Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Maret 2026
A A
Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO

Ilustrasi - Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sepanjang hidup (setidaknya hingga saat ini) saya tidak pernah mendapat banyak tuntutan bersifat materiil dan standar sukses tertentu dari orang tua. Terutama ibu. Namun, karena sudah bertahun-tahun merantau, ada pertanyaan dan permintaan ibu yang membuat batin saya kerap nelangsa dan dirundung rasa bersalah. 

***

Minggu (25/3/2026) siang ibu dan adik saya mengunjungi saya dan istri di Jombang, Jawa Timur. Dari Rembang, Jawa Tengah, mereka diajak bareng oleh tetangga yang mudik ke rumah mertua di Jombang. Perjalanan berangkat itu cenderung lebih enak karena tetangga membawa mobil pribadi. 

Lalu pada Senin (26/3/2026) siangnya, saya melepas ibu dan adik saya pulang. Saya sebenarnya menahan agar ibu pulang esok harinya. Namun, ibu memang tipikal orang yang tidak bisa menginap lama-lama di rumah yang bukan rumahnya sendiri. 

Yang beda dari waktu berangkat, kepulangan ibu siang itu harus menempuh perjalanan yang melelahkan: naik bus Bagong reyot dari Jombang ke Babat (perbatasan Babat-Tuban) selama 3 jam. Kemudian pindah bus rute Surabaya-Semarang menuju Rembang selama 2,5 jam. 

Rasa bersalah yang menyerang setelahnya…

Persis ketika bus Bagong melaju meninggalkan terminal, perasaan bersalah langsung menyerang batin saya. 

Perasaan bersalah di permukaan lebih karena faktor materiil: gara-gara saya tidak kunjung membeli mobil—karena sejauh ini belum merasa butuh dan orang tua pun tidak pernah menuntut ini—saya malah jadi menyusahkan ibu. 

Karena seandainya saya punya mobil sendiri, saya pasti bisa leluasa membawa anak dan istri melakukan perjalanan lintas kota-lintas provinsi. Walaupun ibu, sama seperti saya, mengaku lebih suka naik transportasi umum selagi kebutuhan akan mobil pribadi tidak urgen-urgen banget. 

Saat pamit pulang siang itu, setelah mencium pipi kiri dan pipi kanan saya, ibu justru merasa merepotkan saya dan istri hanya karena kami keluar uang makan selama ia menginap, ongkos pulang ibu dan adik, dan bingkisan yang kami bawakan kepadanya. 

Begitulah ibu. Padahal anak-anaknya yang kerap merepotkan dan menyusahkannya, tapi malah ia yang selalu merasa mengganggu kehidupan anak-anaknya. 

Adapun perasaan nelangsa dan bersalah yang paling dalam di batin saya, setidaknya selama saya merantau, adalah dari pertanyaannya yang selalu tidak bisa saya jawab sekaligus permintaan yang entah kapan bisa saya penuhi. 

“Libur/di rumah sampai kapan?”, pertanyaan ibu sepanjang saya merantau yang sederhana tapi berat dijawab

Jauh sebelum menikah, selama saya merantau untuk bekerj, pertanyaan ini cukup sering ditanyakan ibu. Biasanya di malam kedua saya di rumah, saat saya sedang duduk sendiri di teras sembari mengisap rokok. 

Jawaban dari pertanyaan tersebut sepintas amat enteng belaka. Saya bisa menjawab apa adanya: misalnya, libur tiga hari, atau di rumah sampai tanggal sekian. Akan tetapi, yang berat adalah reaksi ibu setelah menerima jawaban tersebut. 

Jika kepulangan saya sangat sebentar, ibu biasanya akan langsung menjawab, “Lah kok cepet”/”Lah kok cuma sebentar di rumah”. Lalu yang tersisa di wajahnya adalah guratan kesedihan, karena hanya punya waktu singkat dengan anaknya. Sementara kalau sudah kembali ke kota, anaknya butuh waktu lama untuk pulang lagi. 

Iklan

Itulah yang membuat jawaban dari pertanyaan sederhana ini menjadi terasa berat dijawab. Sering kali saya hanya bisa menambahi keterangan: “Gimana lagi, rezekinya dari merantau, jadi ya lebih banyak di kota orang ketimbang rumah sendiri.”

“Kapan pulang?”, pertanyaan ibu yang tidak pernah bisa saya jawab dengan pasti

Sejak merantau untuk kerja hingga berkeluarga, pertanyaan ibu tentang “pulang” tidak pernah bisa saya jawab dengan pasti. 

Persoalannya lebih karena kesibukan (sok sibuk). Karena kalau soal budget pulang, selama ini itu tidak pernah menjadi persoalan bagi saya. Punya atau tidak punya uang, saya tetap bisa pulang. 

Apalagi setelah berkeluarga dan sama-sama merantau, pertanyaan “Kapan pulang?” (maksudnya pulang ke Rembang) menjadi pertanyaan yang makin sulit dijawab. Karena saya juga harus membagi waktu untuk pulang ke rumah orang tua istri di Jombang. 

Bagi saya dan istri, selagi ada waktu, WAJIB hukumnya menjenguk orang tua satu sama lain. Sedapat-dapatnya waktu yang tersedia. 

Beberapa kali istri sengaja mengatur kepulangan sendiri-sendiri (saya ke Rembang sendiri, istri ke Jombang sendiri). Semata karena ia ingin memberi saya ruang untuk bertemu dengan ibu di Rembang (ah, banyak hal bijak dari istri yang selalu membuat saya meleleh).

Namun, lama-lama saya juga merasa bersalah dengan istri kalau sering-sering membiarkannya melakukan perjalanan Jogja (tempat kami merantau sekarang) ke Jombang sendirian. 

Permintaan yang entah kapan terpenuhi

Pertanyaan “Kapan pulang?”, di hari-hari ini, kemudian disertai ibu dengan satu permintaan yang membuat saya merasa semakin sedih dan nelangsa. 

Di desa kami di Rembang, ibu dan bapak sebenarnya sudah menyediakan satu rumah untuk saya dan istri tinggali (meski ibu tahu, saya dan adik adalah orang yang tidak pernah peduli soal warisan). Karena ibu selalu berharap, kelak ada masanya saya berhenti merantau untuk menetap di desa. 

Maka ia kerap berbisik, kalau bisa suatu saat saya diminta meninggali rumah tersebut. 

Saya sungguh ingin menetap di rumah tersebut. Namun, ada banyak hal yang harus saya persiapkan kalau memutuskan pulang ke desa. Misalnya plan atau modal untuk hidup setelah berhenti merantau. 

Masalahnya, sekalipun punya modal memadai, tapi Rembang adalah kota setengah sekarat. Betapa banyak orang Rembang memilih merantau untuk mencari penghidupan di kota orang. Karena Rembang nyaris tidak memberi banyak kemungkinan baik.

Jika permintaan tinggal di Rembang itu keluar dari ibu, saya hanya mentok di dua jawaban:

  1. “Ya sementara ini rezekinya masih merantau.” Atau jawaban paling buruk:
  2. “Kalau tinggal di Rembang belum tahu mau ngapain.”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: duka perantauibumerantauperantau
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Semester 5 kuliah: Masa paling overthinking kepikiran ortu dan masa depan, percuma cari pelarian MOJOK.CO

Semester 5 Kuliah: Masa paling Overthinking bagi Mahasiswa karena Kepikiran Ortu dan Masa Depan, Percuma Cari Pelarian

5 Mei 2026
undangan pernikahan versi cetak atau digital jadi perdebatan di desa. MOJOK.CO

Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi

30 April 2026
WHV di Australia ternyata berat. MOJOK.CO

Kerja Mati-matian di Australia, Tabungan Sampai Setengah Miliar tapi Nggak Bisa Dinikmati dan Terpaksa Pulang usai Kena Mental

4 Mei 2026
Ciri orang toxic yang harus di cut off. MOJOK.CO

5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita

6 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.