Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Agustus 2026
A A
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Ilustrasi Rumah di Desa (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di saat para pekerja Gen Z dan sandwich generation di kota berdarah-darah meratapi tingginya uang muka KPR, anak muda di perdesaan justru menghadapi realitas yang berkebalikan. Di desa, asal punya sedikit tabungan, sebuah rumah bisa berdiri tegak dalam hitungan tahun setelah menikah karena tak perlu pusing memikirkan harga tanah. 

Namun, kemudahan memiliki aset fisik ini tidak datang secara cuma-cuma. Ada harga yang sangat mahal dan harus dibayar setiap harinya oleh para pasangan muda tersebut, yakni hilangnya privasi dan rasa nyaman. Bahkan bikin stres. 

Iklan

Agil (28) sangat memahami ironi tersebut. Bagi pemuda ini, memiliki rumah di usia dua puluhan bukanlah sebuah pencapaian yang harus diagung-agungkan. Sebab, semua ini sudah “dikondisikan” oleh keluarga.

Di desa, orang tua membuatkan rumah buat anak yang jaraknya dekat dengan mereka

Di banyak desa, sudah menjadi rahasia umum bahwa para orang tua biasanya telah memetakan petak-petak pekarangan.  Entah itu di samping kiri, kanan, atau di area belakang rumah utama, khusus untuk dibangun oleh anak-anak mereka kelak.

Motivasinya, kalau berdasarkan pengalaman Agil, orang tua di desa punya kecenderungan protektif dan enggan melepas anaknya hidup jauh dari pantauan mereka.

“Secara finansial jujur saja itu memang terbantu banget. Kita anak-anak muda ini nggak perlu pusing mikir beli tanah yang harganya makin gila. Kita cuma tinggal fokus kumpulin uang buat beli material dan bayar ongkos tukang,” jelas Agil, Minggu (2/8/2026).

Namun, Agil tak menampik bahwa berdiri di atas tanah pemberian orang tua memunculkan beban psikologis yang cukup berat. Ada perasaan sungkan yang begitu tebal menyelimuti hari-harinya. 

Agil mengaku, meskipun rumah itu dibangun dari uangnya, ia kerap merasa bahwa dirinya sekadar “numpang” di wilayah teritorial milik orang tua. Otoritas penuh tetap terasa berada di genggaman sang bapak. 

“Rasanya seperti diawasi. Apapun yang kita lakukan itu kayak dinilai, jadi kita takut salah, nggak bebas melakukan apa saja.”

Beruntung bagi Agil dan istrinya, mereka berdua bekerja di kota. Mereka ngekos dan hanya pulang saat akhir pekan. Karena hanya pulang ke desa di hari Sabtu dan Minggu, gesekan mental itu masih bisa diredam dan ditoleransi.

Risih karena marasa selalu “dinilai” mertua

Nasib berbeda, sekaligus lebih tragis, justru dialami oleh Tio (28) yang tinggal menetap secara full-time di desa. Berbekal uang tabungan setelah menikah, Tio berhasil membangun rumah sendiri dalam kurun waktu yang terbilang singkat. 

Rumah itu berdiri kokoh di atas sepetak tanah milik keluarga istrinya mertua. Di mata orang luar, barangkali Tio adalah potret sukses pemuda desa yang mandiri. Namun, di balik itu semua, Tio justru merasa kehilangan kemerdekaan.

“Siapa yang nggak risih kalau tiap hari ‘dinilai’ terus sama mertua,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Bagi Tio, kemudahan mendapat lahan itu secara tak langsung merampas otoritas domestiknya sebagai kepala keluarga. Rumahnya seolah tidak memiliki batas teritorial dan privasi yang jelas. 

Misalnya, dan yang paling sederhana, mertua bisa masuk kapan saja tanpa merasa perlu mengetuk berbekal dalih “sudah biasa”. Intervensi demi intervensi menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari komentar soal tata letak perabotan, hingga teguran-teguran halus tapi tajam saat ia atau istrinya bangun sedikit lebih siang di hari libur.

“Kita itu berasa diawasi dua puluh empat jam. Jangankan mau melakukan hal aneh-aneh, mau santai di rumah sendiri saja merasa berdosa karena kayak orang nggak ada kerjaan kalau di mata mertua,” keluh Tio. 

Budaya rukun di desa yang keblinger bikin batas privasi hilang

Lebih parah lagi, penderitaan Tio tidak berhenti di rumah. Tinggal menetap di desa berarti harus siap sedia menanggung beban komunal bernama srawung.

Tio buru-buru menegaskan bahwa dirinya sama sekali bukan pemuda yang anti-sosial. Ia sadar betul bahwa hidup bertetangga di desa memang mutlak membutuhkan interaksi. Masalahnya, budaya komunal di desa sering kali tak mengenal waktu dan cenderung menabrak batasan privasi secara serampangan.

Iklan

“Bukan nggak mau srawung, tapi kadang intensitasnya itu terlalu over dan lupa waktu. Waktu yang niatnya buat istirahat di rumah habis buat ngladeni tetangga ngobrol,” ujarnya.

Hal yang paling membuat Tio stres adalah ketika obrolan basa-basi para tetangga perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyenggol ranah paling personal. Bagi keluarga muda seperti Tio, pertanyaan dari tetangga sering kali melewati batas kewajaran tanpa mereka sadari. 

Dari yang sekadar bertanya soal gaji dan rutinitas harian, hingga mulai mencecar urusan sangat sensitif seperti, “Kapan isi?”, “Kok belum punya momongan juga?”

“Kalau sudah kayak gitu sebenarnya malas mau nanggapin. Tapi kan nggak mungkin juga aku marah.”

Tio pun sadar bahwa di desa, membangun rumah bagi pasangan muda memang jauh lebih mudah diwujudkan selama ada tanah warisan. Namun, ia dipaksa sadar bahwa rumahnya bisa digunakan untuk membeli ruang privat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2026 oleh

Tags: Budaya srawung desaDesaGen Z beli rumahhidup di desakehidupan di desaKeluarga muda di desaPrivasi keluarga mudapunya rumah di desarumahrumah di desatinggal di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

19 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.