Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Maret 2026
A A
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Ilustrasi - Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. (Generated AI Gemini/Prompt by Aly Reza)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Utang bank untuk membeli mobil keluarga sebenarnya tidak pernah masuk dalam daftar ambisi hidup. Namun, tuntutan mertua membuat hal itu harus dilakukan dengan membeli Suzuki Ertiga. Tapi pada akhirnya justru ribet dan sia-sia. 

***

Dudul (32), minta disebut begitu, kerap menatap kosong mobil Suzuki Ertiga bekas tahun 2016 yang terparkir di garasi kecil rumahnya. Sebab, mobil tersebut menjadi saksi betapa sia-sianya hidup jika hanya untuk memuaskan orang lain. 

Sebelum memiliki mobil tersebut, Dudul sebenarnya sempat memiliki mobil pick-up pemberian sang bapak. Mobil pick-up itu rasa-rasanya jauh lebih fungsional untuk menunjang aktivitasnya sebagai pelaku UMKM di Jawa Barat. 

Itulah kenapa awalnya ia tidak terpikir untuk memiliki mobil keluarga. Toh kalau untuk mobilitas sehari-hari bersama istri dan satu anaknya, ia masih bisa menggunakan motor. 

Namun, Dudul mengaku lama-lama gerah juga. Sebab, ia sering menerima sindiran dari mertuanya yang memang punya kecenderungan materiil. Maklum, “orang punya”.

Terus-menerus menerima sindiran dari mertua perkara mobil keluarga

Hubungan Dudul dengan mertua memang tidak begitu dekat. Sejak awal sang mertua memang tidak begitu setuju dengan hubungan Dudul dengan istri (anak mertua). Perkaranya adalah perbedaan latar belakang ekonomi keluarga. 

Meski pada akhirnya merestui, tapi itu lebih karena bujuk rayu istri Dudul. Selebihnya, sejak menikah pada 2022 hingga sekarang, hubungan Dudul tidak kunjung membaik. Bahkan sekalipun Dudul sudah memberi cucu. 

Akan tetapi, Dudul harus menerima sindiran demi sindiran merendahkan dari mertua. Terutama dari ibu mertua. 

“Kami memang tinggal terpisah (dari mertua). Tapi setiap dua pekan sekali begitu istri sering ngajak main ke rumah, karena memang nggak terlalu jauh. Aku nggak masalah sebenarnya. Gimana-gimana namanya orang tua kan,” ujar Dudul, Kamis (19/3/2025). 

Hasilnya, setiap kali pulang dari rumah mertua, pasti memberi Dudul luka. Sindiran-sindiran yang Dudul terima misalnya: 

“Masih naik motor aja? Panas loh ini/Mendung loh ini, nanti kehujanan.”

“Dulu ya, istri kamu kalau naik mobil pasti ketiduran. Karena nyaman.”

“Oh bawa pick-up.”

“Mama-ayah pengin sesekali jalan-jalan sama kalian. Pakai mobil keluarga punya kalian. Kalau sama kakak-kakakmu (dua kakak istri Dudul) kan sudah sering.” 

Untuk sindiran yang terakhir itu, Dudul pernah spontan merespons, “Pakai mobil ayah nanti saya yang sopiri.” “Kan penginnya pakai mobil kalian,” jawab si ibu mertua dengan mimik wajah menyebalkan. 

Jual pick-up peninggalan bapak hingga utang bank demi beli mobil Suzuki Ertiga

Sebenarnya berkali-kali istri Dudul menyergah orang tuanya, agar tidak terus-menerus menyinggung mobil keluarga kepada Dudul. Toh istri Dudul sudah merasa cukup dengan hidup yang ia jalani bareng suaminya tersebut. 

Hanya saja, mertua Dudul memang sudah terlanjur dibutakan materi. Begitu kalau kata Dudul. Sehingga sergahan anak sendiri tidak mempan. 

Iklan

“Istri sebenarnya juga sering bilang ke aku, nggak usah masukin hati. Biarin aja. Dia bilang, sebagai anak cuma berusaha tetap terjalin hubungannya dengan orang tua. Hanya di situ. Tapi soal mobil-mobil pribadi, itu abaikan. Tapi lama-lama aku gerah,” ungkap Dudul. 

Alhasil, karena muak, merasa harga dirinya diinjak-injak, pada 2024 lalu Dudul memutuskan menjual pick-up pemberian bapaknya itu. Tentu setelah melewati diskusi alot dengan sang istri. 

Sang istri menolak keras rencana Dudul. Sementara Dudul, setelah diskusi dengan keluarganya sendiri, merelakan pick-up pemberian sang bapak dijual. Pertimbangan keluarga Dudul bukan semata persoalan harga diri. Tapi kalau Dudul punya mobil keluarga, pasti lebih mengenakkan Dudul dan anak-istri. 

“Panjang lah itu (debat sama istri). Tapi akhirnya tetap kejual. Laku ya Rp15 jutaan. Nggak dapet kan kalau beli mobil keluarga. Solusinya adalah utang bank. Ini nih bagian yang ditentang istri. Ngapain utang bank buat sesuatu yang nggak produktif? Kata dia begitu,” ujar Dudul.

“Ya biar nggak terus disindir mertua lah. Lagi pula, aku bisa utang bank atas nama pelaku usaha. Bayar cicilannya juga kan ada pemasukan, maksudnya aku bukan pengangguran atau pekerja serabutan. Terus sedari awal memang niat cari mobil keluarga yang murah-murah aja. Jadi utangnya nggak gede,” bebernya. 

Dari situ terbeli lah Suzuki Ertiga bekas tahun 2016 di harga Rp130 jutaan. Rekomendasi itu Dudul dapat setelah ngobrol dengan istri dan keluarga Dudul. Tidak mungkin juga beli baru karena alasan itung-itungan tenor cicilan tadi. 

Mobil Suzuki Ertiga tetap tidak bisa puaskan mertua

Kenyataannya, mobil keluarga Suzuki Ertiga tersebut tetap tidak memuaskan mertua Dudul. 

Pertama, sudah Suzuki Ertiga, bekas pula. Sementara mobil mertua dan kakak-kakak ipar Dudul adalah Toyota Avanza. Bahkan mobil pribadi kakak ipar pertama Dudul—yang seorang PNS—adalah Innova. 

“Kupikir beli Xpander atau HR-V gitu, Dul,” respons ibu mertua. Pada saat itu, Dudul hanya bisa saling tatap dengan sang istri. Batinnya semakin tegores.

Setelah kejadian itu pun sempat terjadi perdebatan dengan istri. Istri mengungkit kalau ia sudah mencegah Dudul untuk memberi makan ekspektasi mertua. Sementara Dudul membantah kalau ini semua ia lakukan karena muak dengan sikap mertua yang selalu merendahkan Dudul. 

Kedua, meski berlabel mobil keluarga, tapi kenyamanan mobil Suzuki Ertiga untuk perjalanan bersama keluarga memang kerap dikeluhkan. Mulai dari performa mesin, kursi yang tidak nyaman di punggung dan pantat, hingga soal bagasi yang sangat sempit. 

Belum lagai, dalam persoalan mobil bekas Dudul, saat pertama kali dibeli kondisi AC-nya memang tidak terlalu terasa. Maka, alih-alih bakal ada agenda jalan-jalan keluarga—sebagai momen akurnya menantu-mertua—yang terjadi justru penghinaan yang semakin menjadi-jadi. 

Berujung ribet dan sia-sia

Ujung dari membeli mobil Suzuki Ertiga bekas 2016 itu: jelas membuat hidup Dudul semakin ribet. Sebab, setelah itu, sering kali terjadi cekcok dengan istri karena persoalan sikap mertua.

Selain itu, ribet juga karena setiap bulan harus bayar cicilan ke bank gara-gara barang yang ternyata tidak terlalu Dudul perlukan. Sudah tidak bisa memuaskan mertua, tidak terlalu fungsional juga untuk keperluan angkut-angkut keperluan dagangan. 

Lebih-lebih, mobil keluarga tersebut dibeli dengan mengorbankan pick-up pemberian bapak: saksi masa-masa awal sang bapak merintis usaha yang kemudian bakat wirausaha itu diturunkan pada anak-anaknya—termasuk ke Dudung. 

“Kayaknya emang sampai kapan pun aku nggak bakal bisa bener-bener diterima mertua. Tapi karena terlanjur beli, aku mencoba mensyukurinya karena bisa lah buat ngangkut keluargaku sendiri,” ujar Dudul. Walaupun keluarga Dudul tidak pernah menuntut Dudul untuk ini-itu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2026 oleh

Tags: Ertigamobil ertigaMobil keluargamobil Suzukipilihan redaksisuzuki ertiga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Unpad: riset kampus bukan sekadar untuk lulus. MOJOK.CO

Sarjana di Indonesia Banyak tapi Riset Ilmiahnya Nggak Guna

13 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Hyrox. MOJOK.CO

Panduan Selamat sebelum Menjajal Hyrox agar Nggak Celaka: Dari Latihan Angkat Beban sampai Tips Punya Asuransi Jiwa

9 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.