tiba apes, ada kerusakan bangunan. Uang simpanan pasti langsung terkuras,” ungkapnya.
“Di rumah mertua, saya sama sekali nggak pusing mikirin harus bayar pajak bumi. Beban berat soal merawat bangunan itu nggak ada di pundak saya.”
Sebagai gantinya, Dimas cukup tahu diri dengan cara membantu membayar tagihan listrik bulanan, membeli token air, atau rutin membelikan beras dan lauk pauk untuk dimakan bersama.
Dengan pengeluaran yang jauh lebih ringan ketimbang harus mencicil rumah puluhan juta, keuangan keluarganya jadi jauh lebih sehat dan bisa ditabung.
Mencari “pelarian” di luar rumah
Meski beban keuangannya ringan, tinggal bersama mertua tetap saja harus mengorbankan privasi. Di rumah mertua, hampir semua ruangan adalah area publik tempat keluarga berkumpul. Seorang menantu tidak bisa seenaknya menguasai ruang televisi seharian.
Di sisi lain, terus-terusan mengurung diri di dalam kamar juga bukan pilihan yang bagus. Selain dinilai tidak sopan, tindakan itu bisa membuat mertua salah paham dan mengira menantunya malas bersosialisasi.
Untuk menyiasatinya, Dimas selalu memegang prinsip mencari “jeda” di luar rumah.
Setiap sore sepulang kerja, saat ia butuh waktu untuk menyendiri dan lari dari hiruk-pikuk obrolan rumah, Dimas tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia memilih menciptakan rutinitas kecil di luar rumah mertuanya.
Kadang ia bersepeda santai menyusuri jalanan desa. Kadang ia sekadar berjalan kaki keliling desa dan jajan di warung milik tetangga.
Rutinitas ini menjadi ruang pelariannya yang paling aman dan etis. Ia bisa mendapatkan waktu untuk memanjakan dirinya sendiri tanpa harus menyinggung perasaan orang di rumah.
Begitu lelahnya hilang dan ia kembali melangkah masuk ke rumah, pikirannya sudah segar lagi untuk ikut mengobrol dan bergurau dengan sang mertua.
“Intinya sih kita harus sadar posisi dan tahu diri saja. Hidup tenang itu nggak melulu harus diukur dari seberapa mewah rumah yang kita punya kok,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














